Trump: Mungkin Suatu Hari Nanti Ukraina Akan Jadi Bagian dari Rusia
·waktu baca 3 menit

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap kemungkinan Ukraina menjadi bagian dari Rusia saat membahas perang dengan Moskow dalam wawancara dengan Fox News yang tayang Senin (10/2).
Mereka mungkin membuat kesepakatan, mereka mungkin tidak membuat kesepakatan. Mereka mungkin menjadi bagian dari Rusia suatu hari nanti, atau mereka mungkin bukan bagian dari Rusia suatu hari nanti,” kata Trump seperti diberitakan Guardian.
Pernyataannya muncul menjelang pertemuan Wakil Presiden AS JD Vance dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Konferensi Keamanan Munich pekan ini.
Meski melontarkan pernyataan seperti itu, Trump menekankan pentingnya pengembalian investasi dari bantuan AS ke Ukraina, dengan menyebut bahwa Washington harus menerima imbalan seperti mineral langka dari Kiev.
“Kami mengirimkan banyak uang ke sana, dan saya ingin sesuatu kembali. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya ingin tanah jarang senilai USD 500 miliar, dan mereka pada dasarnya setuju,” ujarnya.
Trump juga mengkonfirmasi rencana pengiriman utusan khususnya, Keith Kellogg, ke Ukraina untuk merancang proposal penghentian perang.
Sementara Zelensky terus mendorong jaminan keamanan dari AS dalam setiap kesepakatan dengan Rusia.
Kiev khawatir tanpa komitmen militer yang kuat—seperti keanggotaan NATO atau pengerahan pasukan penjaga perdamaian—Moskow hanya akan memanfaatkan jeda perang untuk mempersiapkan serangan baru.
Juru bicara Zelensky, Sergiy Nikiforov, mengatakan Presiden Ukraina akan bertemu dengan Wapres Vance di Munich pada Jumat (14/2).
Seorang sumber di kantor Zelensky menyebut Kellogg dijadwalkan tiba di Ukraina pada 20 Februari, menjelang peringatan tiga tahun invasi Rusia.
Dalam pidato video yang dipublikasikan di media sosial, Zelensky menekankan perlunya “perdamaian sejati dan jaminan keamanan efektif” bagi Ukraina.
“Keamanan rakyat, stabilitas ekonomi, dan ketahanan sumber daya kita tidak hanya penting bagi Ukraina, tetapi juga bagi dunia bebas,” katanya.
Trump berulang kali menyatakan keinginannya menjadi perantara perdamaian, tetapi belum mengajukan rencana konkret untuk membawa kedua pihak ke meja perundingan.
Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin sejauh ini sama-sama menolak dialog langsung.
Moskow menuntut Ukraina menarik pasukan dari wilayah selatan dan timur yang masih berada di bawah kendali Kiev, serta menolak hubungan lebih erat Ukraina dengan NATO.
Di sisi lain, Zelensky menolak memberikan konsesi teritorial, meskipun mengakui kemungkinan solusi diplomatik untuk mengembalikan beberapa wilayah.
Rusia mengeklaim telah mencaplok lima wilayah Ukraina—Krimea pada 2014, serta Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia pada 2022—meski kendali atas daerah-daerah itu belum sepenuhnya mutlak.
Zelensky mengatakan sedang merencanakan pertemuan dengan Trump, meski jadwalnya belum ditetapkan.
Trump sendiri menyebut “mungkin” akan bertemu dengan Zelensky dalam beberapa hari mendatang, tetapi menepis kemungkinan perjalanan langsung ke Kiev.
New York Post melaporkan bahwa Trump telah berbicara dengan Putin untuk membahas cara mengakhiri perang. Menurut laporan itu, Putin menyatakan ingin melihat “orang-orang berhenti sekarat”.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak mengkonfirmasi atau membantah percakapan tersebut.
Konferensi Keamanan Munich dijadwalkan berlangsung 14-16 Februari, dengan delegasi AS mencakup Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Kellogg, dan Vance.
Tidak ada perwakilan Rusia dalam forum tersebut.
