kumparan
8 Sep 2019 9:01 WIB

Mampukah Esemka Bima Tarung dengan 2 Pikap Jepang?

Presiden Jokowi saat mencoba salah satu mobil Esemka. Foto: Dok. Agus Suparto
Esemka Bima yang belum lama ini meluncur langsung jadi pemain baru kendaraan pikap niaga ringan. Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi Eddy Wirajaya menuturkan, nilai jual kasarnya tak sampai Rp 100 juta.
ADVERTISEMENT
Ya, kalau ditambah pajak dan administrasi lain, sehingga punya pelat nomor, Esemka Bima ditaksir berbanderol di bawah 150 jutaan.
Angka yang menggiurkan memang untuk sebuah kendaraan pikap. Tapi kalau disandingkan dengan model lain secara harga, Esemka Bima bersinggungan langsung dengan dua model yang sudah identik sebagai mobil pekerja, Suzuki Carry pikap dan Daihatsu Gran Max pikap (PU).
Dari laman resmi masing-masing pabrikan, Suzuki Carry pikap dibanderol mulai dari Rp 138,6 dan Daihatsu Gran Max PU dari Rp 133,9 juta.
Lewat euforia peluncuran, Esemka Bima bisa saja berpotensi merenggut pasar. Terlebih bagi beberapa merek, Jawa Tengah --yang juga jadi basis Esemka-- punya kontribusi penjualan yang cukup besar.
Soal ini, Head of Brand Development and Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Harold Donnel menyambut positif ihwal persaingan segmen kendaraan niaga ringan.
ADVERTISEMENT
"Artinya ini jadi persaingan sehat, terus juga konsumen jadi lebih banyak pilihan. Ya semuanya seharusnya bisa berjalan beriringan, tinggal realisasinya seperti apa," ujarnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (8/9).
Test drive Suzuki Carry pikap Foto: dok. SIS
Senada dengan Harold, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra juga mengaku tak ambil pusing soal persaingan produknya itu.
"Persaingan menjadi hal yang biasa. Nanti pembeli yang menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka, ujung-ujungnya konsumen yang paling diuntungkan," jelasnya.
Daihatsu Gran Max Foto: dok Aditya Pratama Niagara/kumparan
Unggul mana soal tenaganya?
Sedikit sulit memang untuk mengkomparasikan daya mesin ketiganya secara apple to apple. Mengingat masing-masing model punya varian.
Tapi coba kami jabarkan. Esemka Bima bermesin 1.200 cc bisa mengeluarkan output 96 dk dan torsi 119 Nm. Sementara versi 1.300 cc, bertenaga 84 dk dan torsi puncak 105 Nm.
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) mengamati salah satu produk mobil keluaran pabrik mobil Esemka. Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Untuk Suzuki Carry pikap sendiri hanya punya satu mesin: 1.500 cc. Dari data teknisnya, keluaran tenaganya 95 dk dan 135 Nm.
ADVERTISEMENT
Sedangkan Gran Max PU, ada pilihan mesin 1.300 cc dengan output 86 dk juga torsi 114 Nm. Adapun pada mesin 1.500 cc, menjanjikan tenaga 97 dk serta torsi 134 Nm.
Terjawab memang tenaganya lebih besar siapa. Bila diurutkan, tentunya bisa terlebih dahulu pilih Gran Max PU, dilanjut Bima, baru Carry pikap.
Ukuran bak, siapa jagonya?
Selayaknya digunakan untuk mengangkut barang, mobil pikap mesti punya ruang bak yang lega. Kalau Esemka Bima 1.2L punya panjang bak 2.750 mm, lebar 1.600 mm, dan tinggi 460 mm.
Sedangkan versi 1.3L bisa lebih menawarkan ruang yang sedikit lebih lega, dengan ukuran panjang 2.970 mm, lebar 1.740 mm, dan tinggi 470 mm.
Nah, kalau Carry pikap ternyata punya ukuran panjang yang lebih pendek dari dua model sebelumnya. Berdasarkan data spesifikasi, Carry pikap punya panjang bak 2.505 mm, lebar 1.665 mm (1.745 untuk pilihan wide deck), dan tinggi 360 mm (425 mm varian wide deck).
Test drive Suzuki Carry pikap Foto: Muhammad Ikbal/kumparan
Menariknya ukuran bak Daihatsu Gran Max PU nyatanya cukup kecil bila dibandingkan mobil serupa dari Esemka maupun Suzuki. Ukuran panjang baknya hanya 2.350 mm, lebar 1.585 mm, serta tinggi 300 mm (360 mm untuk bak yang sampingnya bisa dibuka).
ADVERTISEMENT
Well, dari sisi bobot, Esemka Bima kembali unggul karena punya berat kosong sekira 1.070 kg, sedangkan Daihatsu Gran Max PU punya bobot kosong 1.950 kg (2.100 kg versi 1.5L).
Daihatsu Gran Max. Foto: Istimewa
Purnajual Esemka jadi hambatan
Dari perbandingan spesifikasi di atas kertas, Esemka Bima memang menunjukkan keunggulannya. Mau tenaga sampai kelegaan ruang penyimpanan barang, para konsumen kendaraan niaga ringan pasti tidak menutup sebelah matanya lagi ke Esemka.
Pekerja merakit mobil pick up di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Cuma ada satu permasalahan mendasar. Esemka belum memiliki jaringan purnajual sebanyak dua merek kompatriot yang sebelumnya sudah kami sampaikan.
Akibatnya, ini jadi nilai negatif sehingga konsumen bakal berpikir dua kali sebelum benar-benar memboyong Esemka Bima. Maklum, kendaraan seperti pikap kerap dijadikan aset sebagai teman berwirausaha dan diharapkan punya umur pakai yang panjang.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan