Tragedi Tsunami Banyuwangi 1994 dari Kaca Mata Saksi Hidup
ยทwaktu baca 2 menit

Pada 3 Juni 1994, tsunami setinggi 13,9 meter menyapu daratan pesisir Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, gelombang air itu mengagetkan warga.
Saat gelombang datang, Nasikin, warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, sedang menonton pagelaran wayang di hajatan pernikahan di Pulau Merah. Pulau itu hanya berjarak 1 kilometer dari rumahnya.
Dalang wayang itu membawakan cerita 'Rahwana Jadi Ratu'. Sosok angkara murka itu dikisahkan menjadi ratu dengan jutaan pengikut. Lakon Rahwana menyebarkan kebencian hingga menyebabkan malapetaka.
Kisah dalam lakon itu seolah pertanda datangnya bencana. "Tiba-tiba saja air laut langsung seperti tumpah dan menyapu seluruh penonton," kenang Nasikin, Kamis (3/6).
Gelombang air itu langsung menyapu apa yang ada di pinggir pantai. Termasuk tempat pagelaran tersebut. Warga, tumbuhan, dan benda-benda lainnya digulung oleh gelombang tsunami.
Di tengah terpaan gelombang itu, tubuh Nasikin ikut tersapu. Badannya menyangkut di pohon kelapa. Ia kemudian memanjat pohon tersebut untuk menghindari tingginya air.
"Saat tersapu air laut, saya berhasil menyelamatkan diri. Kebetulan, saya tersangkut di batang pohon kelapa. Langsung saya naik ke atas," imbuhnya.
Susulan gelombang tersebut berdatangan. Bangunan rata dengan tanah. Puing-puing berserakan. Dari atas pohon kepala, Nasikin melihat air laut menghanyutkan tubuh manusia.
"Orang-orang teriak. Allahuakbar, Allahuakbar. Tolong-tolong. Semuanya teriak, setelah gelombang kedua datang sudah tidak ada lagi teriakan," katanya.
Hampir 30 menit, Nasikin bertahan di batang pohon kelapa. Ia kemudian turun untuk mencari bantuan. Saat tiba di rumah, tak ada lagi bangunan. Semuanya lenyap.
"Saya cepat-cepat pulang, lari sekuat tenaga. Ya Allah, kampung saya sudah rata dengan tanah. Terus di mana anak istri saya," imbuhnya.
Mental Nasikin terguncang. Tangisannya pecah. Ia lari ke masjid untuk mengadu dan berharap kepada Tuhan agar keluarganya selamat.
"Saya lari ke Masjid, dan ketemu anak istri selamat. Ya Allah terima kasih sudah menyelamatkan keluarga saya, saya langsung bersembah sujud waktu itu," kenangnya.
Tempat sujud Nasikin hingga kini masih kokoh. Tak ada kerusakan sedikit pun. Padahal rumah warga porak-poranda.
Akibat tragedi ini, sebanyak 229 orang meninggal dunia. Puluhan korban dilaporkan hilang. Nasikin adalah salah satu korban selamat yang kini masih hidup.
Musibah tsunami ini juga menjadi perhatian pemerintahan kala itu. Presiden Soeharto dan Menteri Penerangan Harmoko melakukan kunjungan ke lokasi bencana tsunami Banyuwangi dengan membawa bantuan.
Dalam kunjungan tersebut, Soeharto mengadopsi 5 anak korban tsunami. Keseluruhan anak tersebut merupakan anak nelayan korban tsunami Banyuwangi yang kehilangan seluruh keluarganya.
Untuk mengenang bencana ini, monumen dibuat di pesisir selatan Bumi Blambangan. Warga di Banyuwangi juga menjadikan Jumat Pon sebagai hari berdoa bersama sekaligus hari libur bagi nelayan setempat.
