BBM Etanol Berlaku 2027, Kandungan Minyak Nabati 10-20 Persen

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pabrik bioetanol. Foto: Dok. Barata Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pabrik bioetanol. Foto: Dok. Barata Indonesia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan penerapan bahan bakar minyak (BBM) menggunakan campuran etanol dengan kadar 10 hingga 20 persen mulai terlaksana tahun depan.

"Etanol 2027 tahap pertama 10-20 persen, sehingga etanol bisa mengikuti jejak dari biodiesel. Nanti (pakai) tebu, singkong, jagung," ujar Bahlil saat acara peluncuran Biodiesel B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Bahan etanol yang akan dicampur dengan BBM jenis bensin merupakan hasil proses pengolahan unsur nabati seperti tebu, singkong, dan sebagainya. Tujuan utamanya mengurangi komposisi minyak bumi pada bahan bakar.

Bahlil menambahkan, pasokan etanol nantinya akan dikelola oleh berbagai pihak, seperti Danantara, Pertamina, hingga menggandeng pihak swasta. Sebelumnya dia menjelaskan bahwa pemerintah akan bertindak sebagai pembeli utama (off-taker) untuk menjamin penyerapan produksi etanol yang dihasilkan petani dan pelaku usaha di sektor hulu.

Ilustrasi etanol. Foto: Shutterstock

"Kita membuat etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off taker produksi etanol yang dihasilkan petani,” terangnya pada akhir Juni kemarin.

Bahlil mencatat, saat ini kebutuhan BBM jenis bensin (gasoline) di Indonesia mencapai 40 juta KL per tahun. Nantinya, pemerintah membutuhkan sekitar 4 juta KL etanol untuk dicampurkan ke dalam konsumsi bensin nasional tersebut.

Menurutnya, program bioetanol termasuk bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter, dan dari 40 juta kiloliter itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta kiloliter jadi impornya hampir 25 juta kiloliter," ungkap Bahlil.

Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa

Setelah proyek RDMP Balikpapan beroperasi sejak Januari 2026 dengan kenaikan produksi 5,5 juta kiloliter bensin, maka Indonesia kini disebutnya hanya impor bensin sekitar 20 juta kiloliter.

Meski tambahan kapasitas produksi dari Kilang Balikpapan akan menekan kebutuhan impor, Bahlil menyebutkan Indonesia masih harus memenuhi kekurangan pasokan bensin sekitar 20 juta KL per tahun.

Untuk itu, pemerintah menyiapkan program mandatori E20 yang mengombinasikan bensin dengan 20 persen etanol sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.