Wuhan, Jantung Industri China Sumber Munculnya Virus Corona

Lebih dari 11 juta penduduk Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, dilarang meninggalkan negaranya. Kota industri yang lebih luas dari Jakarta itu diisolasi karena menjadi wilayah pertama menyebarkan virus corona.
Per Jumat, 24 Januari 2020, sebanyak 830 warga Wuhan terjangkit virus mematikan ini. Angka kematian --hanya untuk di Wuhan-- mencapai 25 orang.
Bahkan penyebaran virus telah sampai ke tujuh negara, yakni Taiwan, Vietnam, Jepang, Thailand, Singapura, Korea Selatan dan Amerika Serikat. China juga mengisolasi 10 kota lainnya, mematikan sarana transportasi massal, terdampak kepada kehidupan 35 juta warganya.
Pasar Huanan, lokasi awal penyebaran virus
Riset Journal of Medical Virology melaporkan virus corona jenis baru (2019-nCoV) diduga berasal dari ular. Adapun penelitian Wuhan Institute for Virology yang dipimpin Zheng-Li Shi menyebut, 96 persen susunan genetik virus identik dengan virus corona yang umumnya menginfeksi kelelawar.
Pasar Seafood Huanan menjual keduanya. Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu, meyakini pasar yang menjual berbagai hewan eksotis itu menjadi lokasi pertama wabah menyebar.
Sejumlah pedagang banyak menjajakan hewan liar termasuk anjing, burung merak, berang-berang, ular, hingga kelelawar untuk dikonsumsi penduduk Wuhan.
Jantung industri China
Wuhan telah lama menjadi pusat perdagangan di Tiongkok berkat posisinya di sepanjang Sungai Yangtze. Mengutip New York Times, kota yang memiliki sejarah panjang lebih dari 3.500 tahun itu telah beralih menjadi pusat transportasi utama penghubung antarkota.
Keuntungan ini menjadikan Wuhan jantung industri China. Wilayah ini menjadi rumah bagi pabrik-pabrik besar yang memproduksi mobil untuk General Motors, Nissan, Honda dan merek global dan lokal lainnya --cukup populer untuk investor asing.
Ketika China memasuki era modern, para pemimpin daerah saling berlomba-lomba menunjukkan Wuhan turut andil dalam kebangkitan negara. Mereka menyerukan slogan “Sungai Besar, Danau Besar, Wuhan Besar” and “Ibu Kota Sungai di Timur, Wuhan yang Bisa Ditinggali" hingga terus mendunia. Imbasnya, Wuhan terjangkit polusi tingkat mengkhawatirkan.
Kota lumpuh
Saat ini, kota yang dikenal sebagai 'jalan raya Tiongkok' tersebut lumpuh usai terpapar virus. Pembatasan jalur transportasi diprediksi akan berdampak pada perekonomian kota di sekitarnya.
Transportasi di dalam dan luar kota --termasuk kereta api, pesawat terbang dan kapal feri-- dihentikan sejak Kamis pagi imbas diisolasi.
Terlebih, penyebaran virus ini datang menjelang Tahun Baru Imlek. Akan banyak yang mempertimbangkan kembali rencana mudik ke kota-kota di China.
"Dampak ekonomi bagi China dan berpotensi di tempat lain akan signifikan jika virus terus menyebar," tulis The Economist Intelligence Unit (EIU), dikutip kumparan dari South China Morning Post.
Virus ini dapat memangkas antara 0,5 hingga 1 poin persentase dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China tahun ini. Padahal, China menargetkan PDB 5,9 persen di awal tahun.
"Jika wabah menjadi epidemi, peningkatan pengeluaran untuk perawatan kesehatan akan membatasi pengeluaran di bidang lain, termasuk investasi infrastruktur," tambah EIU.
Pertumbuhan PDB Wuhan adalah 7,8 persen pada 2019, 1,7 persen lebih tinggi dari rata-rata nasional. Nilai total impor dan ekspor mencapai 244 miliar yuan (Rp 477,6 miliar), menyumbang 61,9 persen dari keseluruhan nilai perdagangan luar negeri provinsi Hubei.
