BYD Kantongi Lebih dari 20 Ribu Paten dan 90 Ribu Engineer Mobil Listrik

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Platform mobil listrik BYD  Foto: Gesit Prayogi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Platform mobil listrik BYD Foto: Gesit Prayogi/kumparan

BYD menjadi jenama China yang cukup kuat dalam pengembangan mobil listrik. Bermula sebagai produsen baterai, perusahaan yang bermarkas di Shenzhen ini kini menjadi salah satu pabrikan dengan sumber daya yang cukup banyak dalam pengembangan kendaraan berbasis baterai.

kumparan menjadi salah satu media Indonesia yang mendapat kesempatan mengunjungi markas BYD. Di sini, sejumlah capaian dan prestasi mereka dalam hal pengembangan New Energy Vehicle (NEV) -termasuk di dalamnya mobil listrik untuk segmen kendaraan penumpang- dijabarkan.

Aspek yang cukup menarik dalam bagaimana BYD bisa mengusasi teknologi inti dari kendaraan listrik. Mereka juga memiliki sumber daya untuk komponen-komponen pendukung, termasuk di dalamnya semikonduktor.

BYD Asia-Pacific Auto Sales Division - General Manager Liu Xueliang dalam sebuah kesempatan wawancara dengan sejumlah pewarta dari Indonesia mengatakan bahwa November 2023 lalu, mereka genap 29 tahun eksis dalam membangun industri baterai.

BYD Asia-Pacific Auto Sales Division - General Manager Liu Xueliang (kiri) dan President Director PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhou (kanan). Foto: Gesit Prayogi/kumparan

Di mana saat ini, BYD memiliki 650 ribu karyawan dan menguasai bisnis elektronik hingga NEV. “Kami masih ke industri otomotif sejak 20 tahun lalu dan sampai saat ini kami fokus ke BEV,” terangnya.

BEV BYD kini telah hadir di 70 negara, sementara khusus untuk kendaraan penumpang sudah tersebar di 60 negara. Di ASEAN mereka sudah resmi hadir di Thailand dan Malaysia. Sementara di Indonesia, mereka akan melakukan peluncuran pada semester satu 2024.

President Director PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhou menambahkan, BYD memiliki lebih dari 30 ribu paten dan pengembangan mobil listrik mereka didukung 90 ribu engineer.

“Kami telah masuk ke pasar Indonesia melalui kendaraan komersial dengan bus yang dipakai menjadi armada Transjakarta dan taksi untuk perusahaan BlueBird. Saat ini masih dalam proses studi dan uji coba produk di sejumlah kota untuk memasarkannya tahun depan,” imbuh Eagle.

Tantangan stasiun pengisian baterai mobil listrik

Sementara itu, Liu mengamini bahwa penetrasi mobil listrik di Indonesia saat ini masih mengalami kendala infrastruktur. Meskipun, hal tersebut dinilai wajar terjadi ketika masa-masa awal transisi dari ICE ke mobil listrik.

“Itu bukan hanya di Indonesia. Ini juga terjadi di sejumlah negara ketika pengembangan BEV. Di China kami juga punya hal yang sama,” katanya.

BYD dari sisi pabrikan pun mendorong pengembangan kemampuan jarak tempuh dari mobil listrik mereka. Kemudian pembangunan fasilitas pengisian daya juga harus dilakukan secara paralel.

“Saya pikir di Indonesia, banyak pihak ketiga dari perusahaan lokal yang memiliki aksi lebih untuk mengembangan EV infrastruktur. Dari sisi BYD kami terus berkomunikasi untuk berkejasama dengan mitra lokal untuk infrastruktur pengisian baterai. Kami berharap akan banyak fasilitas pengisian BEV kedepannya,” tutupnya.

+++