Trump Cekcok dengan Presiden Afsel di Gedung Putih, Dipicu Genosida Kulit Putih
·waktu baca 3 menit

Lagi-lagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump adu mulut dengan pemimpin negara lain yang sedang melawat ke Gedung Putih. Kali ini Trump cekcok dengan Presiden Afsel Cyril Ramaphosa.
Pertemuan Trump dan Cyril Ramaphosa digelar di Gedung Putih pada Rabu (21/5) waktu setempat. Di tengah pertemuan, Trump memutar video perihal genosida orang kulit putih di Afsel.
Trump lalu meyampaikan tuduhan bahwa warga kulit putih di Afsel, khususnya petani, mengalami perampasan lahan bahkan dibunuh. Awal Mei ini Trump memberikan suaka bagi 50 warga kulit putih Afsel yang kabur dari persekusi.
Aksi Trump menayangkan video berdurasi empat menit dilakukan saat wartawan masih ada di dalam tempat pertemuan, Ruang Oval.
Pada video yang diminta Trump untuk ditayangkan, terdapat rekaman seorang politikus kulit hitam Afsel menyerukan penganiayaan terhadap warga kulit putih.
"Anda mengizinkan mereka mengambil tanah, dan kemudian ketika mereka mengambil tanah itu, mereka membunuh petani kulit putih, dan ketika mereka membunuh petani kulit putih itu, tidak ada yang terjadi pada mereka," kata Trump kepada Ramaphosa seperti dikutip dari AFP.
Trump lalu menunjukkan kliping berita yang menunjukkan dugaan pembantaian terhadap kulit putih. Setelah dicek secara independen, salah foto ditampilkan Trump adalah kejadian di Republik Demokratik Kongo, bukan Afsel.
“Kematian, kematian, kematian mengerikan,” ucap Trump saat melanjutkan pembicaraannya.
Melihat aksi Trump, Ramaphosa nampak sempat terkejut. Tapi, Ramaposha memilih tetap tenang dan menghindari pertikaian besar seperti yang terjadi antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky apda Februari lalu.
Ramaposha hanya menyampaikan bantahan perihal perampasan tanah milik petani kulit putih.
“Tidak, tidak, tidak, tidak ada seorang pun dapat merampas tanah,” ujar Ramaposha.
"Kami pada dasarnya di sini untuk mengatur ulang hubungan antara Amerika Serikat dan Afrika Selatan,” sambung dia.
Ramaposha lalu menyebut video ditampilkan Trump berasal dari kelompok oposisi. Kemudian Ramaposha menjelaskan bahwa korban tindak kriminal paling tinggi di negaranya adalah kelompok kulit hitam bukan kulit putih.
Elon Musk
Klaim genosida terhadap kulit putih sudah dilontarkan Trump sebelum pertemuannya dengan Ramaposha. Klaim yang dasar dan buktinya masih dipertanyakan itu turut didukung miliarder Elon Musk.
Saat ini Elon Musk adalah kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) bentukan Trump. Selain memegang kewarganegaraan AS, Musk merupakan kelahiran Afsel.
Musk diketahui punya hubungan kurang baik dengan Pemerintahan Afsel yang dipimpin Ramaposha. Apalagi Musk pernah menuduh bahwa Starlink, kepunyaannya, dilarang beroperasi di Afsel lantaran dirinya tak berkulit hitam.
Regulator telekomunikasi Afsel membantah tuduhan Musk. Mereka menegaskan Starlink belum dapat beroperasi karena perusahaan itu belum mengajukan lisensi resmi.
