Walkot Bogor: Masih Ada Warga Ragu Divaksin Karena KIPI dan Faktor Politis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wali Kota Bogor Bima Arya bersama jajaran Forkopimda menggelar patroli Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Sabtu (3/7/2021).  Foto: Pemkot Bogor
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Bogor Bima Arya bersama jajaran Forkopimda menggelar patroli Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Sabtu (3/7/2021). Foto: Pemkot Bogor

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menjadi salah satu yang diantisipasi pemerintah selama program vaksinasi COVID-19 berlangsung. Sampai saat ini, KIPI juga masih menjadi alasan bagi masyarakat enggan melakukan vaksinasi.

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, saat ini 22% warganya masih ragu melakukan vaksinasi karena alasan faktor medis.

kumparan post embed

"Kalau saya membaca 22% ini sebagian karena masih karena faktor medis tadi. Masih banyak yang terpengaruh oleh Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, kejadian-kejadian fatal, bahkan sampai meninggal ketika divaksin,” ujar Bima dalam paparan survei LSI secara virtual, Minggu (18/7).

Selain KIPI, menurut Bima, warga kota Bogor juga banyak yang terhasut kabar bahwa vaksin corona adalah bisnis dan banyak kepentingan politisnya.

Infografik: Tetap Fit Usai Vaksinasi Corona. Foto: kumparan

“Kemudian ada juga aspek politis, digoreng sana, digoreng sini. Ini yang saya kira sangat menyesatkan bahwa vaksin ini bisnis, bahwa vaksin ini kepentingan dan lain sebagainya. Itu aspek politis,” jelasnya.

Sementara itu, Bima mengatakan, saat ini perdebatan yang terjadi di antara warga Bogor adalah jenis vaksin apa yang akan diperoleh. Tugas pemda saat ini adalah memastikan vaksin corona aman untuk digunakan.

“Sekarang sebagian besar ya persoalannya lebih kepada aspek medis. Jadi meyakinkan bahwa ini aman. Jadi perdebatannya lebih kepada sekarang kalau vaksin, vaksin apa ya. Apakah Sinovac, apakah Moderna, apakah Pfizer dan sebagainya,” katanya.