Tesla Tergeser, BYD Pimpin Pasar Mobil Listrik Eropa

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal Cargo BYD Changzhou untuk ekspor mobil BYD dari China. Foto: Dok. BYD
zoom-in-whitePerbesar
Kapal Cargo BYD Changzhou untuk ekspor mobil BYD dari China. Foto: Dok. BYD

Untuk pertama kalinya, raksasa otomotif asal China BYD Auto sukses menyalip penjualan mobil listrik lansiran Tesla di pasar Eropa. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, tak terkecuali sosok pendiri perusahaan itu sendiri Elon Musk.

Laporan JATO Dynamics lewat Reuters, salah satu hal utama yang membuat penjualan BYD Auto sukses melampaui Tesla adalah produk yang ditawarkan. Tesla dikenal masih memiliki model-model yang cukup berumur dan tanpa penyegaran signifikan.

Satu sisi, BYD Auto, yang juga menawarkan kendaraan elektrifikasi jenis lainnya berupa Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV, berhasil mendaftarkan 7.231 unit kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV). Sedangkan Tesla totalnya 7.165 unit.

Analis Global JATO Dynamics, Felipe Munoz mengatakan hasil tersebut menjadi tonggak penting untuk pasar mobil di negara-negara Eropa. Utamanya segmen BEV yang biasanya didominasi oleh merek Tesla.

Kapal Cargo BYD Changzhou untuk ekspor mobil BYD dari China. Foto: Dok. BYD

"Terutama jika Anda mempertimbangkan bahwa Tesla telah memimpin pasar BEV Eropa selama bertahun-tahun, sementara BYD baru secara resmi memulai operasi di luar Norwegia dan Belanda pada akhir tahun 2022," kata Munoz.

Permintaan kendaraan listrik di Eropa tetap stabil. Pendaftaran BEV melonjak sebesar 28 persen pada bulan April dari tahun lalu, sebagian besar didorong oleh merek mobil Tiongkok. Kendati Uni Eropa menetapkan tarif tinggi untuk BEV asal China.

Buktinya, ada peningkatan 59 persen selama bulan ke-4 tahun 2025 kemarin dibandingkan periode serupa tahun lalu. Sementara merek kendaraan asal Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat mencatat pertumbuhan sebesar 26 persen.

Warga gelar unjuk rasa terkait peran Elon Musk di pemerintahan Presiden AS Donald Trump, di luar dealer Tesla di Palo Alto, California, AS 5 Maret 2025. Foto: REUTERS/Carlos Barria

Masalah selanjutnya adalah soal pandangan dan keberpihakan politik yang diemban Elon Musk. Manuver ini menjadi pemicu gelombang protes terhadap dirinya dan tentu saja hal yang menyangkut pribadi miliarder itu, apalagi kalau bukan Tesla.

Ya, Tesla harus merasakan imbasnya dengan penurunan penjualan di beberapa wilayah. Selain itu konsumen mereka dan jaringan dilernya harus dihadapkan pula dengan aksi kekerasan hingga vandalisme dari orang-orang yang tidak menyukai Elon Musk.

Belum lagi penghentian produksi untuk merombak pabrik guna membuat model crossover Tesla Model Y yang didesain ulang secara global menyebabkan penurunan produksi dan penjualan pada kuartal pertama.

Pengamat juga mengaitkan penurunan penjualan disebabkan karena tidak sedikit calon konsumen menantikan produk anyar Tesla dengan harga lebih murah berdasarkan rumor-rumor yang beredar di masyarakat atau internet.