UGM Duga Gas Hidrogen dari Limbah Ayam Picu Kebakaran 'Misterius' Rumah Sleman
ยทwaktu baca 3 menit

Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM merilis kesimpulan sementara terkait puluhan kebakaran misterius yang terjadi di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Tim yang dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi ini menemukan pemicu api berasosiasi dengan gas hidrogen.
"Kesimpulan sementara, keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen," kata Alva dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6).
Dugaannya, gas hidrogen ini berasal dari fermentasi limbah pemotongan ayam. Diketahui, pemilik rumah memiliki usaha pemotongan ayam yang berada di samping rumah sisi utara.
"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya.
Lanjutnya, ada kemungkinan gas hidrogen itu bertemu dengan gas yang mudah terbakar pada suhu kamar.
"Sangat dimungkinkan, bersama dengan gas hidrogen tersebut ada gas lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin (PH3), yang diduga bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam," katanya.
"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," katanya.
Rekomendasi dari UGM
Peneliti UGM pun mengeluarkan rekomendasi terkait peristiwa ini sebagai berikut:
Sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya.
Pasang blower dan/atau kipas angin untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api.
Mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah.
Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen.
Penelusuran UGM Sebelumnya
UGM meneliti di lokasi tersebut dari 30 Mei sampai 3 Juni.
Awalnya, UGM mendapat informasi dari Gegana Polda DIY bahwa terdeteksi adanya gas CH4 atau metana pada titik munculnya api.
"Kamera termal yang dibawa tim UGM mengindikasikan adanya anomali suhu pada lokasi munculnya api, namun tidak signifikan, hanya berkisar sampai 29 derajat Celsius. Artinya, suhu di area rumah dan sekitarnya masih berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," katanya.
Pada 1 Juni, tim PKPE FT UGM melakukan deteksi gas.
Anomali gas yang terbaca cukup tinggi adalah gas H2 (hidrogen). Pada lokasi kamar mandi yang sempat keluar api, terbaca sampai 0,11.
"Pada waktu yang sama, terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen yang sangat tinggi, sampai 0,40," katanya.
Pada Rabu, 3 Juni, pengukuran kembali dilakukan dengan alat lain dari Fakultas Teknik Kimia.
"Tidak terdeteksi adanya gas yang mudah terbakar selain gas hidrogen. Tim beranggapan bahwa kunci dari penyelesaian masalah ini adalah mengetahui sumber gas. Terdapat dua kandidat sumber gas, yaitu limbah cair atau gas tanah," katanya.
Lebih lanjut, tim akan memastikan keberadaan gas dalam tanah dengan melakukan penggalian dangkal di beberapa titik dan mengukur keberadaan gas. Sementara itu, dugaan sumber gas dari limbah cair masih dalam tahap analisis laboratorium.
