TPA Piyungan Bantul Akan Tutup Permanen, Sudah Tak Bisa Tampung Sampah Lagi
·waktu baca 2 menit

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Piyungan yang berada di Kabupaten Bantul, DIY, akan ditutup permanen bulan April mendatang lantaran tak lagi bisa menampung sampah.
Selama ini, TPA Piyungan menampung sampah dari Kota Yogya, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman.
"Rasionya dengan kalkulasi matematisnya kan transisi 1 sudah kita sepakati awal ya. Terus kita membuka untuk nampung (lokasi di) transisi 2. Hitungan matematisnya sudah tidak bisa lagi menampung timbunan sampah dari tiga wilayah. Sehingga kita melakukan penutupan," kata Sekda DIY Beny Suharsono ditemui di Kantor DPRD DIY, Selasa (5/3).
Peletakan batu pertama penutupan atau pemagaran TPA Regional Piyungan akan dilakukan pada sore hari nanti.
"Kenapa penutupan, karena tidak mungkin lagi ada ruang yang memadai untuk pembuangan sampah," katanya.
Beny mengatakan, sebelum jauh bicara penutupan, sudah ada langkah konkret penanganan sampah antara Pemda DIY, Pemkot Yogya, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman.
"3 wilayah itu bersiap diri untuk menyiapkan kerangka atas tindakan penutupan di TPA Piyungan," katanya.
"Sekaligus nanti akan dimulai untuk pengelolaan sampah di salah satu tempat di sana oleh kota, jadi kota minta kerja sama dengan provinsi untuk memanfaatkan hanggar yang tidak digunakan di sana untuk memproses sampah supaya tidak ada timbunan sampah di kota," ujarnya.
Sementara itu di Kabupaten Sleman sampah akan dikelola di Tamanmartani. Lalu akan ada juga pengelolaan di Minggir. Sementara di Bantul kata Beny sudah ada di Panggungharjo yang tinggal ditingkatkan saja.
Hanya Terima Sampah Sampai April
Beny mengatakan TPA Piyungan ini masih bisa menampung sampah dari 3 kabupaten kota.
"Sampai April kita bisa menerima. Sampai akhir April. Sudah lock itu. Sudah ketinggian (sampahnya) itu berbahaya untuk lingkungan," katanya.
Pasokan maksimal per hari ke TPA Piyungan adalah 750 sampai 800 ton sampah. Namun saat ini bisa ditekan hingga separuhnya.
"Makanya pelan-pelan di kota pasokan dikurangi terus. Itu upaya untuk memperpanjang usia di sana sebetulnya. Selagi kabupaten kota menyiapkan diri untuk melakukan pemrosesan sampah. Jadi caranya ngulur itu bukan karena apa-apa tapi harus ada upaya konkret," katanya.
