WHO Tak Bisa Paksa China Bocorkan Lebih Jauh soal Asal-usul COVID-19

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peter Daszak dan Thea Fischer, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona (COVID-19) di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Peter Daszak dan Thea Fischer, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona (COVID-19) di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih terus melakukan investigasi soal asal-usul COVID-19. Tetapi Direktur Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan pada Senin (6/7), pihaknya tidak dapat memaksa China untuk membocorkan lebih banyak data tentang awal kemunculan SARS-CoV-2.

"WHO tidak memiliki kekuatan untuk memaksa siapa pun dalam hal ini," kata Ryan dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Selasa (8/6).

Oleh sebab itu, ia menerangkan harus ada studi lebih lanjut untuk memahami di titik mana virus itu menjadi berbahaya. Ryan pun meminta berbagai negara untuk terus memberikan dukungan dalam investigasi terkait asal SARS-CoV-2.

"Kami sangat mengharapkan kerja sama, masukan, dan dukungan dari semua negara anggota kami dalam upaya itu," tandas Ryan.

Pada Januari hingga Februari 2021, WHO telah melakukan penyelidikan lebih dalam soal asal-usul SARS-CoV-2.

Warga memakai masker berjalan melewati origami yang ditampilkan untuk menghormati korban akibat virus corona di Perpustakaan Greenpoint, Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Foto: Brendan McDermid/REUTERS

Tim Investigasi WHO lalu mengerucutkan segala kemungkinan asal-usul COVID-19 ke dalam empat skenario atau hipotesis, diurutkan dari yang paling memungkinkan hingga mustahil.

Yakni penularan langsung dari hewan ke manusia, penularan lewat hewan perantara, penyebaran lewat produk makanan beku, dan penyebaran akibat kebocoran lab di WIV.

Namun, anggota tim WHO yang mengunjungi China awal tahun ini mengatakan bahwa mereka tidak memiliki akses ke semua data untuk mencari asal-usul COVID-19. Hal ini pun berujung memicu perdebatan soal transparansi negara itu.