Wamensos Ajak Dunia Usaha Prioritaskan CSR Berbasis Pemberdayaan
·waktu baca 3 menit

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menyampaikan Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari perusahaan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membantu pengentasan kemiskinan struktural.
Oleh karena itu, CSR tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif atau kegiatan karitatif sesaat, tetapi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional, serta pembangunan sosial berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kementerian Sosial terus mendorong perubahan paradigma CSR dan TJSL dari pendekatan charity menjadi community development,” kata Agus Jabo saat menghadiri acara CSR Summit 2026 di Gedung Aneka Bhakti Kemensos, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Dengan demikian, Agus Jabo mengajak para pimpinan perusahaan, BUMN, dunia usaha, dan filantropi yang hadir, untuk berkolaborasi dan membangun sinergi dalam pengentasan kemiskinan melalui pendekatan pemberdayaan.
“Ini yang menjadi PR bersama dan forum CSR ini menjadi penting, karena kita harus berkolaborasi, harus bersinergi. Kembali ke belakang, menoleh ke belakang ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang belum hidup sejahtera,” ujarnya.
Lebih jauh, Agus Jabo menyampaikan pelaksanaan CSR di Indonesia telah memiliki landasan yang kuat, antara lain melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta Peraturan Menteri Sosial Nomor 9 Tahun 2020 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha. Regulasi tersebut menjadi dasar penguatan kolaborasi dunia usaha dalam mendukung pembangunan sosial yang berkelanjutan dan inklusif.
Dalam implementasinya, prioritas CSR kesejahteraan sosial diarahkan untuk menjangkau kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan. Seperti anak rentan, penyandang disabilitas, lansia terlantar, perempuan rentan, korban bencana, masyarakat miskin, hingga kelompok masyarakat yang mengalami kerentanan sosial lainnya.
“Karena itu, Kementerian Sosial terus memperkuat peran sebagai fasilitator dan penghubung kolaborasi melalui penyediaan data dan regulasi, penguatan forum CSR, pendampingan mitra, peningkatan kapasitas, hingga pemberian apresiasi,” jelasnya.
Agus Jabo berharap CSR di Indonesia tidak hanya menjadi simbol kepedulian perusahaan. Namun, juga menjadi kekuatan sosial yang mampu mempercepat pengentasan kemiskinan, membuka akses kesempatan usaha, memperkuat pemberdayaan, serta menciptakan masyarakat yang mandiri dan produktif.
“Kami juga mengajak dunia usaha untuk terus memperkuat sinergi bersama pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan filantropi dalam membangun model pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya.
Senada dengan Agus Jabo, Founder dan CEO The Iconomics Bram S. Putro menyampaikan CSR tidak cukup dengan program pemberian bantuan, karena tidak berorientasi pada sustainability.
“Dan forum hari ini penting, untuk memiliki pandangan yang sama untuk CSR ini. Pandangan harus berbeda dari fragmented ke kolaboratif, dari simbolik menjadi strategis, dari program jangka pendek menjadi jangka panjang,” kata Bram.
Kegiatan ini turut dihadiri Pemimpin Redaksi The Iconomics Arif Hatta, Direktur Riset The Iconomics Alex Mulya, para pimpinan perusahaan, BUMN, dunia usaha, filantropi, narasumber dari kalangan akademisi, serta stakeholder terkait lainnya.
