Timor Leste-Australia Sepakati Sengketa Perbatasan Laut yang Kaya Gas

Timor Leste dan Australia akhirnya menyepakati sengketa perbatasan laut yang kaya gas di Laut Timor. Pengolahan ini juga mencakup pembagian hasil dari pengolahan gas lepas pantai Greater Sunrise yang selama ini mangkrak.
Dikutip Reuters, kesepakatan ini diumumkan oleh Mahkamah Arbitrase Antarabangsa pada Senin (26/2) menyusul perundingan kedua negara yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk pertama kalinya, kedua negara berhasil menyepakati garis batas maritim di Laut Timor.
Perundingan sebelumnya selalu menemui jalan buntu karena Australia menginginkan garis batas sejajar dengan landas kontinennya. Namun Timor Leste menginginkan garis batas ditarik seimbang di tengah negaranya dan Australia. Jika demikian, berarti ladang gas Greater Sunrise akan lebih banyak berada di wilayah Timor Leste.
Akibat sengketa kedua negara, perusahaan minyak dan gas pengelola Greater Sunrise yaitu Woodside Petroleum, ConocoPhillips, Royal Dutch Shell, dan Osaka Gas menghentikan operasinya.

Ladang Greater Sunrise diperkirakan menyimpan cadangan gas alam hingga 5,1 triliun kubik kaki dan 226 juta barel kondensat senilai hingga USD 40 miliar. Namun pengembangan masih membutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun. Woodside lebih optimistis, mengaku mampu mengembangkan dalam setengah dekade.
Berdasarkan kesepakatan perbatasan, pembagian penghasilan di Greater Sunrise tergantung pemasukan hilir yang muncul dari "konsep pengembangan yang berbeda".
Ini berdasarkan kesepakatan tahun lalu ketika Australia setuju atas usul Timor Leste untuk tidak membagi rata penghasilan gas di Greater Sunrise dan menetapkan waktu 50 tahun untuk menyelesaikan perbatasan laut secara permanen.
Timor Leste dilaporkan akan menerima hingga 80 persen pemasukan dari ladang gas tersebut. Negara ini juga meminta fasilitas pemrosesan di pantai untuk meningkatkan perekonomian ketimbang di lepas pantai.
Rencananya Timor Leste dan Australia akan bertemu lagi di markas PBB di New York pada 6 Maret untuk menandatangani perjanjian perbatasan maritim baru. Kesepakatan ini membuat perusahaan minyak gembira. Woodside berharap akan segera keluar regulasi yang jelas terkait aktivitas mereka di Laut Timor.
