Penjelasan Teori 4 Detik untuk Jaga Jarak Aman Berkendara di Jalan Tol
·waktu baca 5 menit

Kecelakaan yang melibatkan mobil dengan sebuah truk kembali terjadi. Terbaru, sebuah Lexus dengan nopol B 77 APR menabrak truk pengangkut besi B 9856 CYT di Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR).
Dikutip dari kumparanNEWS, TMC Polda Metro Jaya melaporkan, peristiwa itu terjadi pada pukul 00.30 WIB, Rabu (16/2). Mobil melaju dari arah Pondok Indah ke Ampera.
Dari foto yang dibagikan, mobil hitam yang diduga Lexus RX 300 itu menabrak bagian belakang truk hingga menyebabkan bagian sisi kiri depan ringsek hingga ke bagian tengah kabin.
"Korban mengalami luka-luka dan kecelakaan sudah dalam penanganan petugas Polri," tulis TMC Polda Metro di akun Twitter-nya.
Pentingnya jaga jarak aman
Kecelakaan SUV mewah tersebut terjadi diduga karena pengemudi tidak dapat menjaga jarak dengan kendaraan yang ada di depannya. Padahal, menjaga jarak sangat penting, apalagi ketika berada di jalan yang banyak dilalui oleh kendaraan besar seperti truk dan bus.
Menurut Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan risiko terjadinya kecelakaan seperti tabrakan, terserempet, benturan sangat besar apabila tidak menjaga jarak. Belum lagi berbicara faktor lainnya seperti kondisi mobil dan lingkungan sekitar.
“Hal lain yang harus kita perhatikan di sini kondisi mobilnya seperti apa, kondisi lingkungannya seperti apa, dan gimana kondisi pengemudinya. Kalau kita lihat kejadiannya kan di atas jam 12, itu jam-jam waktunya orang istirahat, jam badan lagi drop-drop-nya,” ujar Sony ketika dihubungi kumparan (17/2).
Sony menambahkan, kondisi pengemudi ketika berkendara pada waktu atau jam tertentu juga menjadi faktor lainnya yang perlu diperhatikan khusus ketika mengemudi.
“Idealnya, aktivitas harusnya yang ringan-ringan tidak boleh berat-berat, kalau kita berbicara mengemudi itu kategori bekerja dan beraktivitas berat karena semua bagian tubuh bekerja terutama otak ya, harus fokus berkendara, dan saya pastikan kalau jam 1 malam atau jam 12 ke atas itu sudah pasti kondisi primanya lagi drop,” sambungnya.
Selain itu, perlu juga memahami bahwa kendaraan yang dibawa tidak selamanya mampu selalu diandalkan pada setiap kondisi tertentu.
“Kemudian berbicara soal kondisi mobilnya, memang tidak tahu persis bagaimana kondisi sebenarnya tetapi kita tidak selalu bisa mengandalkan mobil sepenuhnya. Mau itu dikatakan strukturnya bagus atau kuat, mobilnya jenis SUV, tapi kan namanya kecelakaan kita tidak bisa memilih,” tukas Sony.
Jaga jarak dengan waktu ideal
Sony membeberkan soal jaga jarak yang aman yakni dengan menjaga rentang waktu 4 detik dengan kendaraan yang ada di depannya. Mengapa 4 detik?
Menurut Sony itu sudah disesuaikan dengan reaksi manusia, ia menyebut ketika hendak melakukan pengereman itu butuh waktu 1 detik, kemudian saat pengereman itu butuh waktu 1 detik.
“Kemudian kondisi lingkungan baik itu kelembaban, kondisi ban, dan kondisi aspal itu mewakili 1 detik, sampai sini saja sudah 3 detik,” pungkasnya.
Pada detik ke-4 menjadi waktu krusial karena pada momen ini pengemudi tidak dapat memperkirakan kejadian yang akan terjadi pada beberapa detik ke depan.
“Detik ke-4 itu adalah safety factor atau kondisi yang tidak bisa kita duga misalnya hujan, jalan licin atau slip dan sebagainya, sehingga jarak yang ideal adalah 4 detik dari mobil kita dengan kendaraan yang ada di depan kita,” jelasnya.
Artinya kalau jaga jarak kita kurang dari 4 detik, risiko tabrakan akan semakin besar. Sony mengatakan, yang dapat meminimalisasi risiko tabrakan ini adalah kondisi fisik dan keterampilan mengemudi.
“Nah, kalau kita berkendara mengandalkan keterampilan kita itu faktor keberhasilannya cuma 50 persen, yang bisa menentukan selanjutnya adalah soft skill atau perilaku kita,” ujarnya.
Soft skill yang dimaksud Sony adalah sikap pengemudi bagaimana menyikapi kondisi lingkungan sekitar. Jadi pengemudi harus memenuhi dua aspek itu, keterampilan dan soft skill. Sony mengatakan jika tidak bisa menyelaraskan kecepatan sesuai dengan ketentuan batas kecepatan di jalan tol, berpotensi tabrakan.
“Untuk menghindari itu kita punya kemampuan melihat, meminimalisasi, mendeteksi, kemudian memutuskan kita ada di lajur mana, kecepatan berapa, jaga jarak seperti apa, semua orang kan punya kemampuan itu hanya saja tidak diasah, karena tidak diasah akhirnya mengandalkan ego, ketika ego yang digunakan berarti mengedepankan agresivitas,” imbuhnya.
Berhadapan dengan kendaraan besar di jalan raya
Setiap pengemudi harus senantiasa jaga jarak aman antar kendaraan di depannya. Apalagi ketika berkendara di belakang bus atau truk. Ketika berada di belakangnya, sebaiknya menjaga jarak sedikit lebih jauh. Ini karena tidak semua kondisi truk mudah terlihat oleh pandangan mata.
“Kalau kita berbicara kendaraan besar seperti truk atau bus, untuk bus okelah dia secara visual masih lebih terlihat tetapi kalau truk itu rata-rata itu gelap dominannya karena kotor kalau malam sering tidak kelihatan, sebagian fungsi lampunya tidak bekerja atau ada yang berfungsi hanya saja karena kotor itu tadi jadi tidak kelihatan,” papar Sony.
Menurutnya, truk besar seolah mudah dilihat, padahal ketika malam truk tidak mudah terlihat karena kotor dan truk tersebut rata-rata berjalan pelan di bawah ketentuan batas kecepatan minimal jalan tol di lajur kiri, biasanya truk berjalan antara 40 sampai 50 kpj.
“Kecepatan 80 kpj di lajur kiri atau 100 kpj di lajur tengah ini berpotensi menabrak atau ditabrak. Balik lagi soal truk yang tidak mudah terlihat, besar, kecepatan di bawah rata-rata bermanuver sangat-sangat susah, sehingga kita tidak bisa berpikiran bahwa kendaraan besar sama dengan kendaraan yang kita bawa,” jelas Sony.
