Tidak Ada Tanam Padi Serempak Bikin Populasi Burung Pipit di Sleman Meningkat

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman berencana memasang jaring untuk burung pipit atau emprit pada Juni mendatang. Burung emprit ini dinilai sebagai hama yang mengganggu panen padi petani.
Sebelumnya, Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia (Wagleri) mengecam langkah DPRD Sleman yang mendorong anggaran pembuatan jaring di atas tanaman padi milik warga.
Kepala DP3 Kabupaten Sleman Heru Saptono menjelaskan bahwa pemasangan jaring itu untuk pengendalian, bukan pembasmian seperti yang dikhawatirkan. Dalam uji coba tersebut akan dilihat baik dan buruknya kebijakan ini dilangsungkan.
"Mulai Juni uji coba. Tahun anggaran ini ada 6 lokasi di Tempel sama di sebagian Turi. Baru pertama kali sebelumnya belum pernah," kata Heru melalui sambungan telepon, Jumat (26/3).
Heru menjelaskan bahwa populasi burung pipit ini meningkat karena tidak adanya tanam padi serempak. Dengan begitu sepanjang tahun ada padi yang menjadi pakan burung pipit.
"Sebetulnya kalau pola tanam serempak tidak sebegitu luas serangan emprit tadi. Tapi karena pola tanam enggak serempak justru itu yang menjadikan keberadaan burung emprit semakin banyak karena sepanjang tahun tersedia makanan," katanya.
Ketika tanam serempak diterapkan, sebelum musim tanam tidak ada pakan bagi burung pipit. Secara alamiah jumlah mereka akan kurang sendiri.
Burung Emprit Hama No 3 Setelah Tikus dan Wereng
Heru menjelaskan, berapa jumlah kerugian petani akibat burung pipit ini memang belum dihitung. Namun, petani mengeluh burung pipit selalu ada sepanjang tahun.
"Ketika tidak ada makanan, burung emprit mengalami kematian. Karena pola tanam tidak serempak tadi menjadikan keluhan itu ada sepanjang tahun dan jumlah makin banyak," ujarnya.
Dari cerita para petani, burung pipit ini jadi hama nomor tiga setelah tikus dan wereng. Jika ada metode lain untuk mengendalikan burung pipit, menurut Heru, adalah tanam serempak itu sendiri.
"Mungkin kalau suatu saat kita bisa menginisiasi masyarakat untuk tanam serempak," katanya.
Tantangan Tanam Padi Serempak
Hanya saja tanam serempak ini tidak semudah yang diucapkan. Heru mengatakan butuh infrastruktur hingga irigasi yang baik.
"Pola tanam serempak itu kadang gampang diucapin tapi susah untuk dilaksanakan. Ini perlu beberapa infrastruktur seperti alat mesin pertanian, ketersediaan air, dan lain sebagainya. Irigasi juga perlu disinkronasikan," ujarnya.
Soal adanya pegiat konservasi yang menentang kebijakan ini, Heru mengatakan bahwa pihaknya siap bersama-sama mengevaluasi pada masa uji coba ini. Termasuk pula menggandeng sejumlah pakar.
Sleman memiliki 18.137 hektar sawah dengan hasil panen kurang lebih 200 ribuan ton. Dari jumlah itu dikonsumsi populasi 1 juta orang penduduk Sleman sekitar 150 ribuan ton.
"Sleman sebagai salah satu kabupaten di DIY yang berfungsi sebagai lumbung padinya DIY," kata Heru.
