Viral Palestina 'Dihapus' dari Peta Google dan Apple

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menunjukkan peta Palestina saat pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (11/2). Foto: REUTERS / Shannon Stapleton
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menunjukkan peta Palestina saat pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (11/2). Foto: REUTERS / Shannon Stapleton

Baru-baru ini media sosial ramai dengan kabar wilayah negara Palestina yang dihapus dari peta milik Google dan Apple.

Informasi tersebut mendapat kecaman dari warganet setelah pesan itu viral di media sosial dan grup WhatsApp.

X post embed

Namun kabar itu bukan perkara baru. Pasalnya, masalah ketiadaan negara Palestina dalam peta Google telah ramai diperbincangkan sejak pertengahan 2016 beserta tagar yang diusung #PalestineIsHere dan menjadi trending topic.

Narasi Palestina dihapus dari peta Google dan Apple juga tidak sepenuhnya benar. Lantaran sebenarnya, Palestina tidak dihapus dari peta dua perusahaan teknologi raksasa tersebut, tetapi mereka memang tidak pernah memunculkan wilayah Palestina di aplikasi peta mereka.

"Tidak pernah ada label 'Palestina' di Google Maps," kata juru bicara Google Elizabeth Davidoff saat itu.

Sampai sekarang Google dan Apple tidak memberi penjelasan mengapa mereka tidak meletakkan nama negara Palestina, namun hanya menunjukkan garis pemisah antara Jalur Gaza dan Tepi Barat dengan Israel.

Petisi Mendesak Google Memunculkan Palestina di Google Maps

Petisi yang mendesak Google untuk memunculkan Palestina di Peta buatannya kembali menyeruak baru-baru ini. Mungkin bukan pertama kali, namun dibuatnya kembali petisi ini menandakan solidaritas kepada rakyat Palestina dari penjuru dunia masih menguat.

Kali ini penggagasnya adalah Zak Martin, seorang penulis dan aktivis perdamaian.

embed from external kumparan

"Penghilangan Palestina adalah penghinaan yang menyedihkan bagi rakyat Palestina dan merusak upaya jutaan orang yang terlibat dalam kampanye untuk mengamankan kemerdekaan Palestina dan kebebasan dari pendudukan dan penindasan Israel," tulis Martin dalam petisi tersebut.

Hingga hari ini, petisi itu telah ditandatangani oleh lebih dari 1 juta 500 ribu orang.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sendiri mengakui Palestina sebagai negara berdaulat pada November 2012 dan disepakati oleh 136 negara lainnya.

embed from external kumparan

****

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)