Ini yang Terjadi Jika Baterai Wuling Air ev Sisa 5 Persen
ยทwaktu baca 2 menit

kumparan berhasil menjajal kemampuan optimal mobil listrik Wuling Air ev. Kami bawa bepergian dari Jakarta ke Bandung, kemudian balik lagi ke Jakarta. Teknisnya setelah keluar Gerbang Pasteur, putar balik masuk lagi ke tol lewat Pasteur.
Hasilnya, daya tempuhnya ternyata melebihi klaim pabrikan di atas 300 kilometer. Adapun jarak tempuh yang tercatat di odometer 302 kilometer.
Yang menarik masih ada sisa baterai dengan daya tempuh 12 kilometer lagi. Story mengenai perjalanan tersebut bisa Anda simak di tautan berikut.
Dimulai dari sisa 10 persen
Mode berkendara yang kami pakai adalah kombinasi Normal dan Eco menyesuaikan kondisi. Performanya mumpuni di jalan tol dengan kemampuan baterai dan motor penggerak di roda belakangnya.
Tapi beda cerita ketika daya baterai mulai tiris. Perubahan performa dan penyesuaian komponen mulai terjadi saat baterai menyisakan isi daya 10 persen.
Pada titik ini kompresor akan mati, cuma hembusan angin dari blower yang masih aktif. Ini dilakukan tentu untuk meringankan beban motor penggerak sehingga lebih efisien.
Product Planning Wuling Motors Danang Wiratmoko menjelaskan, hal tersebut merupakan realisasi parameter State Of Charge (SOC), atau perbandingan energi yang tersisa dengan kapasitas energi maksimum baterai.
SOC berkaitan dengan kinerja baterai saat mengalami pengurasan daya dan pengoptimalan baterai ketika diisi penuh lagi. Dengan kata lain, dengan adanya SOC untuk menghindari baterai beroperasi dalam kondisi over charge atau over discharge, sehingga tetap berumur panjang.
"Air ev memiliki fungsi pembatasan pendingin udara saat SOC rendah. Jika fungsi tersebut diaktifkan maka sistem akan secara otomatis mematikan AC ketika level baterai mencapai ambang batas rendah," katanya kepada kumparan.
Sisa 5 persen, distribusi energi Wuling Air ev makin dibatasi
Makin turun sisa baterainya, tenaga yang dikeluarkan makin dibatasi. Saat 7 persen, ternyata maksimal tenaga yang dirasakan dibatasi hanya 7 kW. Larinya pun juga tidak bisa lebih dari 50 km/jam.
Sejurus kemudian di sisa baterai 5 persen, tenaga maksimal cuma 5 kW. Kecepatan paling mentok yang bisa didapat sekitar 40-50 km/jam tergantung elevasi permukaan jalan.
Lanjut 4 persen, berangsur-angsur keluaran daya makin kecil menjadi 4 kW. Laju makin pelan maksimal di 40 km/jam, padahal pedal akselerator sudah diinjak penuh.
Hingga akhirnya menyisakan 3 persen, tenaga yang dikeluarkan hanya 3 kW. Larinya sekitar 30 km/jam. Kendati begitu, dengan sisa energi yang ada tetap bisa membawa kami menempuh jarak Jakarta-Bandung-Jakarta.
