Trump Klaim Kemenangan Lawan Iran, Sindir Inggris Telat Bergabung

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS telah memulai operasi tembur besar-besaran terhadap Iran, mengikuti serangan bersama Israel yang disampaikan sebagai upaya menumpas ancaman dari rezim Iran, Sabtu (28/2/2026). Foto: Dok. Donald Trump via Truth Social/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS telah memulai operasi tembur besar-besaran terhadap Iran, mengikuti serangan bersama Israel yang disampaikan sebagai upaya menumpas ancaman dari rezim Iran, Sabtu (28/2/2026). Foto: Dok. Donald Trump via Truth Social/Handout via REUTERS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (8/3) mengklaim negaranya telah unggul dalam konflik melawan Iran dan menyatakan tidak membutuhkan bantuan dari Inggris.

Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan terbaru antara Washington dan London, setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sempat menahan dukungan langsung terhadap operasi militer AS di kawasan.

Menurut Reuters, Trump menilai Starmer merusak hubungan kedua negara setelah London memblokir penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS untuk menyerang Iran.

Trump juga menyindir langkah Inggris yang baru mempertimbangkan keterlibatan setelah konflik memanas.

“Kami tidak membutuhkan orang yang bergabung dalam perang setelah kami sudah memenangkannya,” kata Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Postingan Presiden AS Donald Trump mengklaim kemenangan atas konflik dengan Iran, menyinggung keterlambatan bantuan PM Inggris. Foto: Dok. Truth Social

Ia juga menyebut Inggris sedang mempertimbangkan mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah. Namun, Trump menegaskan AS tidak membutuhkan bantuan tersebut untuk menghadapi Iran.

Trump bahkan mengatakan dirinya akan mengingat sikap Inggris yang tidak memberikan dukungan sejak awal operasi militer.

“Saya akan mengingat kurangnya dukungan Inggris selama konflik dengan Iran,” tulisnya.

Sementara itu, Reuters melaporkan pemerintah Inggris menyatakan sikap hati-hati diambil karena mempertimbangkan aspek hukum dan strategi sebelum terlibat lebih jauh dalam konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah.