Gaikindo: Teknologi REEV Cocok Buat Pasar Indonesia
·waktu baca 3 menit

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto, menilai perkembangan teknologi elektrifikasi global kian beragam dan tak lagi didominasi battery electric vehicle (BEV).
Ia melihat tren seperti plug-in hybrid hingga range extender electric vehicle (REEV) mulai menguat, termasuk yang ditampilkan di Beijing Auto Show 2026.
Menurutnya, berbagai teknologi tersebut memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar Indonesia. Hal ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan adopsi elektrifikasi berjalan dalam berbagai pendekatan, tidak hanya bertumpu pada satu teknologi saja.
“Ya, pasti masuk ke Indonesia lah. Enggak mungkin enggak. Dari luar negeri sudah berseliweran, akhirnya masuk juga,” ujar Jongkie saat ditemui di acara Omoda & Jaecoo di Beijing, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, teknologi seperti hybrid, plug-in hybrid (PHEV), hingga REEV menawarkan sejumlah keunggulan yang dinilai relevan dengan kondisi pasar domestik. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar teknologi-teknologi tersebut tidak diabaikan dalam pengembangan industri otomotif nasional.
“Dari dulu saya bilang, jangan diabaikan yang namanya hybrid, plug-in hybrid, dan lain-lain. Mereka sudah membuktikan bahwa ini teknologi yang baik dan bisa diterapkan di Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Jongkie memaparkan sejumlah kelebihan REEV dan PHEV, mulai dari emisi yang lebih rendah hingga efisiensi bahan bakar. Hal ini dimungkinkan karena mesin pembakaran internal (ICE) tidak selalu bekerja penuh, sehingga konsumsi energi bisa ditekan.
“Polusi rendah karena mesin ICE-nya jarang jalan. Lalu hemat BBM, karena mesin kadang aktif, kadang tidak,” ujarnya.
Selain itu, kendaraan dengan teknologi ini dinilai tidak terlalu bergantung pada infrastruktur pengisian daya. Dengan kapasitas baterai yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan BEV, pengguna tidak sepenuhnya membutuhkan charging station untuk operasional harian.
“Tidak perlu charging station, harganya juga lebih terjangkau karena baterainya kecil. Kita tahu baterai itu bisa 30-40 persen dari harga mobil,” katanya.
Keunggulan lainnya, teknologi ini masih menggunakan banyak komponen otomotif konvensional. Artinya, industri pendukung seperti manufaktur komponen tetap bisa berjalan dan tidak terdampak signifikan oleh peralihan teknologi.
“Komponen seperti radiator, filter, knalpot masih dipakai. Jadi industri komponen tetap jalan,” ujarnya.
Ia pun mendorong agar pemerintah turut memberikan dukungan terhadap pengembangan teknologi selain BEV. Menurutnya, pendekatan multi-teknologi akan membantu menjaga keseimbangan industri sekaligus memperluas pilihan bagi konsumen.
“Maka dari itu harus disupport juga, jangan semata-mata BEV saja,” katanya.
Di sisi lain, Jongkie menilai kebijakan yang membuat harga kendaraan lebih terjangkau akan berdampak positif pada pasar. Peningkatan penjualan dinilai akan berbanding lurus dengan aktivitas produksi di dalam negeri.
“Kalau penjualan meningkat, produksi jalan. Itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi sebaliknya perlu dihindari karena penurunan penjualan berpotensi berdampak pada industri secara keseluruhan, termasuk tenaga kerja. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang seimbang antara kepentingan industri dan penerimaan negara.
“Kalau penjualan turun, produksi ikut turun. Itu yang bisa berujung ke hal yang tidak kita inginkan,” tutupnya.
