kumparan
20 September 2019 10:46

Menperin: Esemka Mirip Mobil China itu Bukan Haram

Liputan Khusus Mobil Esemka
Misteri mobil Esemka Foto: Indra Fauzi/kumparan
Airlangga Hartarto senang bukan kepalang. Ia tak henti menebar senyum usai sukses menjajal Bima, mobil buatan PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK). Siang itu, bersama Presiden Joko Widodo, ia berhasil melibas test track sepanjang 300 meter.
“Pak Presiden nyaman dengan kendaraan ini,” ujar Menteri Perindustrian cum Ketua Umum Partai Golkar itu kepada kumparan di kantornya, Kamis (19/9).
Bima, mobil Esemka yang berhasil membuat Jokowi senang itu merupakan kendaraan komersial bertipe pikap (kendaraan niaga). Bima merupakan mobil produksi pertama PT SMK. Nantinya PT SMK juga akan memproduksi mobil tipe penumpang double cabin yang akan diberi nama Digdaya. Selain itu, akan ada juga mobil minivan dengan nama Borneo.
Namun belum sampai produksi jenis lainnya, mobil tipe pertama Esemka itu langsung mendapat kritik sana-sini. Pikap berwarna putih itu dianggap mirip dengan mobil China. Namun, Airlangga punya pandangan berbeda.
“Industri otomotif ini sudah banyak tukar menukar model. Jadi itu bukan sesuatu yang haram. Itu sesuatu yang biasa dilakukan,” ujar Airlangga.
LIPSUS, Mobil Esemka, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Dia juga optimistis kalau mobil-mobil Esemka ini bisa mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.
Bila menengok perjalanannya, mobil Esemka pada bukanlah barang baru. Pada akhir 2006, Sukiyat bersama anak-anak SMKN 1 Trucuk, Klaten, melakukan percobaan membuat mobil. Bukan untuk kebutuhan industri, hanya sebatas sebagai media belajar.
Mobil berjenis sport utility vehicle (SUV) yang diberi nama Kiat Esemka itu sempat menjadi mobil dinas Jokowi saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Kini Esemka bukan hanya sebagai prototipe alat percobaan. Esemka menjelma menjadi mobil yang siap meramaikan industri otomotif tanah air. Namun, sang pencetus tak lagi terlibat. “Pak Kiyat sudah tidak terlibat. Memang dari awal tidak terlibat di pabrik yang ini,” ujar Airlangga.
LIPSUS, Mobil Esemka,Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo (tengah) menandatangani prasasti saat meresmikan pabrik mobil Esemka. Foto: kumparan
Lalu bagaimana prospek Esemka di masa mendatang dan mungkinkah nantinya Esemka menjadi mobil nasional? kumparan berbincang dengan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto di Gedung Kemenperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (19/9). Berikut wawancara lengkap kumparan dengan Airlangga:
Bagaimana cerita peresmian pabrik Esemka PT Solo Manufaktur Kreasi di Boyolali?
Pertama tentu acara tersebut Bapak Presiden melihat fasilitas produksi untuk produk Esemka dan juga pilihan Esemka untuk memproduksi kendaraan berjenis pikap. Tentu Presiden sendiri melihat bahwa ini suatu terobosan yang baik karena pilihan jenis ini, pilihan kendaraan yang tidak sensitif terhadap brand tertentu.
Apalagi kendaraan ini adalah kendaraan yang dianggap fungsional untuk komersial. Tentu dilihat dari jenis produk dan dari segi nilai komersialnya itu dianggap mampu bersaing. Karena dengan harga off the road Rp 95 juta, harga on the road Rp 110 juta itu mempunyai appeal terhadap pasar. Dan pasar di situ rata-rata di situ tujuannya untuk logistik, mengangkut barang.
 LIPSUS, Mobil Esemka, Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan kedua) mencoba salah satu produk mobil keluaran pabrik mobil Esemka saat meresmikan pabrik mobil PT. Solo Manufaktur Kreasi (Esemka). Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Dilihat baknya cukup besar dan mampu membawa beban sebesar 1 ton. Tentu ini menjadi salah satu daya tarik pembeli ke depan. Kedua Pak Presiden juga melihat stand-stand yang menjadi supplier daripada industri Esemka. Mulai dari bajanya, kemudian sasisnya ada dari PT Inka, ada oil filter-nya, ada dari akinya di-press. Shock breaker, kemudian sistem yang lain termasuk holding mulai dari bumper sampai desk sport. Kemudian dari supplier kursinya. Sehingga Presiden menyaksikan 60 persen dari lokal konten yang menjadi mitra daripada kendaraan Esemka ini. Dan memang kalau kita lihat feature-nya sederhana.
