KNKT: Indonesia Kekurangan Sopir Bus dan Truk

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi sopir bus Foto: dok. Nugroho Febianto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sopir bus Foto: dok. Nugroho Febianto

Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan mengatakan Indonesia kekurangan sopir bus dan truk. Kondisi ini mengakibatkan beban kerja yang tinggi para sopir kendaraan sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

“Kita mengalami krisis jumlah pengemudi, ada kekurangan pengemudi bus dan truk. Itu terjadi akibat COVID-19 yang menyebabkan sebagian besar pengemudi beralih profesi,” katanya saat dihubungi kumparan belum lama ini.

Kondisi bus usai terlibat kecelakaan di Kertek Wonosobo. Foto: Dok. Istimewa

Ia tak merinci berapa perbandingannya. Namun, kejadian tersebut banyak ditemukan di perusahaan otobus (PO) maupun jasa pengiriman barang Tanah Air.

Kondisi ini diperparah dengan kompetensi pengemudi yang belum memenuhi standar. Sehingga, risiko kecelakaan lalu lintas menjadi besar.

“Banyak pengemudi kita enggak terlatih dan terdidik dengan baik. Dia bisa mengemudi tetapi asal saja karena diajari temannya,” imbuhnya.

“Sopir-sopir itu bisa mengemudi tetapi enggak paham teknologi kendaraannya. Misal, waktu penggunaan service brake yang tepat, hingga pemahaman sistem pengereman hidrolik yang sangat penting,” lanjut pria ramah ini.

Petugas Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) memeriksa kondisi ban saat menggelar pengecekan kelayakan jalan bus (ramp cek) di Terminal WA Gara, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (20/4/2022). Foto: Makna Zaezar/ANTARA FOTO

Ini berimbas pada jarangnya sopir yang mengecek kendaraannya sebelum berkendara. Sehingga, komponen yang rusak dan menyebabkan kecelakaan tidak terdeteksi.

“Itu (preventive inspection) tidak dilakukan karena minimnya pengetahuan tentang kendaraannya. Ini menjadi pekerjaan rumah yang besar di Indonesia,” ucapnya.

Pelatihan Safety Driving Sopir Bus Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Ahmad Wildan mengatakan, pengetahuan tentang sistem pengereman di truk dan bus menjadi skill dasar yang wajib dipenuhi oleh pengemudi. Sebab, banyak kecelakaan diakibatkan kondisi rem blong.

“Pelatihan-pelatihan di APM (Agen Pemegang Merek) tidak mengajarkan itu. Hanya product knowledge saja, bagaimana servisnya. Di sini, pemerintah dan para APM harus bekerja sama dan menyatukan persepsi apa sih yang harus diajarkan dan disampaikan,” urainya.

Edukasi sopir truk dalam program 'Jasa Marga Tertib Lalu Lintas 2019'. Foto: Ghulam Muhammad Nayazri

Pemerintah sendiri sudah menjalankan pelatihan-pelatihan dasar mengemudi melalui program rutin yang diadakan Kementerian Perhubungan. Permintaannya cukup tinggi tetapi kuotanya cukup besar.

Di sinilah APM bisa membantu pemerintah melalui berbagai program pelatihan skill dasar mengemudi. Organisasi atau karoseri juga bisa membantu pelatihan skill dasar ini.

“Sistem pengereman hidrolik yang ada di truk maupun bus berbagai merek pada dasarnya sama sehingga semuanya bisa berperan. Kalau ini dipenuhi, krisis pengemudi bisa diatasi dan kecelakaan lalu lintas bisa berkurang,” pungkasnya.

video youtube embed