Warga Gaza Sambut Idul Adha di Tengah Gencatan Senjata 'Palsu' & Harga Selangit
·waktu baca 2 menit

Menyembelih hewan kurban, membeli baju baru, hingga menyediakan kue untuk Idul Adha masih belum bisa dirasakan warga Gaza tahun ini.
Padahal, hal tersebut merupakan tradisi yang biasa dilakukan warga Gaza untuk memperingati Idul Adha setiap tahunnya sebelum perang pecah. Kini, warga mengaku tidak punya uang dan, kalau pun ada, barang yang dibutuhkan sulit ditemukan.
“Saya pergi ke pasar hanya untuk melihat-lihat karena saya tidak mampu membeli apa pun. Setiap kali saya bertanya tentang harga, saya pulang dengan hati yang hancur,” kata seorang warga Gaza, Nadia Abu Shamala, kepada AFP, Selasa (26/5).
“Tahun ini, Idul Adha datang tanpa sukacita yang pernah kami rasakan di Gaza karena dampak perang, harga yang melambung tinggi, dan ketidakmampuan kami menyediakan kebutuhan paling sederhana sekalipun bagi anak-anak kami,” sambung perempuan 40 tahun itu.
Nadia menceritakan dirinya sebenarnya berasal dari wilayah utara Gaza. Namun, akibat perang, ia terpaksa mengungsi ke Deir al-Balah yang berada di kawasan tengah selama dua tahun terakhir.
Perang Gaza yang membuat hidup Nadia dan warga lainnya menderita pecah sejak 2023. Serangan Israel membuat sebagian besar wilayah Gaza hancur dan puluhan ribu lebih jiwa tewas. Saat bersamaan warga yang selamat dari perang bergantung pada bantuan lembaga asing untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Pada Oktober 2025, gencatan senjata antara Israel dan Hamas sempat terjalin. Namun, kondisi di lapangan berbeda karena serangan udara Israel masih terus terjadi setiap hari.
Di saat bersamaan, tentara Israel memperketat kendali di wilayah perbatasan. Karena itu, bantuan asing dari lembaga kemanusiaan maupun negara-negara donor yang masuk ke Gaza menjadi sangat minim.
Kondisi yang tak kunjung berubah menjelang dan saat Idul Adha membuat warga Gaza frustrasi.
Salah seorang yang mengeluhkan situasi tersebut adalah Abu Abdullah al-Mosadar. Ia mengaku tahun ini terpaksa membeli seekor domba kurban seharga 13 ribu shekel atau sekitar Rp79 juta–Rp80 juta.
AFP melaporkan harga tersebut membuat hanya segelintir warga Gaza yang mampu membeli hewan kurban. Warga yang ingin membeli biasanya harus mengumpulkan uang bersama kerabat atau saudara mereka.
“Gencatan senjata itu adalah kebohongan besar, tetapi bagaimanapun juga kami mencoba menciptakan kegembiraan bagi anak-anak,” kata Abu.
“Saya tahu ini sangat mahal, tetapi saya memutuskan untuk berkurban tahun ini,” lanjutnya.
