Wiranto Desak OSO Mundur: Hanura Tak Lolos ke DPR dan Tak Solid

kumparanNEWSverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto memberikan keterangan pers bertajuk 'Penyelamatan Partai Hanura," di Atlet Century, Jakarta. Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto memberikan keterangan pers bertajuk 'Penyelamatan Partai Hanura," di Atlet Century, Jakarta. Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan

Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto meminta Ketum Hanura saat ini Oesman Sapta Odang (OSO) untuk mundur dari Ketum Hanura.

Wiranto menilai OSO melanggar kesepakatan saat dia menyerahkan Hanura kepada OSO tahun 2016. Di antaranya janji menambah suara Hanura di Pemilu 2019, ternyata justru gagal masuk DPR.

"Kalau ada Munas yang mengukuhkan kembali Pak OSO sebagai ketum, setelah partai ini tidak berhasil di DPR pusat, tidak menambah suaranya, partai juga tidak solid, maka tentunya sesuai pakta integritas menanyakan kepada Saudara OSO, tolong baca kembali, tolong disimak," kata Wiranto dalam jumpa pers 'Penyelamatan Partai Hanura' di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (18/12).

kumparan post embed

"Kami ingatkan bahwa ada komitmen mundur dari Ketum kalau persyaratan-persyaratan tidak dipenuhi. Maka kita minta dengan gentlemen mundur dari Partai Hanura."

Wiranto menyesalkan pernyataan OSO yang menyebut kegagalan Hanura di Pileg 2019 ini adalah karena dirinya. Sebagai pendiri partai, dia mengaku heran mendengar pernyataan itu.

"Dengan keadaan tidak kompak, partai ikut pemilu, hasilnya mengecewakan dan saya dituduh yang membuat kalah saya. Anda bisa berpikir jernih, sebagai pendiri partai sampai hati menghancurkan partainya sendiri. Tidak ada," ucapnya.

Pakta Interitas OSO ketika Maju di Munas Hanura 2016. Foto: Dok. Istimewa

Justru, Wiranto menyebut dia turut berperan dalam mendamaikan Hanura saat pecah kubu OSO dan Sudding. Dia juga mengaku tak habis pikir dualisme Hanura kubu Suding dan OSO juga dikaitkan dengan dirinya.

"Lalu AD/ART diubah, dan kekuasaan tidak kuat, dan ternyata Partai Hanura timbul konflik, konflik itu dituduhkan ke saya. Tidak mungkin saya berpihak ke konflik dan saya tidak campur tangan dari yang berkonflik. Tapi di publik saya berseteru dengan Pak OSO. Disekenariokan seperti itu. Saya tidak banyak bicara karena tugas saya menjadi Menkopolhukam dan menyelesaikan masalah nasional," tandasnya.

kumparan post embed