Anda sempat menyupiri Presiden Jokowi untuk menjajal mobil Esemka. Apa yang Jokowi sampaikan saat itu?
Tentu posisi kendaraan itu cukup nyaman, karena kemarin namanya track untuk percobaan, jadi test track itu ada jalan nanjak ada turun, ada bergelombang, ada berbatu, kemudian lurus, di setiap itu untuk melihat kaki-kaki rodanya kuat atau enggak. Pengendaraannya nyaman atau enggak, dan mobil ini adalah mobil manual. Jadi tentu Pak Presiden merasa nyaman dengan kendaraan ini. Komentar secara general Pak Presiden nyaman.
Apakah Anda cukup yakin mobil Esemka akan mampu bersaing?
Ya seperti yang tadi saya katakan bahwa ini bersaing. Selain bersaing secara brand image juga aftersales, dan jaringan distribusi. Itu yang harus dibangun oleh Esemka ini.
Tentu spare part yang digunakan multiple source. Artinya spare part ini common use juga, digunakan di merek-merek lain. Karena mesinnya sederhana, kalau kita bicara busi kita bicara oil filter, bicara jenis aki, bicara komponen lain, mudah didapatkan di pasar. Jadi tentu memudahkan perawatan, kalau kendaraan (lain) sekarang ini tidak mudah karena dia harus authorized bengkel. Kalau ini (Esemka) tidak perlu authorized bengkel, ini bisa melakukan perawatan produknya. Oleh karena itu, ini cocok di pedesaan, di rural, di tempat-tempat yang jalannya relatif lebih sempit.
Kalau strategi pemasaran diserahkan kepada korporasi. Jadi pemerintah tidak mencampuri strategi pemasaran.
Seperti apa keterlibatan Kementerian Perindustrian dalam pembuatan mobil Esemka?
Kemenperin kemarin kami mengembangkan komponen ya. Jadi dari komponen lokal itu lahir dua produk. Satu yang namanya Amdes (alat multiguna perdesaan), itu lahir dari komponen. Kebanyakan komponennya kelompoknya Astra. Dan itu Amdes itu sudah prototipe sudah masuk ke pasar. Kemudian yang kedua basisnya antara astra dan asosiasi komponen PIKKO (Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif), dan itu yang digunakan di dalam Esemka.
LIPSUS, Mobil Esemka, Pabrik Esemka di Boyolali
Sejumlah mobil Esemka terparkir di dalam Pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah. Foto: kumparan
Komponen lokal di mobil Esemka ini mencapai 62 persen. Bisa dijelaskan lebih detail?
Komponen lokal yaitu ban lokal, velg lokal, sasis lokal. Jadi hampir 60 persen lokal. Wiring Harness lokal, lampu lokal, kaca lokal. Kita dari segi industri komponen untuk industri otomotif itu sudah hampir 90 persen bisa diproduksi di dalam negeri. Cuma persoalannya adalah volume.
Kalau industri yang berbasis multinasional rata-rata berproduksi di atas 50 ribu atau 100 ribu. Sedangkan kalau industri tadi yang saya sebut apakah itu Amdes apakah itu Esemka itu kan volumenya baru sekitar 25 ribuan satu tahun. Jadi tentu berbeda.
Jadi bukan berarti komponennya tidak bisa dibikin di Indonesia, tapi pesan di Indonesia pun harus ada economic of skill-nya. Orang pesen barang kan jumlahnya harus banyak. Kalau jumlahnya masih terbatas ya dia harus mengkombinasikan dengan apa yang tersedia di lokal dan apa yang mesti dicari secara multisource.
Untuk investor, apakah semuanya berasal dari dalam negeri?
Investor-investor nasional. Seluruhnya.
Apakah mobil Esemka saat ini sama dengan mobil Kiat Esemka?
Promotornya salah satunya sama. Artinya di situ bukan hanya Pak Sukiyat. Di sini ada namanya Pak Joko. Jadi dulu Pak Joko juga terlibat. Jadi di sini Pak Joko dan investor nasional bergabung untuk memproduksi produk yang namanya Esemka. Kalau Pak Kiyat sudah tidak terlibat. Memang dari awal tidak terlibat di pabrik yang ini.
Bagaimana Anda menanggapi anggapan miring soal mobil Esemka yang dianggap mobil China?
Kalau kita lihat industri otomotif ini sudah banyak tukar menukar model. Jadi itu bukan sesuatu yang haram. Itu sesuatu yang biasa dilakukan.
Jadi kalau di Eropa ada mobil di Italia namanya Fiat di Spanyol namanya Seat. Itu mereka punya sasis cross main body mungkin ada perubahan-perubahan sedikit. Demikian pula di Indonesia ini antara Daihatsu dan Toyota ini kan ada cross antara Toyota Avanza dengan Daihatsu Xenia ini juga kan cross. Jadi ini sesuatu yang umum-umum saja.
