Produksi Subang, Harga Mobil Listrik BYD Bakal Lebih Murah?

Mulai diproduksinya mobil listrik BYD di pabrik Subang memicu spekulasi terkait potensi perubahan harga jual kendaraan, apakah akan menjadi lebih murah?
Menanggapi hal tersebut, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengungkapkan harga mobil listrik BYD lokal dipastikan bakal tetap stabil alias tidak berubah drastis dibanding versi impor (CBU). Hal ini disebabkan oleh adanya mekanisme kebijakan fiskal dari pemerintah yang sudah menyelaraskan skema perpajakan kedua status kendaraan tersebut.
"Transisi dari CBU mengarah ke local production itu ada situasi yang sengaja dibentuk melalui mekanisme kebijakan fiskal agar smooth perpindahannya. Sehingga membuat struktur fiskalnya itu sama antara impor dan produksi sini," ujar Luther saat ditemui di pabrik BYD Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9).
Dengan demikian, anggapan bahwa harga mobil akan turun drastis setelah dirakit lokal atau justru naik karena penyesuaian skema produksi adalah kurang tepat. Penyelarasan beban fiskal oleh pemerintah memastikan konsumen mendapatkan kepastian harga yang sama.
Luther menekankan bahwa penentu utama yang sebenarnya dapat menekan harga kendaraan di industri otomotif pada dasarnya terletak pada skala volume produksi, bukan sekadar lokasi perakitannya.
"Komponen pembentuk harga itu sebenarnya harusnya volume. Kalau berbasis produksi tapi kita enggak dapat volume-nya, juga malah menciptakan harga yang jauh lebih mahal," tuturnya.
Oleh karena itu, fokus BYD saat ini adalah menggeber volume produksi pabrik Subang hingga mencapai kapasitas optimal agar tercipta efisiensi biaya manufaktur yang sehat dan ideal.
"Makanya sekarang kita konsentrasi sekali untuk mengoptimalkan produksi yang kita miliki, apalagi kapasitas pabrik ini bisa sampai 150 ribu unit per tahun," tandasnya.
Saat ini Luther bilang, kapasitas produksi pabrik BYD di Subang telah menyentuh angka mendekati 10 ribu unit per bulan untuk menyesuaikan dengan ritme permintaan pasar domestik.
Upaya menjaga stabilitas harga ini dilakukan demi mempertahankan kepastian dan kepercayaan konsumen yang telah membeli unit sejak awal peluncuran.
Di sisi lain, BYD meyakini bahwa dengan mempertahankan struktur harga yang stabil serta didukung skala produksi yang terus membesar, ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan.
"Sebenarnya harusnya idealnya itu ada perubahan. Tapi saya beri tahu kepada teman-teman, komponen pembentuk harga itu sebenarnya harusnya volume. Nah makanya sekarang kita konsentrasi sekali untuk mengoptimalkan produksi yang kita miliki," tutup Luther.
