Amunisi Baru BYD, Tawarkan Plug-in Hybrid Solusi Elektrifikasi yang Fleksibel

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BYD M6 DM. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
BYD M6 DM. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Langkah BYD Indonesia menghadirkan teknologi plug-in hybrid yang disebut DM (Dual Mode) ke pasar Tanah Air bukan tanpa alasan. Pabrikan menilai, waktu peluncuran menjadi faktor krusial agar teknologi tersebut bisa diterima sesuai kebutuhan konsumen.

Head of Public and Government Relations BYD Indonesia Luther Panjaitan mengungkapkan, sejak awal BYD memilih fokus mengenalkan kemampuan elektrifikasi murni lebih dulu. Hal ini dilakukan untuk membangun pemahaman publik terkait teknologi EV yang mereka miliki.

“Kita melihat dalam hal strategi komunikasi dan produk di Indonesia ini kita memang perlu memperkenalkan dulu seberapa advance teknologi yang dimiliki BYD di sisi elektrifikasi. Dan berjalannya waktu kita juga mendapatkan input dan insight bagaimana area rural, area out of city itu sebenarnya punya anxiety walaupun ada desire untuk segera transisi ke EV,” ujar Luther.

BYD M6 DM. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Ia mengatakan, keinginan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik sebenarnya cukup tinggi. Namun, masih ada kekhawatiran yang belum sepenuhnya terjawab oleh kendaraan listrik saat ini.

“Namun ada anxiety di sisi hal-hal yang belum bisa dijawab dengan kondisi kendaraan-kendaraan EV yang saat ini,” katanya.

Di sisi lain, kondisi ekonomi juga ikut memengaruhi strategi peluncuran produk. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai mendorong masyarakat mencari kendaraan yang lebih efisien.

“Kedua situasi dinamika ekonomi sekarang khususnya kenaikan harga BBM itu memaksa orang untuk mencari kendaraan-kendaraan yang lebih efisien. Kami melihat ini waktu yang tepat dan sesuai untuk sesegera kita bawa DM ini untuk menjawab semua kondisi dan situasi tersebut,” ucapnya.

BYD perkenalkan teknologi DM alias PHEV di Indonesia. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Menurut Luther, teknologi DM hadir sebagai solusi transisi yang melengkapi kebutuhan konsumen. Terutama bagi mereka yang belum siap sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik murni.

“Saya percaya beberapa masyarakat khususnya di daerah juga memang menunggu adanya kita bilang itu complementary solution. Jadi memberikan solusi yang mengkomplitkan kebutuhan atas kendaraan hijau saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan ini menjadi jembatan antara kendaraan konvensional dan elektrifikasi penuh. Dengan begitu, konsumen tetap bisa merasakan efisiensi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan BBM.

“Karena mungkin mereka masih belum mau langsung transisi ke EV dan BBM dalam hal ini adalah jawabannya,” pungkasnya.