Otomotif
·
25 Januari 2021 8:20

Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203417)
Yamaha XSR155 Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Yamaha XSR155 melakoni debut dunianya di Indonesia pada akhir Desember 2019 lalu. Motor ini memiliki tampilan retro modern, beda dari motor sport lain yang dimiliki Yamaha.
ADVERTISEMENT
Setelah setahun lebih meluncur, kumparan mendapat kesempatan buat mencobanya pada Sabtu (23/1), guna mencari tahu bagaimana rasa berkendara, karakter mesin maupun handling motor yang dipasarkan seharga Rp 36,580 juta itu.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203418)
Yamaha XSR155 Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Seperti ini catatan kumparan setelah menjajalnya dengan rute dalam kota yang ramai lancar, dari kawasan Yamaha Flagship Store di Cempaka Putih, Jakarta Timur ke Ciputat, Tangerang Selatan pergi pulang sejauh 70 km.
Riding bersama beberapa media lain yang tentunya sambil menerapkan protokol kesehatan.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203419)
Yamaha XSR155 Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Meskipun bukan test ride berupa pengetesan jarak jauh dan tanpa uji konsumsi BBM secara full to full, semoga ulasan ini membantu Anda dalam mempertimbangkan pembelian Yamaha XSR155.

Posisi riding Yamaha XSR155

Kami awali dari posisi riding Yamaha XSR155. Postur saya yang punya tinggi 170 cm dan berat 79 kg, rupanya kedua kaki sulit menapak sempurna.
ADVERTISEMENT
Kaki masih terasa jinjit, tapi bukan jinjit balet hanya ujung jari yang menyentuh aspal. Bila lihat di foto, keseluruhan kaki hampir menapak, cuma bagian ujung tumit yang masih belum.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203420)
Posisi riding Yamaha XSR155 Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Beda cerita ketika satu kaki di atas foot peg, kaki yang lainnya bisa menapak dengan sempurna.
Lanjut ke posisi tangan dan badan. Oke secara keseluruhan, gaya duduknya mengkombinasikan motor sport dan street fighter.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203421)
Test ride Yamaha XSR155. Foto: dok. YIMM
Posisi setangnya yang lebar dan tidak terlalu tinggi, membuat badan condong ke depan (tapi tidak sampai membuat bungkuk) dan lengan membuka.
Bagi yang tidak terbiasa mungkin lengan bisa cepat pegal, karena ikut jadi tumpuan. Jujur saat saya gunakan hari itu, badan masih acceptable tanpa merasa pegal. Mungkin jika jaraknya jauh sampai touring keluar kota akan beda ceritanya.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203422)
Test ride Yamaha XSR155. Foto: dok. YIMM

Mesinnya seperti nostalgia dengan Yamaha Vixion atau Jupiter MX

Jujur soal performa mesin, saya seperti di bawah ke masa lalu saat Yamaha menjual Jupiter MX 135 dan Vixion dengan basis mesin yang sama.
ADVERTISEMENT
Tenaganya naik secara linear sampai putaran tinggi. Yang mengejutkan adalah dari tenaga bawahnya selalu padat berisi, persis seperti karakter mesin 2 motor yang saya jelaskan tadi.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203423)
Mesin Yamaha XSR155. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Apalagi ketika berada di posisi gigi 3. Posisi ini yang paling saya suka, karena tenaganya padat pada putaran mesin bawah atau tinggi.
Sederhananya cocok dibawa cruising santai 30-40 km/jam, juga ideal saat butuh tenaga saat hendak menyalip, tinggal putar gas lebih dalam lagi sampai putaran menyentuh 8.000 hingga 9.000 rpm, dijamin langsung melesat.
Usut punya usut, racikan performa tadi lantaran teknologi VVA (Variable Valve Actuation) yang tersemat pada mesin XSR155 yang serupa Yamaha R15. Hasilnya tenaga merata di setiap putaran mesin.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203424)
Engine guard Yamaha XSR155. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Bicara spesifikasi, tenaganya 19 dk pada 10.000 rpm dan torsi maksimum 14,7 Nm pada putaran 8.500 rpm, yang dikawinkan dengan transmisi manual 6-percepatan.
ADVERTISEMENT

Handling dan bantingan suspensi

Meskipun kaki-kaki depan sudah berupa up side down, sayangnya karakter bantingan suspensi Yamaha XSR155 tidak dikatakan empuk untuk dibawa riding sendirian.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203425)
Test ride Yamaha XSR155. Foto: dok. YIMM
Bagian depan memang mampu meredam benturan dengan baik, beda dengan belakang yang saat melewati garis kejut atau jalan yang berjerawat, guncangannya langsung terasa.
Tapi kombinasi tersebut membuat XSR155 tidak doyong, justru asyik dari segi handling. Bermanuver membelah jalan yang ramai lancar mudah dilakukan.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203426)
Setang Yamaha XSR155 Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Kesimpulan

Saya rasa motor baru Yamaha ini cocok buat Anda yang ingin merasakan pengalaman baru berkendara motor sport naked. Seperti yang dijelaskan di awal, posisi riding dan tenaga motor XSR155 yang membuatnya beda dari yang lain.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203427)
Konsumsi BBM rata-rata Yamaha XSR155. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Terlebih, konsumsi bahan bakarnya juga boleh dibilang irit. Selama saya gunakan dengan gaya bervariasi, mulai menerapkan eco riding, mencoba akselerasinya pada putaran tinggi, menyalip, panel instrumennya mencatatkan konsumsi BBM rata-rata 46-50 km/liter.
ADVERTISEMENT
Apalagi jika Anda juga suka oprek motor, Yamaha XSR155 juga jawabannya. Bila kurang sreg dengan tampilan asli, cukup mudah memodifikasinya sesuai karakter yang diinginkan.
Catatan Kami Setelah Mencoba Yamaha XSR155  (203428)
Yamaha XSR155 yang dimodifikasi konsumennya. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Misalnya ganti setang yang lebih lebar pakai punya Yamaha Byson, dan ganti shockbreaker yang bisa disetel sesuai kebutuhan.