Tragedi Sekeluarga Tewas di Glamping Temanggung: Piknik, Diduga Keracunan Gas

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Evakuasi jenazah korban glamping maut Posong, Temanggung. Foto: Dok. RSUD Kabupaten Temanggung
zoom-in-whitePerbesar
Evakuasi jenazah korban glamping maut Posong, Temanggung. Foto: Dok. RSUD Kabupaten Temanggung

Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak meninggal dunia saat glamping di daerah wisata Posong, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Keempat korban yakni, ayah Muhamad Ali Munawar (52 tahun), ibu Maghfirah (43 tahun), anak sulung Bagas Amar Hakiki (21 tahun), serta anak bungsu mereka Alvino Evan Hakim (16 tahun).

Mereka diduga meninggal dunia setelah keracunan gas.

Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan dugaan keracunan gas itu menguat setelah penyidik menemukan gas portable yang digunakan korban untuk memasak.

"Kemungkinan ada dua, dari gas portable itu sama gas setelah bakar-bakar. Jadi setelah barbeque-an karena langsung tidur, setelah dia bakar-bakar langsung ditutup pintunya," kata Mahendra kepada wartawan, Kamis (28/5).

Ia menjelaskan, kondisi tenda glamping yang relatif tertutup diduga membuat sirkulasi udara tidak berjalan maksimal sehingga gas terperangkap di dalam ruangan.

"Posisi bbq-an memang agak ke luar tapi kemungkinan masuk (ke tenda). Jadi ada dua kemungkinan," jelas dia.

Sebelumnya, dugaan awal polisi sekeluarga itu tewas karena keracunan makanan. Namun, dugaan itu terbantahkan karena tak ditemukan bekas sisa makanan yang dimuntahkan.

Menurut polisi, ciri-ciri awal penyebab kematiannya pun lebih mirip dengan keracunan CO2.

"Tidak ada muntahan, tidak ada perlawanan, jadi ciri khasnya gas CO2 ini lemas, lemas, ngantuk, ngantuk, tiba-tiba hilang," ungkap Mahendra.

Kondisi Jenazah Saat Ditemukan

Polisi saat melakukan evakuasi jenazah satu keluarga yang meninggal dunia saat glamping di Posong, Temanggung. Foto: Dok. Polres Temanggung

Dari foto yang diterima kumparan, kondisi keempat jenazah sedang terbaring di atas kasur di dalam tenda glamping. Tak tampak ada busa yang keluar dari mulut keempatnya.

Meski begitu, telapak tangan dari tiga anggota keluarga itu tampak mengepal. Sementara, tangan salah satu jenazah tak terlihat karena tertutup selimut.

Kini, jenazah keempatnya telah dievakuasi. Sementara, polisi masih melakukan penyelidikan.

Isak Tangis di Rumah Duka

Kedatangan jenazah satu keluarga yang meninggal dunia saat camping di Temanggung, di Desa Kebumen, Kecamatan Banyibiru, Kabupaten Semarang. Foto: Dok. Istimewa

Kedatangan empat jenazah satu keluarga itu disambut isak tangis para pelayat di rumah duka yang terletak di Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Jeenazah kemudian langsung disalatkan dan dimakamkan.

Salah satu kerabat para korban, Muhamad Khoerudin (50) mengatakan, keluarga besar menerima kabar duka pada Rabu (27/5) malam. Keempat korban disebut meninggal dunia karena keracunan.

"Saya dapat kabar meninggal tadi malam jam 22.00. Saudara nembusi ke tempat saya. Informasi yang saya dengar katanya keracunan," ujar Khoerudin, Kamis (28/5).

Namun, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari aparat kepolisian terkait penyebab pasti meninggalnya para korban.

"Tapi, untuk menyatakan keracunan atau tidak dari pihak rumah sakit nanti. Ini lagi diautopsi. Nanti pihak RS dan kepolisian yang tahu persis keracunan atau tidak," jelas Khoerudin.

Suasana rumah duka satu keluarga yang meninggal dunia saat camping di Temanggung, di Desa Kebumen, Kecamatan Banyibiru, Kabupaten Semarang, Kamis (28/5/2026). Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan

Sementara itu, adik kandung Maghfirah, Ashadi (51) mengaku tidak mendapat firasat apa pun. Namun sang adik sempat mengatakan akan pergi berwisata.

"Kemarin adik-adik pada main ke tempat saya. Dia enggak ikut, katanya mau jalan-jalan. Tapi enggak bilang mau ke mana," kata Ashadi.

