Upaya Diplomasi Negara-Negara Dunia Hentikan Perang di Gaza

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Palestina yang mengungsi dari Gaza utara akibat operasi militer Israel, bergerak ke selatan di sepanjang area yang hancur setelah pasukan Israel memerintahkan penduduk Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan, di Jalur Gaza tengah, (23/9). Foto: REUTERS/Mahmoud Issa
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina yang mengungsi dari Gaza utara akibat operasi militer Israel, bergerak ke selatan di sepanjang area yang hancur setelah pasukan Israel memerintahkan penduduk Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan, di Jalur Gaza tengah, (23/9). Foto: REUTERS/Mahmoud Issa

Kondisi Gaza dan pengakuan negara Palestina menjadi sorotan dalam Sidang Umum ke-80 PBB di markasnya, New York, Amerika Serikat. Pertemuan para pemimpin dunia itu membahas berbagai cara untuk menghentikan serangan Israel ke Gaza yang merupakan bagian dari Palestina.

Pengakuan terhadap negara Palestina juga kini bertambah. Menjelang Sidang Umum PBB terdapat 10 negara yang mengakui negara Palestina. Pengakuan terbaru datang dari Kanada, Australia, Inggris, Portugal, Prancis, Malta, Belgia, Luksemburg, Andorra, serta Monako.

Dengan begini tinggal 34 negara anggota PBB yang belum mengakui Palestina, termasuk Amerika Serikat (AS). Sikap Trump itu disinggung oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Presiden Prancis Emmanuel Macron di markas besar PBB di New York, Senin (22/9) waktu setempat. Foto: Ludovic Marin/AFP

Menurut Macron, Trump harus menghentikan konflik di Gaza jika ingin mendapat nobel perdamaian. Trump diketahui sebelumnya merasa berhak atas nobel perdamaian karena telah menjadi perantara perdamaian atau gencatan senjata.

"Saya melihat seorang presiden Amerika yang terlibat, yang mengulangi pernyataannya pagi ini dari podium: 'Saya ingin perdamaian. Saya menyelesaikan 7 konflik', yang menginginkan Penghargaan Nobel Perdamaian. Penghargaan Nobel Perdamaian baru bisa didapat jika anda menghentikan konflik," kata Macron dikutip dari Reuters, Rabu (24/9).

Macron menilai Trump bisa mendesak Israel untuk menghentikan serangan ke Gaza. Sebab dia penyuplai senjata yang memungkinkan perang terjadi.

"Hanya ada satu orang yang dapat melakukannya, dan orang itu adalah Presiden AS," ujar Macron.

"Dan alasan dia dapat melakukannya lebih dari kita karena kita tidak memasok senjata yang memungkinkan perang di Gaza. Kami tidak memasok peralatan yang memungkinkan perang di Gaza. Amerika Serikat yang melakukannya," tambahnya.

kumparan post embed

Serukan untuk Segera Bertindak

Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP

Presiden Prabowo Subianto saat berpidato dalam Sidang Umum PBB juga menyerukan agar dunia mengambil tindakan menyelesaikan konflik di Gaza. Ia bilang yang terjadi di Gaza ialah tragedi yang mengerikan sehingga diperlukan tindakan segera.

"Anak-anak kita sedang menyaksikan. Mereka belajar soal kepemimpinan bukan dari buku teks, melainkan dari pilihan-pilihan kita. Hari ini, tragedi yang mengerikan di Gaza terjadi di depan mata kita. Mereka yang tak berdosa menangis meminta pertolongan, keselamatan. Siapa yang akan menyelamatkan mereka? Siapa yang akan menyelamatkan orang tua, perempuan, anak-anak? Jutaan menghadapi bahaya, trauma, dan kelaparan. Apakah kita bisa tetap diam?" ujarnya.

Lebih lanjut, Prabowo menekankan bencana kemanusiaan di Gaza harus segera dihentikan dengan membangun kekuatan bersama-sama melalui forum multilateral untuk menjadikan dunia lebih baik.

"Kita harus bertindak sekarang. Kita harus memperjuangkan tatanan multilateral di mana perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bukan hak istimewa segelintir, melainkan hak semua," tutur Prabowo.

"Dengan PBB yang kuat, kita bisa membangun dunia di mana yang lemah tidak menderita karena kelemahannya, tetapi hidup dengan keadilan yang layak mereka terima," tambahnya.

kumparan post embed

Trump Gelar Multilateral Meeting on the Middle East

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menghadiri Multilateral Meeting on the Middle East atas undangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025) waktu setempat. Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Trump juga memanfaatkan berkumpulnya pemimpin-pemimpin negara di New York untuk menggelar Multilateral Meeting on the Middle East. Pertemuan itu dihadiri secara terbatas oleh negara-negara yang dipandang dapat membantu mewujudkan proses perdamaian di Timur Tengah, di antaranya soal Gaza.

Presiden Prabowo menjadi salah satu undangan dalam pertemuan itu. Selain itu juga hadir di antaranya, Emir Qatar Syekh Tamim ibn Hamad Al Thani, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly.

"Ini akan menjadi pertemuan yang sangat penting. Pertemuan ini akan mempertemukan para pemimpin besar dari bagian dunia yang sangat penting, yaitu Timur Tengah. Dan kita ingin mengakhiri perang di Gaza. Kita akan mengakhirinya," ujar Presiden Trump membuka pertemuan dalam keterangan dari Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Menurut Trump pertemuan ini adalah yang paling penting dari seluruh rangkaian agendanya di PBB.

"Inilah pertemuan yang sangat penting bagi saya karena kita akan mengakhiri sesuatu yang seharusnya mungkin tidak pernah terjadi. Terima kasih banyak, semuanya. Kami sangat menghargainya," pungkasnya.

kumparan post embed

Desak Israel Buka Jalur Medis

Tentara Israel berdiri di samping kendaraan tempur lapis baja (APC) di dekat perbatasan Israel-Gaza, di Israel, Selasa (16/9/2025). Foto: Amir Cohen/REUTERS

Negara-negara Barat juga mendesak Israel untuk membuka jalur medis antara Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Langkah itu diambil karena kondisi kesehatan di Gaza yang kritis.

Desakan tersebut disampaikan melalui pernyataan bersama yang dirilis Kanada. Selain Kanada, ada 19 negara lainnya yang menandatangani pernyataan itu, di antaranya Austria, Belgia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Uni Eropa, dan Polandia. AS tidak masuk dalam daftar yang menandatangani pernyataan itu.

"Kami sangat mendesak Israel untuk memulihkan koridor medis ke Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sehingga evakuasi medis dari Gaza dapat dilanjutkan dan pasien mendapatkan perawatan yang sangat mereka butuhkan di wilayah Palestina," kata pernyataan bersama itu, dikutip dari Reuters, Selasa (23/9).

"Kami juga mendesak Israel untuk mencabut pembatasan pengiriman obat-obatan dan peralatan medis ke Gaza," kata pernyataan itu.