Video: Menyoal Keabsahan dan Keamanan Pengobatan Akhir Zaman
·waktu baca 6 menit
Pengobatan Akhir Zaman Al Kasaw, terapi tanpa obat berbasis biomenika yang “terinspirasi” dari ayat-ayat Al-Quran, terindikasi bermasalah setelah tiga tahun belakangan berkembang pesat. Kantor pusatnya, Griya Sehat Ayub Camp, di Klaten, Jawa Tengah, ternyata tak mengantongi izin praktik pelayanan pengobatan tradisional/alternatif, baik secara perorangan maupun kelompok.
Tak hanya itu, terapis-terapis PAZ di Ayub Camp juga tidak memiliki Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) sebagai salah satu syarat mengurus izin praktik. Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Klaten meminta PAZ Al Kasaw untuk tidak membuka praktik pelayanan maupun pelatihan kepada masyarakat sampai proses perizinannya selesai.
Namun, PAZ Al Kasaw tak hanya berlokasi di Klaten. Griya-griya terapi PAZ yang didirikan oleh ratusan alumni pelatihan PAZ (PAZtrooper) telah tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Dan griya-griya itu tetap beroperasi karena larangan praktik sementara hanya ditujukan kepada PAZ Al Kasaw Pusat di Ayub Camp.
“Terapis-terapisnya belum ada perizinan. Karena mereka lebih dari satu, harusnya berkelompok sebagai panti sehat—itu juga belum ada izinnya. Itu diatur dalam Permenkes Nomor 61 Tahun 2016 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris,” kata Kabid Yankes Dinkes Klaten dr. Tri Nyantosani Widyawardani kepada kumparan.
STPT adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Penyehat Tradisional yang telah mendaftar untuk memberikan pelayanan kesehatan tradisional empiris.
Perkara PAZ alpa mengurus perizinan ini hanya puncak gunung es dari setumpuk kontroversi yang selama ini mengitari terapi besutan almarhum Ustaz Haris Moejahid itu. Berbagai polemiknya dapat disimak pada video berikut:
Griya Sehat PAZ Ayub Camp kini tengah mengurus Surat Terdaftar Penyehat Tradisional yang disyaratkan Dinkes. Mereka menyebut, beberapa griya PAZ di wilayah lain sesungguhnya telah mengurus STPT, namun lewat organisasi profesi lain, bukan organisasi profesi di bawah naungan PAZ yang bernama Perkumpulan Alumni Pelatihan Kesehatan Al Kasaw. PAPKA sendiri saat ini tengah mengajukan perizinan sebagai organisasi profesi resmi ke Kemenkes.
“Alumni pelatihan PAZ yang berniat buka terapi akan bergabung dengan PAPKA sebagai organisasi profesi PAZtrooper. Kami mau bantu urus STPT lewat PAPKA dan masih nunggu [perizinan PAPKA sebagai organisasi profesi]. Ini belum keluar izin [bagi PAPKA] untuk mengeluarkan STPT. Qadarullah kejadiannya begini,” ujar Aslam Askarullah, trainer PAZ Pusat.
Bukan cuma soal keabsahan, pilihan kata “pengobatan” pada nama PAZ pun disoal Dinkes Klaten. Menurut Kepala Dinkes Klaten dr. Cahyono Widodo, M. Kes., Pengobatan Akhir Zaman Al Kasaw seharusnya tidak menamai metode terapinya dengan diksi “pengobatan”.
“Wong dia enggak menggunakan obat kok [dalam terapinya], jadi nggak boleh pakai judul ‘pengobatan’. Itu sama saja dengan memupuk tanaman enggak pakai pupuk,” kata Cahyono usai inspeksi ke Kantor PAZ Al Kasaw Pusat, pertengahan Januari 2023.
Soal perizinan dan nama hanyalah dua dari berbagai blunder yang kini menghantam PAZ yang menyandang jargon “tanpa obat, tanpa alat, tanpa jimat, dan tanpa operasi.” Masih banyak perkara-perkara lain ihwal PAZ yang memantik suara sumbang dari berbagai kalangan—yang akhir-akhir ini kian kencang muncul di media sosial.
“Yang menjadi keberatan saya adalah bahwa PAZ memanipulasi ayat Al-Quran dan hadis nabi untuk dijadikan landasan metode pengobatan mereka; juga sikap PAZ yang sangat antipati dengan medis modern; dan orang yang hanya ikut pelatihan dua hari lalu tiba-tiba mengeklaim bisa menyembuhkan semua jenis penyakit—ini klaim yang terlalu berani dan membahayakan nyawa manusia.”