Satu keluarga itu awalnya menginap di tenda glamping di objek wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sejak Selasa 26 Mei 2026.

Namun, keesokan harinya atau pada Rabu (27/5) tidak ada respons padahal waktu sewa habis. Petugas lalu terpaksa membuka pintu pada pukul 15.30 WIB dan menemukan keempat korban sudah terbujur kaku.

Dermawan dan Suka Berkurban

Suasana rumah duka satu keluarga yang meninggal dunia saat camping di Temanggung, di Desa Kebumen, Kecamatan Banyibiru, Kabupaten Semarang, Kamis (28/5/2026). Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan

Salah satu kerabat korban, Yuliana, mengatakan keluarga tersebut dikenal dermawan. Mereka bahkan baru berkurban pada Idul Adha kemarin.

"Orangnya baik, sangat dermawan. Selalu kurban, kemarin baru saja kurban dua ekor kambing," kata Yuliana saat di rumah duka, Kamis (28/5).

Yuliana menyebut keluarga itu juga baru saja selesai merenovasi rumah orang tuanya. Tujuannya agar saat berkumpul dengan saudara bisa lebih nyaman.

"Baru selesai renovasi rumah bagian belakang, buat lesehan. Biar enak kalau kumpul," jelas dia.

Selain itu, keluarga tersebut juga kerap mengulurkan tangan untuk orang-orang yang membutuhkan.

"Iya baik sekali, sangat baik. Saya juga masih kaget, nggak percaya, kayak baru kemarin masih ketemu, semuanya masih sehat," ucap Yuliana sambil mengusap air matanya.

Salah satu teman sekelas Alvino, Lala, mengaku sangat terpukul dengan kepergian sahabatnya tersebut.

"Orangnya baik banget. Aku dapat kabar tadi malam kalau dia meninggal," terang Lala.

Anak Sulung Kuliah di UGM dan Jadi Fotografer Keraton Yogya

Bagas Amar Hakiki mahasiswa UGM yang meninggal dunia bersama keluarganya di Glamping di Posong, Temanggung merupakan fotografer di Keraton Yogyakarta. Foto: Dok. Keraton Yogyakarta

Bagas Amar Hakiki, anak pertama dari keluarga tersebut dan berstatus mahasiswa Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM angkatan 2022.

Selain itu, Bagas juga merupakan fotografer lepas di Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta.

Hal itu dibenarkan oleh Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno.

"Betul, Mas Bagas salah satu fotografer kami di Kawedanan Tandha Yekti. Fotografer lepas, tapi masuk dalam tim inti dokumentasi. Tim dokumentasi kami sebagian abdi dalem, sebagian freelance," kata Kartiutami saat dihubungi, Kamis (28/5).

Kartiutami menceritakan, Bagas awalnya merupakan salah satu peserta program magang di Kawedanan Tandha Yekti pada 2024.

"Lalu kemudian dari magang tersebut kami melihat keahlian fotografinya yang mumpuni, sehingga setelah masa magangnya satu tahun selesai, Bagas bersama dua orang teman lainnya menjadi bagian dari tim dokumentasi KTY sebagai fotografer lepas," ujarnya.

Kartiutami menyampaikan, di Keraton, Bagas dikenang sebagai pribadi yang senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan.

"Kami sangat kehilangan sekali, bukan hanya kehilangan salah satu fotografer terbaik kami, tapi juga kolega, rekan, adik, sahabat baik," katanya.

UGM Sampaikan Belasungkawa

Ilustrasi kampus UGM. Foto: Reezky Pradata/Shutterstock

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Yogyakarta, Prof. Dr. Setiadi, menyampaikan ucapan belasungkawa atas peristiwa tersebut.

"Menurut berita yang kami dengar seperti itu. FIB sangat berduka atas meninggalnya mahasiswa kami," kata Setiadi, Kamis (28/5).

Bagas merupakan mahasiswa Sastra Prancis angkatan 2022. Korban juga menjabat sebagai Ketua Unit Fotografi UGM periode 2023/2024.

UGM berharap hasil penyelidikan polisi dapat memastikan penyebab meninggalnya Bagas. Di sisi lain, pihaknya juga masih menunggu hasil penyelidikan.

"Semoga hasil penyelidikan dari polisi bisa memastikan penyebab meninggalnya Mas Bagas. Saat ini kami masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian," imbuhnya.