WHO Minta Masyarakat Jangan Abaikan TBC: 1,5 Juta Orang Mati Tiap Tahun

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di acara pertemuan pertama Menteri Kesehatan Negara Anggota G20 atau The 1st G20 Health Ministers Meeting di Yogyakarta pada Senin (20/6/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di acara pertemuan pertama Menteri Kesehatan Negara Anggota G20 atau The 1st G20 Health Ministers Meeting di Yogyakarta pada Senin (20/6/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan tuberkulosis atau TBC masih menjadi penyakit yang mematikan. Dia menyebut ada 1,5 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya akibat TBC.

"Terus membunuh sekitar 1,5 juta orang setiap tahun, dan bukan hanya rata-rata itu, 10 juta orang sakit karena TBC," kata Tedros usai pertemuan pertama Menteri Kesehatan Negara Anggota G20 atau The 1st G20 Health Ministers Meeting di Hotel Marriot, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (20/6).

Dari data itu, TBC merupakan penyakit menular nomor dua paling mematikan setelah COVID-19. Terlebih TBC adalah penyakit yang sudah ada sejak lama.

"Yang pertama sekarang adalah COVID. Dan, seperti yang anda juga tahu TBC telah bersama kita ribuan tahun," ucap dia.

kumparan post embed

Menurut Tedros, kesiapsiagaan menghadapi gelombang COVID berikutnya penting. Akan tetapi, penanganan TBC tidak boleh dilupakan,

"Kita seharusnya memahami ada pembunuh utama yaitu TBC yang masih mematikan," ucap dia.

Tedros berharap Dana Perantara Keuangan (FIF) yang dibentuk melalui forum G20 ini mampu mengatasi persoalan TBC. Baik penanganan TBC dan kesiapsiagaan terhadap gelombang COVID.

"Kami mengembangkan vaksin untuk COVID, kurang dari setahun. Kita perlu memiliki komitmen seperti itu untuk TBC karena penyakit itu mematikan. Oleh karena itu dibutuhkan lebih banyak investasi untuk TBC," ucap dia.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP/PIERRE ALBOUY

Sedangkan Juru Bicara G20 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan Indonesia akan mengakselerasi program penanganan TBC yang sempat terhambat karena pandemi COVID-19.

"Salah satunya adalah bagaimana kita memperluas akses untuk diagnostik TB. Kemudian kita akan memperkuat seperti pemberian pengobatan TB untuk pencegahan. Jadi kita akan lebih ke hulu lagi dengan melakukan skrining," kata Nadia.

"Kita tahu di dalam kebijakan Lak Menkes ada 14 skrining di dalam transformasi. Ada 14 penyakit yang diskrining secara awal termasuk TB," lanjut dia.

Selain lebih agresif untuk menemukan kasus TBC tanpa menunggu gejala, Kemenkes juga mendorong upaya pengobatan TBC bisa dilakukan di Indonesia.