Wali Kota Semarang di Dugderan: Warisan Budaya, Semoga Tetap Berlanjut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemkot Semarang gelar Dugderan, Kamis (31/3/2022).  Foto: Fadelia Fauziah Ramha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemkot Semarang gelar Dugderan, Kamis (31/3/2022). Foto: Fadelia Fauziah Ramha/kumparan

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menggelar tradisi menyambut Bulan Suci Ramadhan atau Dugderan. Tradisi ini dibuka langsung oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, di Balai Kota Semarang, pada Kamis (31/3).

Kegiatan ini sebelumnya tidak digelar selama dua tahun lantaran pandemi COVID-19. Meski hari ini digelar kembali, penerapan protokol kesehatan secara ketat tetap diberlakukan.

Prosesi Dugder kali ini mengambil tema "Dugderan Mempererat Kemajemukan dalam Bingkai Pancasila Menuju Semarang Semakin Hebat". Hal ini selaras dengan pernyataan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam sambutannya saat di Balai Kota Semarang.

Pemkot Semarang gelar Dugderan, Kamis (31/3/2022). Foto: Fadelia Fauziah Ramha/kumparan

"Gelaran ritual Dugder menjadi pagelaran budaya yang dinantikan. Dugder menjadi gambaran kemajemukan, sebagi bentuk Semarang yang semakin hebat," tuturnya.

Biasanya dalam tradisi ini Wali Kota berperan sebagai Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat, yakni Bupati Semarang yang pertama kali menggelar tradisi Dugderan pada tahun 1881.

kumparan post embed

Ikon Kota Khas Kota Semarang sekaligus ikon dugderan, yakni Warak Ngendog, merupakan imajiner perpaduan kambing dan naga. “Dug dug dug” dari suara bedug dan “Der der der” dari suara meriam yang dulunya digunakan sebagai penanda.

Pemkot Semarang gelar Dugderan, Kamis (31/3/2022). Foto: Fadelia Fauziah Ramha/kumparan

Hendrar Prihadi berharap puasa tahun ini mendapat ridho dari Allah SWT. Selain itu, ia juga berpesan agar masyarakat saling menghormati dan peduli terhadap sesama.

"Bapak Ibu sekalian, tradisi dugder ini sebagai acara menyucikan diri dan warisan budaya yang temurun dari dahulu. Semoga di masa yang akan datang tradisi dugder tetap terus berlanjut dan menjadi gelaran yang dinanti-nanti warga Semarang," kata dia.

Sebenarnya, setelah adanya upacara bersama dengan Wali Kota. Tradisi dugderan akan diarak bersama warak ngendog dan rombongan penari, serta para warga yang mengikuti karnaval ini juga ikut keliling berjalan kaki menyusuri tengah kota Semarang.

Namun, dikarenakan masih dalam situasi pandemi Pemkot Semarang mengupayakan protokol kesehatan secara ketat baik bagi para pelaku seniman maupun penonton. Sehingga, prosesi Dugderan kali ini tidak digelar sederhana di tiga titik yaitu, halaman Balai Kota Semarang, Masjid Agung Semarang dan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dan disiarkan langsung melalui akun YouTube Semarang Pemkot.

Reporter: Fadelia Fauziah Rahma