Sukses Bioetanol, Indonesia Bisa Belajar dari India hingga Brasil
22 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 3 menitDiperbarui 17 November 2025 16:19 WIB

Sukses Bioetanol, Indonesia Bisa Belajar dari India hingga Brasil
Beberapa negara yang telah memproduksi dan memasarkan bioetanol. Sehingga, bisa menjadi acuan untuk Indonesia. #kumparanOTOkumparanOTO

ADVERTISEMENT
Sejalan dengan target transisi energi bersih, pemerintah Indonesia tengah gencar mempersiapkan bahan bakar minyak (BBM) kendaraan dengan campuran etanol dengan sebutan bioetanol.
ADVERTISEMENT
Peneliti Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), Ronny Purwandhy mengatakan, Indonesia bisa meniru kesuksesan negara lain yang telah lebih dulu mengadopsi bioetanol.
Kata Ronny, Pemerintah India langsung ikut andil dengan memberikan keringanan bagi para petani tebu melalui program Ethanol Blending Programme. Hal ini dilakukan untuk mendorong sektor pertanian menanam bahan baku bioetanol yang potensial.
India memanfaatkan bahan baku lokal seperti molase dari industri gula, seraya memberi insentif kepada produsen, serta penjaminan harga beli etanol yang menarik. Hasilnya konsumsi bioetanol meningkat dan menjadi pilar penting kebijakan energi nasional.
”India dengan E20 ada contoh tentang kebijakan harga dan insentif petani tebu. Pemerintah turun tangan untuk memberikan insentif ke petani supaya petani mau menanam tebu,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Sementara, Thailand memproduksi bioetanol dengan bahan baku singkong. Kualitas singkong Thailand pun berbeda menurut Ronny. Kandungan pati versi Thailand lebih tinggi hingga 30 persen, sehingga potensial untuk diolah menjadi bioetanol. Sementara singkong Indonesia hanya sekitar 10 persen.
Adapun di Brasil bisa dikatakan rujukan sukses sebagai pionir pemanfaatan bioetanol sejak 1970-an melalui program Proalcool. Pemerintah Brasil mendorong penggunaan etanol berbasis nira tebu untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak impor dan menstabilkan harga gula domestik.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari strategi hilirisasi yang kuat, mulai dari kebun tebu, pabrik pengolahan etanol, hingga sistem distribusi dan stasiun pengisian yang terintegrasi. Metode ini memberikan efisiensi maksimal, sehingga bisa dipasarkan dengan harga terjangkau.
“Bisnisnya kalau di sana antara kebun tebu, pabrik gula, pabrik etanol jadi satu perusahaan. Beda dengan di Indonesia, pabrik gula beda, pabrik etanol beda, itu yang membuat harganya jadi lebih mahal,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Lanjutnya, Amerika juga menghasilkan etanol dari Jagung yang tidak dikonsumsi atau sisa hasil pakan ternak. Sementara di Swedia, etanol dihasilkan dari gandum. Sedangkan Prancis, etanol dari anggur yang tidak dijadikan wine.
Indonesia menurutnya bisa memanfaatkan molase dari berbagai sumber seperti singkong, hingga riset terbaru dari sorgum nira aren. "Paling gampang fermentasi gula dari nira. Kalau tidak ada gula, beralih ke pati seperti singkong, jagung, ada yang lain karena bisa dipecah jadi gula," terangnya.
Bicara bioetanol, bahan bakar hayati ini sejatinya diciptakan untuk mengurangi emisi karbon. Sebab, ia merupakan energi terbarukan yang diciptakan dari hasil pengolahan tumbuhan.
"Etanol bersifat renewable. Ketika etanol digunakan di mobil, maka mobil akan menghasilkan CO2. Tapi CO2 itu bisa diserap lagi oleh tanaman, kemudian tanaman akan diolah lagi menjadi etanol. Jadi bisa dibilang tidak ada penambahan emisi CO2 di lingkungan," tuntasnya.
ADVERTISEMENT
