Pentingnya Memahami Blind Spot Truk dari Sudut Pandang Pengemudi
ยทwaktu baca 3 menit

Kendaraan besar seperti truk atau sejenisnya sangat akrab dengan yang namanya titik buta, blind spot sebutan umumnya. Awak kumparan diajak oleh PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) untuk belajar memahami titik rawan tersebut secara langsung.
Bertempat di Isuzu Training Center Bekasi, kami dipersilakan untuk menjajal langsung truk ukuran medium menggunakan unit Isuzu Giga. Dua unit telah disiapkan untuk berjalan melewati lintasan artifisial dan satu lagi unit statis atau keadaan diam.
Learning Centre and Transformation Division IAMI, Thomas Aquino Wijanarka mengatakan data kecelakaan selama tahun 2023 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlahnya 152.008 kasus atau meningkat 10 persen dibanding 2022 yang totalnya 137.851 kasus.
"Dibanding 2022, kenaikannya memang relatif kecil 10 persen. Tapi kalau dilihat 12 persen di antaranya menyebabkan kematian, 12 persennya lagi itu melibatkan angkutan barang," ujar Thomas di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (2/7/2025).
Thomas menambahkan, Isuzu dan juga Astra International berupaya turut serta memberi edukasi keselamatan yang selama ini ditujukan untuk pengemudi truk, bersamaan dengan kampanye Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas.
"Terkadang yang menjadi penyebab kecelakaan bukan atau tidak selalu dari sopir truk atau kendaraannya itu sendiri. Tetapi kendaraan-kendaraan yang ada di sekitar truk, terutama sepeda motor," imbuhnya.
Salah satu faktornya adalah blind spot besar dan luas yang melekat pada kendaraan besar seperti truk. Thomas bilang, banyak sekali pengendara lain yang tidak paham ruang buta dan minim visibilitas itu ketika berada di sekitar truk.
Setidaknya ada 6 titik ruang blind spot pada truk yakni area buritan kendaraan, kemudian sisi kiri dan kanan yang melebar dari belakang hingga ke depan, lalu berada persis di bagian depan. Ini jadi salah satu alasan mengapa truk umumnya punya lebih dari dua kaca spion.
Tiba saatnya kami menjajal truk Isuzu Giga FVM dengan panjang lebih kurang nyaris 12 meter termasuk bak, serta Isuzu Giga GVR yang merupakan kepala truk kontainer. Keduanya punya tinggi serupa yakni 2,8 meter.
Awak kumparan dengan postur badan 173 cm dan duduk menyesuaikan gaya mengemudi yang pas hanya dibantu menggunakan kaca spion kiri dan kanan, plus kaca samping dan depan untuk visibilitas bermanuver.
Tanpa berusaha melongok ke samping kanan atau area kiri, termasuk depan ke bawah, sejatinya daya pandang selain ke depan memang sangat terbatas. Objek atau seseorang yang persis berdiri di pintu kanan pengemudi tidak tertangkap oleh spion kanan.
Pun dengan di kiri, jika ada objek berdiam 2-3 meter dari bodi truk tidak akan terlihat. Termasuk area depan, jika tidak menggunakan kaca spion bantuan yang khusus untuk mengawasi bagian muka truk, objek juga tidak akan terlihat sama sekali.
Mencobanya sambil mengendarainya, lebih menantang lagi. Kami dituntut untuk selalu rajin mengawasi setiap titik dan sudut truk, ini juga unit masih dalam keadaan standar atau tidak umumnya di Indonesia yang biasanya dimensinya diubah sedikit lebih besar.
Lain lagi saat ambil ancang-ancang sebelum berbelok, kami harus memastikan bahwa sudut belakang bak atau bodi truk tidak mengenai objek lain saat berpindah haluan. Hal yang juga kerap luput oleh pengendara lain dan akhirnya tersenggol.
Thomas menyarankan kepada pengendara yang berada di sekitar truk agar tidak atau berlama-lama di posisi yang sangat dekat dengan bodi truk. Objek baru tertangkap di spion sekitar setengah hingga satu meter dari bodi truk.
