WHO: Cacar Monyet Diduga Menyebar di Dunia Tanpa Terdeteksi
ยทwaktu baca 3 menit

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (1/6/2022) menyatakan, ratusan kasus cacar monyet telah muncul di luar benua Afrika, di mana penyakit itu ditemukan.
Pengumuman itu juga sekaligus memperingatkan bahwa virus cacar monyet kemungkinan telah menyebar di bawah radar.
"Penyelidikan sedang berlangsung, tetapi kemunculan cacar monyet yang tiba-tiba di banyak negara pada saat yang sama menunjukkan bahwa mungkin ada penularan yang tidak terdeteksi untuk beberapa waktu," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari Reuters.
"Sejak kasus cacar monyet pertama kali dilaporkan di Inggris pada 7 Mei lalu, lebih dari 550 kasus penyakit yang dikonfirmasi telah diverifikasi di 30 negara di luar negara-negara Afrika barat dan tengah di mana penyakit itu endemik," kata WHO.
Sejauh ini, sebagian besar kasus cacar monyet telah dilaporkan di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Kendati demikian, para ahli menekankan tidak ada bukti bahwa cacar monyet ditularkan secara seksual.
"Siapa pun dapat terinfeksi cacar monyet jika mereka melakukan kontak fisik yang dekat dengan orang lain yang terinfeksi," kata Tedros.
Dia mendesak semua orang untuk membantu memerangi stigma yang tidak hanya salah, tetapi juga dapat mencegah orang yang terinfeksi mencari perawatan, sehingga lebih sulit untuk menghentikan penularan.
WHO pun mendesak negara-negara yang terkena dampak untuk memperluas pengawasan mereka.
"Sangat penting bahwa kita semua secara kolektif bekerja sama untuk mencegah penyebaran selanjutnya melalui pelacakan kontak dan isolasi orang-orang dengan penyakit ini," kata pakar cacar monyet WHO, Rosamund Lewis.
Lewis mengatakan, munculnya banyak kasus di sebagian besar Eropa dan sejumlah negara lain, telah menjadi perhatian. Hal itu menunjukkan penularan yang tidak terdeteksi untuk sementara waktu.
"Kami tidak tahu apakah itu berminggu-minggu, berbulan-bulan atau mungkin beberapa tahun," kata Lewis.
"Kami tidak benar-benar tahu apakah sudah terlambat untuk menahan [penyebarannya]," sambung dia.
Di samping itu, cacar biasa telah membunuh jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun sebelum diberantas pada 1980.
Berbeda dari cacar biasa, cacar monyet menyebar melalui kontak dekat dan jauh lebih ringan. Gejala umumnya yaitu demam tinggi dan ruam seperti cacar air dan akan hilang setelah beberapa minggu.
Vaksin Cacar Monyet
Sekitar 85 persen vaksin cacar biasa ditemukan efektif untuk mencegah cacar monyet. Namun hingga kini persediaannya masih terbatas.
WHO tidak mengusulkan vaksinasi massal, melainkan penggunaan yang ditargetkan untuk melindungi petugas kesehatan dan orang-orang yang paling berisiko terinfeksi.
Lewis menyoroti, kasus cacar monyet juga telah mengalami peningkatan signifikan di negara-negara endemik. Ribuan orang jatuh sakit karena penyakit itu setiap tahun. Sekitar 70 kematian akibat virus cacat monyet dilaporkan di lima negara Afrika sepanjang tahun ini.
Kendati menyebar luas, tingkat kematian untuk cacar monyet biasanya cukup rendah. Tidak ada kematian yang dilaporkan di antara kasus-kasus yang dikonfirmasi di luar negara-negara endemik.
Meskipun begitu, pemimpin WHO untuk penyakit yang muncul, Maria Van Kerkhove, memperingatkan meskipun tidak ada kematian yang dilaporkan, itu bisa berubah jika virus menyebar di populasi yang lebih rentan.
Peringatan Penyakit Endemik
Direktur kedaruratan WHO, Mike Ryan, pada Rabu (1/6) memperingatkan wabah penyakit endemik termasuk cacar monyet dan demam lassa telah menjadi lebih persisten dan sering karena perubahan iklim.
Perubahan iklim telah berkontribusi pada kondisi cuaca yang berubah dengan cepat seperti kekeringan, hewan dan manusia mengubah perilaku mencari makanan mereka.
"Akibatnya, penyakit yang biasanya beredar pada hewan semakin banyak menyerang manusia," kata Ryan.
"Sayangnya, bahwa kemampuan untuk memperkuat penyakit itu dan menyebarkannya di dalam komunitas kita meningkat, jadi faktor munculnya penyakit dan amplifikasi penyakit telah meningkat," tutup Ryan.
Penulis: Sekar Ayu.
