WHO Terus Teliti Varian Omicron: Masih Belum Jelas Apakah Bisa Picu Gejala Parah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah pelajar di Afrika Selatan kembali ke sekolah untuk pertama kali setelah lockdown akibat virus corona di Cape Town, Senin (8/6). Foto: Reuters/Mike Hutchings
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pelajar di Afrika Selatan kembali ke sekolah untuk pertama kali setelah lockdown akibat virus corona di Cape Town, Senin (8/6). Foto: Reuters/Mike Hutchings

WHO kembali memberikan penjelasan terkait varian Omicron yang ditemukan di Afrika Selatan. WHO menyebut, sejauh ini belum banyak data mengenai varian itu.

Artinya, masih belum jelas apakah varian Omicron ini jauh lebih menular dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 lainnya termasuk apakah bisa memicu gejala parah.

"Data awal menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan, tetapi ini mungkin karena peningkatan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik dengan Omicron," kata WHO dikutip dari Reuters, Senin (29/11).

kumparan post embed

Meski begitu, WHO mengatakan bukti awal menunjukkan ada indikasi risiko infeksi parah akibat varian ini.

WHO menjelaskan, hingga saat ini mereka terus bekerja dengan para ahli untuk memahami potensi dampak varian ini.

"Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dari varian lain," kata WHO.

"Infeksi awal yang dilaporkan dari studi di universitas sampai individu adalah yang orang muda cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan. Tetapi meneliti tingkat keparahan varian Omicron akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu," tutur WHO.

Anggota WHO yang bertugas menyelidiki asal-usul pandemi virus korona (COVID-19), meninggalkan hotel untuk kunjungan lapangan kedua di Wuhan, (30/1/2021). Foto: Thomas Peter/REUTERS

Sebelumnya, varian Omicron pertama kali ditemukan di negara bagian Afrika Selatan pada 24 November 2021. Ketika itu, Afrika Selatan yang keseluruhan wilayahnya didominasi varian Delta, menemukan mutasi asing yang lebih menular.

WHO kemudian menetapkan varian asal Afrika itu sebagai varian berbahaya atau Variant of Concern (VoC) karena memiliki mutasi yang banyak dan mengkhawatirkan.