Warga Pati Demo Tuntut Polisi Tangkap Pengeroyok-Pembakar Rumah Koordinator MPB

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pati Anti Premanisme (Kompres) menggelar aksi unjuk rasa di Alun-Alun Tayu, Senin (6/10/2025). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pati Anti Premanisme (Kompres) menggelar aksi unjuk rasa di Alun-Alun Tayu, Senin (6/10/2025). Foto: kumparan

Massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pati Anti Premanisme (Kompres) menggelar aksi unjuk rasa di Alun-Alun Tayu, Senin (6/10). Mereka menuntut Polresta Pati segera menangkap pelaku pengeroyokan dan pembakaran rumah Koordinator Masyarakat Pati Bersatu (MPB).

Massa memadati Alun-Alun Tayu bagian Selatan. Mereka membawa berbagai spanduk dan tulisan seperti "Hentikan Intimidasi Kriminalisasi Aktivitas AMPB, Aparat Pelindung Rakyat Bukan Pejabat, Belajarlah dari Nepal dan lain-lain.

Massa juga membakar ban bekas di tengah jalan sebagai bentuk protes. Tak cuma itu, ada pula aksi membagikan bunga dan selebaran kepada pengendara yang melintas. Isinya adalah berbagai tuntutan dari Kompres kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dan Polresta Pati.

Koordinator lapangan (Korlap) Kompres, Mirza Sastro Atmodjo, mengungkapkan, setidaknya ada tiga aktivis yang tergabung dalam MPB yang mengalami tindakan kekerasan. Mereka yakni Supriyono alias Botok, Teguh Istyanto, dan Gus Ulil.

Aksi itu terjadi saat para aktivis itu hendak mengawal rapat panitia khusus (Pansus) hak angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati yang memanggil Bupati Pati Sudewo pada Kamis 2 Oktober 2025 lalu.

"Aksi ini merupakan respons kami atas peristiwa yang dialami aktivis MPB yang beberapa waktu lalu mengalami pengeroyokan dan pemukulan di depan DPRD," ucapnya.

Bahkan, ia mengungkapkan para aktivis MPB tak hanya mengalami tindakan kekerasan secara fisik saja. Bahkan, rumah Teguh Istyanto juga dibakar oleh orang tak dikenal.

"Kedua, ini adalah respons atas upaya pembakaran rumah Mas Teguh. Jadi aksi hari ini adalah untuk menyikapi hal tersebut," terangnya.

Oleh karena itu, Kompres mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap aktivis MPB itu. Apalagi, ada bukti jelas dalam tindakan kekerasan itu.

"Kami meminta Polresta Pati menangkap pelaku pengeroyokan. Karena video sudah banyak. Masyarakat juga sudah tahu. Saya kira Kapolresta lebih mudah menangkap pelaku pemukulan," tegasnya.

Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pati Anti Premanisme (Kompres) menggelar aksi unjuk rasa di Alun-Alun Tayu, Senin (6/10/2025). Foto: kumparan

Tak hanya terkait kekerasan, Kompres merespons situasi yang dinarasikan adanya perseteruan warga antar wilayah yakni Pati Selatan dan Pati Utara.

Alasannya adalah Bupati Pati Sudewo merupakan warga Pati Selatan yang baru saja terpilih sebagai Bupati. Narasi berkembang, warga Pati Utara dianggap tidak rela dan tidak bersedia dipimpin warga Pati Selatan.

Mirza menilai, narasi ini merupakan sebuah gerakan adu domba yang berlebihan, sehingga berpotensi menyulut konflik horizontal antarwarga Kabupaten Pati.

"Pati utara vs Pati selatan, saya kira itu tidak tepat karena banyak teman-teman kami ada yang dari Pati selatan, atau kecamatan di Pati selatan. Yang tepat itu pendukung dan tidak pendukung. Jangan sampai narasi ini membenturkan masyarakat," sebutnya.

Pihaknya pun mendesak Sudewo bertanggung jawab atas ketidakstabilan Pati. Menurutnya, kegaduhan yang terjadi di masyarakat sampai hari ini memang sengaja dibenturkan.

“Saya kira masyarakat Pati itu sangat bijak dan pintar. Jangan mau dibenturkan hanya karena kepentingan politik atau kelompok tertentu,” jelas dia.

Camat dan Kapolres Temui

Pihak massa akhirnya diterima Forkopimda setempat. Dari Camat hingga Kapolsek.

Camat Tayu, Imam Rifai, menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk menolak segala bentuk premanisme dan mengajak masyarakat menjaga kedamaian serta persatuan di Kabupaten Pati.

“Apa pun koreksi dan masukan dari masyarakat adalah hak yang harus kita dukung, karena Indonesia dan Kabupaten Pati adalah milik kita bersama. Kami menolak premanisme. Apa pun premanisme. Kita (tegaskan) tidak ada intimidasi kepada siapa pun,” tutur Camat Tayu.

Ia pun meminta masyarakat untuk menjaga persatuan dan perdamaian. Dirinya tak mau adanya narasi pemecah belah di Kabupaten Pati.

”Jaga perdamaian dan persatuan. Jangan terprovokasi. (Pati Selatan dan Pati Utara) itu hanya penggunaan bahasa. Tidak ada Pati utara atau Pati selatan. Itu hanya dikotomi. Semua warga Kabupaten Pati. Jangan mudah terprovokasi,” kata dia.

Camat Tayu, Imam Rifai dan Kapolsek Tayu, AKP Aris Pristianto menemui massa demonstrasi di Alun-Alun Tayu, Kabupaten Pati, Senin (6/10/2025). Foto: kumparan

Sementara itu Kapolsek Tayu, AKP Aris Pristianto, memastikan bahwa aksi damai yang digelar di Alun-Alun Tayu berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Ia juga menegaskan bahwa pihak kepolisian berkomitmen untuk selalu mengawal dan mengamankan setiap penyampaian aspirasi masyarakat sesuai koridor hukum.

“Kami dari kepolisian berkomitmen sejak awal untuk mengawal dan mengamankan aksi atau aspirasi dari masyarakat. Tuntutan yang disampaikan akan segera kami teruskan kepada pimpinan dan pasti ditindaklanjuti. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, kita negara hukum, semua berdasarkan hukum,” tegasnya.

AKP Aris juga mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan kedamaian antarwarga demi terciptanya situasi yang aman dan tentram di wilayah Tayu dan sekitarnya.

“Pesan kami, jangan mudah terprovokasi, jangan ikut hal-hal yang belum tentu benar. Kalau ada informasi, silakan dikomunikasikan dengan pihak yang berwenang. Saya yakin semuanya untuk kebaikan Kabupaten Pati, khususnya Kawedanan Tayu agar tetap aman, tentram, dan kondusif,” paparnya.