LIPSUS, Mobil Esemka, Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo mencoba salah satu produk mobil keluaran pabrik mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Dok. Agus Suparto
Apakah Presiden Jokowi meminta mobil Esemka digenjot perkembangannya?
Tentu, namanya bisnis pengembangan tergantung daripada pasar, jadi sesudah pikap mereka merencanakan produksi yang multi passanger vehicle (MPV) atau sport utility vehicle (SUV). Itu harapannya masuk ke dalam market yang lebih kompetitif lagi, karena kompetisinya sudah dari mana-mana.
Kalau melihat perjalanannya mobil Esemka ini cukup panjang. Kenapa baru tahun 2019 Esemka baru benar-benar masuk industri?
Jadi beda, pada waktu itu diproduksinya bukan dalam skala industri. Sekarang sudah dalam skala industri. Jadi sama seperti juga langkahnya Gesits. Gesits itu dulu dimulainya di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Skalanya bukan industri. Skala bagian dari research perguruan tinggi. Begitu masuk di dalam industri kan perlu membuat pabrik. Perlu ada investasi tambahan, perlu membuat jaringan distribusi dan yang lain. Jadi tentu pemikiran untuk memproduksi atau membuat itu berbeda dengan membangun sebuah industri. Sekarang Esemka membangun industri otomotif.
Apa yang Anda harapkan dari Esemka?
Tentu Esemka itu adalah mobil dengan merek nasional, dan didukung oleh perusahaan nasional. Kita tahu mobil yang banyak beredar, produksinya nasional tetapi didukung oleh multi nasional. Walaupun jenis model yang ada di Indonesia tidak diproduksi di negara aslinya mereka. Bahkan seperti Low Cost Green Car (LCGC) Daihatsu, atau Toyota Avanza, Suzuki Karimun, atau yang lain yang membawa brand LCGC itu kan diproduksi berdasarkan yang dibuat oleh kementrian perindustrian.
Karena spesifikasi persyaratannya sesuai dengan apa yang didorong dalam roadmap kementerian. Sekarang terbukti bahwa mobil jenis tersebut diminati di negara lain, sehingga itu bisa diekspor ke 80 negara. Basisnya adalah otomotif indonesia dan sekarang juga dalam waktu dekat SUV akan diekspor ke Thailand itu membuktikan bahwa Indonesia punya daya saing. Dibanding dengan region lain seperti Chevrolet yang akan diekspor ke Thailand, tetapi khusus untuk pasar Thailand, mereka melihat bahwa Indonesia ini punya daya saing apalagi di sesama negara ASEAN.
Presdir PT Esemka Eddy Wirajaya menegaskan bahwa Esemka bukan mobil nasional. Apakah mungkin suatu saat mobil Esemka bisa menjadi mobil nasional?
Jadi mobil nasional itu punya sejarah yang tidak bagus. Dalam arti dulu mobil nasional itu salah satu dalam peraturan pemerintah diproduksi di mana-mana, termasuk di luar Indonesia. Kalau pakai branding mobil nasional maka dia bisa dapat biaya masuk nol. Oleh karena itu minta dihapuskan. Pada waktu itu yang mendapatkan fasilitas hanya satu perusahaan.
Sekarang kita membuat ekosistem industri otomotif, jadi siapapun yang bisa masuk ke dalam ekosistem itu ya silakan untuk berproduksi. Sekarang khusus untuk merek nasional itu ada juga dalam Perpres Percepatan Mobil Listrik di mana disebutkan bahwa apabila mobil itu mempunyai brand nasional kita bisa berikan tambahan fasilitas. Sehingga kebijakan keberpihakan pemerintah terhadap merek nasional ada di sana.
Kalau mengacu pada industri lain, makanan, minuman dan yang lain kita punya banyak merek nasional, bahkan merek internasional. Jadi ini secara prinsip sama aja, kita kembangkan adalah ekosistem industrinya. Bukan kebijakan dalam tanda petik berpihak hanya satu PT, pemerintah tidak bisa melakukan itu.
LIPSUS, Mobil Esemka, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Mobil Esemka ramai menjadi perbincangan menjelang pemilu. Apakah ada hubungannya dengan politik?
Kalau orang bikin pabrik itu tidak berhubungan dengan politik, karena politik itu kan kaitannya 5 tahun sekali, orang kan enggak mau berproduksi 5 tahun sekali. Orang ini kan mau kontinuitas.
Kalau bisnis enggak ada yang bisa dipolitikkan, karena itu kaitannya dengan investasi kaitannya dengan return of investment. Enggak ada businessman yang mau berinvestasi hanya untuk kegiatan politik. kegiatan politik ya nyetak baliho.
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan