Usai Terima Pengungsi Kulit Putih, Trump Akan Bertemu Presiden Afsel Pekan Depan
ยทwaktu baca 3 menit

Presiden Donald Trump dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dijadwalkan bertemu di Gedung Putih pekan depan. Pertemuan Trump dan Ramaphosa dijadwalkan digelar pada 21 Mei mendatang.
Pertemuan ini dilakukan setelah AS menerima pengungsi kulit putih Afsel, yang disebut Afrikaner. Ini merupakan rencana relokasi besar terhadap petani Afrikaner minoritas yang diklaim oleh Trump dipersekusi di tanah kelahirannya karena ras mereka.
Tuduhan Trump itu dibantah oleh Afsel. Mereka mengatakan, warga kulit putih di Afsel tidak pernah jadi sasaran persekusi.
Ramaphosa akan berada di AS dari Senin (19/5) hingga Kamis (22/5) pekan depan dan bertemu dengan Trump pada Rabu di Gedung Putih. Kantor kepresidenan Afsel menyebut, pertemuan itu untuk menata kembali hubungan antara kedua negara.
Gedung Putih tidak segera memberikan komentar terkait rencana pertemuan itu. Jika terlaksana, maka ini pertama kalinya Trump bertemu dengan pemimpin negara Afrika di masa jabatan keduanya.
Dikutip dari AP, Kamis (15/5), Trump mengkritik pemerintah Afsel di berbagai bidang dan mengeluarkan keputusan presiden pada 7 Februari untuk memotong semua dana AS ke Afsel sebagai hukuman atas apa yang dia sebut kebijakan anti kulit putih dan kebijakan luar negeri anti Amerika.
Trump menyoroti undang-undang yang dia tuduh rasis terhadap warga kulit putih dan menuduh pemerintah Afsel memicu kekerasan terhadap petani kulit putih. Pemerintah Afsel mengatakan pembunuhan terhadap petani kulit putih yang jumlahnya relatif kecil patut dikutuk, namun itu merupakan bagian dari masalah kejahatan kekerasan yang terjadi di sana dan motifnya bukan ras.
Pada Senin (12/5) kemarin โ di hari yang sama saat gelombang pertama pengungsi Afrikaner tiba di Bandara Internasional Dulles di Virginia โ Trump mengatakan terjadi genosida terhadap petani kulit putih dan diabaikan oleh media internasional.
UU antikulit putih yang dituduhkan AS merujuk pada UU tindakan afirmatif Afsel yang memajukan kesempatan bagi warga kulit hitam dan UU perampasan tanah baru yang memberikan pemerintah kuasa untuk mengambil alih lahan pribadi tanpa kompensasi.
Meski pemerintah Afsel mengatakan UU tanah itu bukan alat penyitaan dan merujuk pada lahan yang tak digunakan dan dapat didistribusikan kembali untuk kepentingan umum, sejumlah kelompok Afrikaner mengatakan UU itu memungkinkan tanah mereka bisa disita dan didistribusikan ke sebagian besar penduduk mayoritas kulit hitam.
Afrikaner merupakan keturunan para pemukim kolonial Belanda, Prancis, dan Jerman yang datang ke Afsel pada abad ke-17. Mereka adalah pemimpin sistem apartheid di negara itu.
Ada sekitar 2,7 juta Afrikaner di antara populasi Afsel yang berjumlah 62 juta orang โ 80% merupakan warga kulit hitam. Ada juga sekitar 2 juta orang kulit putih keturunan Inggris dan lainnya di Afsel.
Ramaphosa telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk menjalin hubungan diplomatis dengan Trump dan meningkatkan hubungan. Dia mengatakan, kritik Trump didasarkan pada informasi palsu tentang hukum di Afsel dan serangan terhadap petani.
