WHO Khawatirkan Pandemi Senyap AMR, Kematian Bisa Lebih dari Penyakit Jantung

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi seseorang terkena serangan jantung. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi seseorang terkena serangan jantung. Foto: Shutterstock

WHO mengkhawatirkan penyakit resistensi antimikroba (AMR) menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global saat ini. Tidak hanya mempengaruhi manusia, hewan dan lingkungan juga turut terancam.

Persoalan ini dibahas tuntas dalam media briefing bertajuk ‘Resistensi Antimikroba, Si Pandemi Senyap’. Acara secara online ini diselenggarakan atas kerja sama WHO dan FAO, Rabu (12/10).

AMR adalah kondisi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, fungi dan parasit menjadi resisten atau kebal terhadap antimikroba (antibiotik, antivirus, antifungal, antiparasit) yang sebelumnya efektif untuk mencegah atau membunuh mikroorganisme tersebut.

“WHO memperkirakan resistensi antimikroba, secara langsung maupun tidak langsung, telah berhubungan dengan 4,9 juta jiwa di 204 negara selama tahun 2019,” ujar Deputi Menteri Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI, Agus Suprapto, M. Kes.

Konsumsi antibiotik juga berkembang di kalangan masyarakat, terlebih pada saat pandemi terjadi. Diperkirakan, jika tidak dilakukan pengendalian, maka jumlah kasus resistensi antimikroba (AMR) akan terus meningkat hingga mencapai angka 10 juta di tahun 2050 nanti.

Artinya, angka ini akan melampaui kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

Ilmuwan di MIT memakai teknologi kecerdasan buatan untuk menemukan antibiotik super yang bisa membunuh bakteri kuat. Foto: Collins Lab at MIT

AMR akan berakibat pada terjadinya infeksi yang sulit atau tidak mungkin diobati, meningkatkan risiko penyebaran penyakit, penyakit parah dan kematian, serta membalikkan kemajuan ilmu kedokteran.

“Orang yang terkena AMR harus menghadapi penyakit berkepanjangan, durasi pengobatan lebih lama, tantangan kesehatan mental, stigma sosial, dan beban keuangan yang tinggi. Ini bisa kita hindari kalau kita beraksi bersama sekarang. Kita harus melakukan ini kalau ingin melindungi generasi berikutnya,” ujar Mukta Sharma selaku Technical Officer (AMR) WHO Indonesia.

World Bank menaksir kerugian ekonomi global akibat AMR sekitar USD 100 triliun pada 2050 mendatang.

Pandemi Senyap

AMR dijuluki sebagai pandemi senyap di Indonesia karena Indonesia termasuk dalam lima negara dengan perkiraan peningkatan persentase konsumsi antimikroba tertinggi pada 2030.

"Kebutuhan laboratorium yang tersebar merata di Indonesia belum terpenuhi, sehingga banyak antibiotik diberikan tanpa tahu persis penyebab penyakitnya. Meski data terbatas, terlihat jelas terdapat peningkatan masalah AMR di Indonesia," ujar Dr. Anis Karuniawati, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan RI.

Petugas kesehatan memindai warga binaan di dalam mobil pemindaian sinar X (X-Ray) saat pemeriksaan Tuberkulosis (TB) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II-A Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Kisah Penyintas Resisten Obat

Dalam acara ini, turut hadir Paran Sarimita Winarni, seorang penyintas AMR dengan riwayat TBC RO (TBC Resisten Obat). Ia menceritakan bagaimana perjalanannya dalam mendapatkan pengobatan.

Pada saat itu saya merasa marah, kecewa, sedih, dan berulang kali ingin mengakhiri hidup saya. Karena masuk ke dunia Resisten Obat membuat saya kehilangan pekerjaan, rasa percaya diri, juga uang yang tidak sedikit untuk kebutuhan selama saya menjalani pengobatan,” ujar Paran.

Untuk menekan resistensi antimikroba di Indonesia, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan WHO dan FAO berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengetahui lebih lanjut mengenai dampak resistensi antimikroba.

Caranya antara lain, koordinasi dan tata kelola kegiatan AMR lintas sektor dan pengawasan nasional lintas Nusantara. Serta penegakan regulasi mengenai penggunaan obat bagi seluruh lapisan masyarakat, baik dari fasilitas kesehatan, peternakan, serta tempat industri makanan.

Reporter: Andin Danaryati