“Niatnya bagus, untuk kemaslahatan umat. Tapi seiring berjalannya waktu, sekali pelatihan bisa 200 orang, saya gerah. Itu sudah pasti ada niat [cari] uang. Kalau terlalu banyak peserta, ada risiko ilmu tidak tersampaikan dengan baik ke semua orang, tidak terserap sempurna, sehingga kalau salah diagnosa bisa malapraktik, merusak tubuh orang, bahaya.”
“PAZ itu overclaim—selalu menyebarkan testimoni yang notabene pernyataan sepihak. Ini juga bisnis qadarullah. Kalau pasiennya mati disebut ‘qadarullah.’ Luar biasa menghina Islam. Mereka juga mendiskreditkan obat, mengatakan obat adalah racun. Ini harus diluruskan karena membuat masyarakat takut minum obat di saat mereka membutuhkannya.”
“Tujuan bedong untuk menghangatkan bayi, agar bayi nyaman seperti dipeluk ibunya. Tapi PAZ mengeklaim bedong bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. [Klaim itu] membahayakan karena membuat anak-anak yang membutuhkan pengobatan rutin, seperti epilepsi, jadi menghentikan pengobatannya dengan anjuran ‘cukup dibedong saja’.”
PAZ bukannya tidak punya jawaban atas kritik tajam yang deras bermunculan. Mereka selalu memberikan jawaban, baik melalui medsos maupun situs web resminya, PAZ Indonesia.
“Dibedong itu menguatkan otot-otot. Dengan diagnosa PAZ yang tepat, setiap tindakan (bentuk lipatan kaki) saat proses bedong memiliki efek terapeutik ke saraf tulang belakang. Ketika bayi dibedong dengan cukup kuat, dia menangis dan meronta-ronta, menggerakkan tulang belakang, panggul. Pergerakan ini secara tidak langsung melatih kekuatan pada rangka dan tulang belakang bayi… Bedong bayi bisa membantu keluhan pneumonia, asma, down syndrome, lumpuh layuh, kaki kaku, cerebral palsy, tindakan repetitif pada anak autis, amandel, epilepsi, hidrosefalus tahap dini, jantung bocor, terlambat berjalan/berbicara, mata bengkak sebelah, dll.”
“Overclaim asal muasalnya dari ‘bahasa-bahasa’ orang yang kami terapi. Dia cerita kepada orang lain sembuh setelah diterapi. Dimaknai sebagai overclaim itu di luar kapasitas kami. Yang kami pelajari cuma memperbaiki struktur tubuh. Adapun kalau keluhan ikut membaik, alhamdulillah… Tak semua yang diterapi PAZ sembuh. Enggak ada klaim begitu. Jangan kesalahan satu PAZtrooper digebyah-uyah ke semua.
“PAZ Pusat mengelola pelatihan PAZ Al Kasaw dengan spirit entrepreneurship, untuk mendakwahkan pengobatan islami ala PAZ dengan mandiri dan tidak bergantung kepada sponsor… Di luar pelatihan berbayar, ada banyak program keumatan gratis yang bisa diakses oleh alumni pelatihan PAZ dan umat Islam secara keseluruhan. Pengelolaan dana juga ditujukan untuk membantu organisasi alumni (nonprofit) dalam membina PAZtrooper dan proyek-proyek kemasyarakatan lain.
“Ayat-ayat Al-Quran sebatas inspirasi yang didapat oleh founder PAZ dalam menemukan metode PAZ. Kami akui ini rawan dengan penyikapan berlebihan… seakan mempraktikkan PAZ adalah mempraktikkan ayat atau menyakralkan metode pengobatan… Maka dengan ini kami menegaskan bahwa metode PAZ adalah suatu cara pengobatan yang murni tajribah (eksperimen) atau riset dari founder PAZ, UHM (Ustaz Haris Moejahid), bukan bentuk pelaksanaan atau penafsiran ayat. Melakukan atau meninggalkan [pengobatan PAZ] tidak berkonsekuensi pada menerapkan atau meninggalkan ayat-ayat Al-Quran.
Persoalan mendasar yang memicu perdebatan tanpa akhir tentang Pengobatan Akhir Zaman dapat ditelaah dalam laporan berikut:
Sementara riwayat PAZ dan bisnisnya yang mekar dengan cepat dapat disimak di sini:

