Tidak Mudah Berteman dengan Harimau

Berteman dengan manusia saja sulit, apalagi jika berteman, bercengkrama dan bersenda gurau dengan binatang liar seperti harimau.
Cerita manusia yang berani mendekati atau bahkan bercanda dengan harimau memang sudah tidak asing. Ada banyak cerita yang memperlihatkan bagaimana hewan buas tersebut juga bisa jadi teman peliharaan yang lucu.
Tapi, tentu kedekatan ini bukan tanpa alasan. Biasanya mereka yang sudah lama berinteraksi dengan hewan tersebut akan jadi terbiasa dengan kehadiran masing-masing.
Salah satu cerita persahabatan manusia dan harimau datang dari Malang, Jawa Timur, Indonesia. Seorang pria bernama Abdullah Sholeh membuat geger tak hanya Indonesia, namun juga seluruh dunia, dengan pertemanannya bersama seekor harimau Benggala betina yang diberi nama Mulan.
Mulan dirawat Abdullah sejak berusia 3 bulan dan terus tumbuh menjadi harimau dewasa berbobot 178 kilogram dengan panjang 3 meter. Keduanya sangat dekat dan sering bermain bersama di halaman rumah Abdullah di desa Dilem, Kepanjen, Jawa Timur, Malang.
Cerita lainnya datang dari keeper harimau di Taman Safari Indonesia bernama Tati. Ditemui kumparan (kumparan.com) pada Rabu, 15 Maret lalu, Tati menceritakan bagaimana ia serasa punya ikatan batin dengan Satya, harimau jantan yang ia jaga di Taman Safari.
“Saya sering menceritakan keluh kesah atau masalah saya di rumah sama Satya. Pokoknya kalau saya ada masalah Satya biasanya nggak mau nurut sama saya. Dia seperti membaca keresahan hati saya,” ujar Tati.
(Baca juga: Harimau Benggala Si Tangguh yang Terancam Punah)

Sama seperti Abdullah, Tati juga merawat Satya sejak harimau tersebut masih bayi. Interaksi yang terjadi selama bertahun-tahun ini membuat harimau yang ia jaga terbiasa dengan keberadaan sosok yang ia kenal.
Setiap hari Tati yang sudah menjadi keeper harimau sejak 2001 ini 'mengasuh' dan menjaga Satya. Memberi makan dan memastikan Satya tidak mengalami stres dengan mengajaknya berjalan-jalan di sekitar Taman Safari Indonesia.
Tati juga menjelaskan bagaimana setiap keeper punya harimau masing-masing untuk dijaga. Hal ini dilakukan karena masing-masing keeper sudah memahami karakter harimau yang mereka jaga.
“Mungkin ada semacam ikatan batin,” tambah Tati.

Cerita Tati dan Abdullah memberikan gambaran bahwa berteman dengan hewan liar tidak semudah yang dibayangkan. Keduanya harus sudah terlibat dan berinteraksi langsung dalam waktu yang cukup lama hingga bertahun-tahun. Keduanya juga tetap mewaspadai insting alami harimau yang mereka jaga untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.
Karena meski sudah lama dirawat oleh manusia, kedua harimau tersebut tetap memiliki insting alam untuk memburu mangsa atau melawan saat terdesak. Jadi jika Anda tidak berpengalaman jangan coba-coba mendekati hewan buas ini ya!
