Plus Minus Relaksasi PPnBM Mobil Baru
·waktu baca 3 menit

Program relaksasi PPnBM yang diberikan oleh pemerintah sejak Maret 2021 berhasil meningkatkan penjualan di industri otomotif. Tidak hanya itu, program ini juga menuai pro dan kontra.
Adapun, pengamatan ini dilakukan oleh Institute for Strategics Initiative (ISI) dengan melakukan analisa media untuk mengamati argumentasi pro dan kontra terkait PPnBM selama periode Maret hingga Juni 2021.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, ada sebanyak 40 persen yang mendukung kebijakan PPnBM ini karena sangat membantu mendorong penjualan mobil yang sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19.
Selain mendorong penjualan mobil, terdapat sekitar 20 persen yang merasa dengan adanya program ini sangat mendongkrak industri otomotif. Hal ini membuat beberapa orang berpendapat dengan adanya program relaksasi, justru meningkatkan daya beli masyarakat di tengah pandemi ini.
Sekitar 10 persen mengakui bahwa industri otomotif memiliki multiplier effect yang sangat besar untuk sektor-sektor di sekelilingnya. Sehingga dengan adanya PPnBM ini dapat meningkatkan pendapatan negara.
“Industri otomotif sendiri merupakan sektor yang memiliki multiplier effect yang tinggi terhadap sektor-sektor yang terkait dengannya,” ujar Direktur ISI Luky Djani pada acara webinar Evaluasi Dampak Insentif PPnBM DTP Kendaraan Bermotor.
Tidak hanya meningkatkan pendapatan, PPnBM ini juga berhasil menciptakan lapangan kerja yang sangat besar. Selain di industri otomotif tetapi juga di sektor-sektor yang mampu berkontribusi langsung terhadap industri otomotif, seperti industri komponen, karet. Tidak sampai situ saja, industri asuransi sampai industri keuangan juga terbantu berkat PPnBM.
Pro dari PPnBM satu ini dapat dibilang sangat unik, sebanyak 3 persen yang mengakui bahwa program ini dapat membantu mengurangi polusi udara karena banyak orang yang mengganti mobil lamanya dengan mobil baru.
Kontra PPnBM
Wahyudi Tohar dari Institute for Strategic Initiative menambahkan, kontra yang dihasilkan dari PPnBM ini membuat beberapa pihak pedagang mobil bekas khawatir.
“Banyaknya kekhawatiran dari pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat PPnBM terkait dengan risiko kerugian yang didapat oleh sektor terkait industri otomotif lainnya yaitu perdagangan mobil bekas,” ucapnya.
Kemudian sebanyak 24 persen yang merasa bahwa PPnBM ini bukanlah prioritas pada saat pandemi ini. Karena pemerintah seharusnya fokus kepada pemulihan kesehatan dan sebagainya.
Wahyudi melanjutkan, ada beberapa yang mengeluh karena adanya PPnBM, waktu tunggu dari proses penyerahan unit mobil terlalu lama.
"Masa tunggu proses penyerahan unit dinilai terlalu lama, sehingga dalam beberapa bulan fase pertama mengalami penurunan bisa jadi karena masa libur tapi bisa jadi dipengaruhi karena masalah produksi," tuturnya.
Sementara 6 persen merasa PPnBM ini berorientasi jangka pendek dan 6 persen mengeluh karena tingginya daya beli sehingga mampu meningkatkan emisi karbon.
Yang terakhir, menilai bahwa kebijakan ini bertolak belakang dengan kebijakan yang sedang didorong oleh Kemenhub, yaitu penggunaan transportasi publik.
