Yang Perlu Diketahui soal Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS

Iran meradang atas tewasnya Jenderal pemimpin pasukan Quds, Qassem Soleimanim, di Bandara Baghdad pekan lalu, akibat serangan Amerika Serikat (AS).
Tak perlu waktu lama, Iran akhirnya membalas duka itu dengan sebuah serangan ke dua pangkalan militer AS di Irak. Sebanyak 9 rudal menghantam pangkalan udara milter AS dan koalisinya di wilayah barat Irak, Rabu (8/1) pagi.
'Balas dendam' Iran ke AS dengan menembakkan rudal itu disebut sebagai salah satu dari 13 skenario yang telah disiapkan Iran untuk AS.
Berikut sejumlah hal yang perlu diketahui soal serangan Iran ke pangkalan militer AS di Irak itu:
Ancaman bagi Dubai dan Israel
Tak hanya menyerang Irak, Iran juga bermaksud menyerang Kota Dubai, Uni Emirat Arab, dan Kota Haifa, Israel.
Dalam sebuah siaran telegram yang beredar, serangan di dua negara itu akan dilakukan jika ada serangan balik AS kepada Iran setelah serangan di pangkalan militer AS di Irak.
"Jika tanah Iran dibom, kota Dubai, Uni Emirat Arab, dan Haifa, Israel, akan diserang dalam gelombang operasi ketiga," tulis pasukan Iran.
Hubungan antara Iran dan AS ini memang dikhawatirkan membuat kondisi dunia memanas karena berpotensi terjadinya konflik terbuka dalam waktu dekat.
Serangan Iran Tamparan Bagi AS
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamanei memuji serangan rudal ke dua pangkalan militer AS di Irak. Menurut Khamenei, serangan negaranya adalah tamparan bagi AS.
"Aksi militer dengan cara ini tidak cukup. Yang penting adalah kehadiran Amerika di daerah ini telah menjadi sumber korupsi, ini harus berakhir," kata Khamenei seperti dikutip dari CNN, Rabu (8/1).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan, sebenarnya negaranya tak ingin mencari perang. Zarif mengatakan, serangan balasan ke AS itu merupakan bentuk pertahanan dan pembelaan Iran merespons kematian jenderal mereka, Qassem Soleimani.
"Kami tidak ingin memanaskan situasi atau mencari perang. Tapi kami mempertahankan diri dari segara jenis agresi," tulis Zarif di akun twitternya.
Iran Klaim 80 'Teroris AS' Tewas
Pemerintah Iran mengklaim serangan rudal ke fasilitas militer Amerika Serikat di Irak menewaskan setidaknya 80 warga AS. Dalam keterangan resminya, Iran menyebut korban tewas serangan rudal sebagai 'teroris Amerika'.
Selain korban tewas, Iran menyatakan, helikopter dan beberapa senjata AS hancur terkena rudal.
"Ada 100 target lainnya di wilayah yang ada dalam jangkauan kami, bila nantinya AS melakukan serangan balasan," sebut pejabat militer Iran, seperti dikutip AFP, Rabu (8/1).
Tanggapan Santai Trump
Klaim dan pernyataan Iran direspons santai Presiden AS Donald Trump. Melalui akun media sosial twitternya, Trump memastikan kondisi militer AS di Irak terkendali usai serangan rudal Iran.
"Semua baik-baik saja setelah serangan rudal Iran ke dua pangkalan militer AS di Irak," tulis Trump.
Trump menuturkan, pihaknya masih mendata kerusakan akibat serangan itu. Saking santainya, Trump berkelakar serangan itu tidak akan mempengaruhi kekuatan militer AS. Ia menegaskan militer AS memiliki perlengkapan tempur terlengkap di dunia.
"Sejauh ini kita memiliki militer yang paling kuat dan lengkap di seluruh dunia!" tegas Trump.
Maskapai AS Dilarang Melintasi Langit Iran-Arab Saudi
Akibat serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS, Badan Aviasi Federal (FAA) Amerika Serikat melarang seluruh maskapai penerbangannya beroperasi dan melintas di sepanjang langit Iran dan Arab Saudi.
"Karena aktivitas militer dan ketegangan politik di Timur Tengah meningkat. Demi menghindari risiko seluruh operasi penerbangan sipil AS di wilayah tersebut dilarang melintasi wilayah udara di atas Irak, Iran, Teluk Oman, dan perairan antara Iran dan Arab Saudi," tulis keterangan FAA dikutip dari Reuters, Rabu (8/1).
FAA belum bisa memastikan sampai kapan larangan itu diterapkan. Namun FAA sudah menginformasikan larangan ini ke seluruh maskapai penerbangan AS.
WNI di Timur Tengah Diminta Waspada
Terkait konflik Iran dan AS, Kemlu RI mengimbau agar seluruh WNI yang ada di Irak, Iran, dan Timur Tengah untuk tetap waspada dan mengikuti informasi dan imbauan dari otoritas setempat.
"Untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi dan dampaknya terhadap WNI, rencana kontijensi telah disiapkan oleh Kementerian Luar Negeri bersama Perwakilan-perwakilan RI di wilayah tersebut," tulis Kemlu RI dalam situs resminya, Rabu (8/1).
Kemlu RI juga telah mengaktifkan kembali crisis center dengan nomor +62 812-9007-0027.
Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Iran, Oktaviano Alimudin, menyebut ada beberapa WNI yang menetap di perbatasan Iran-Irak. Mereka akan dievakuasi jika kondisi terus memburuk.
"Yang di perbatasan dengan Irak hanya ada tiga, mereka sudah siap (dievakuasi)," kata dia di kantor Kemlu, Jakarta, Rabu (8/1).
Oktaviano menegaskan, evakuasi baru akan dilakukan bila serangan balasan dari Amerika Serikat dilakukan dan ditargetkan langsung ke Iran. Dari data Kemlu ada 474 WNI di Iran. Mayoritas menetap di Teheran dan Qom. WNI di Iran kebanyakan merupakan pelajar.
