Thailand Kasih Subsidi Mobil Listrik hingga Rp 62 Jutaan, Indonesia?
ยทwaktu baca 3 menit

Pemerintah Thailand telah menyetujui paket subsidi sebesar 2,9 miliar baht atau setara Rp 1,2 triliun, guna memacu pertumbuhan penjualan mobil listrik. Ini sebagai upaya menjadikan Thailand sebagai hub manufaktur kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Subsidi tersebut akan memangkas harga mobil listrik sekitar 18 ribu hingga 150 baht atau Rp 7,4 sampai Rp 62 jutaan. Penerapannya untuk produk yang dirakit lokal maupun impor utuh, juga termasuk segmen pikap dan motor listrik, mengutip Bangkok Post.
Adapun pemberian subsidi kendaraan listrik itu diklasifikasikan dengan syarat:
1. Mobil listrik di bawah Rp 821 juta yang kapasitasnya di bawah 10 penumpang dengan syarat:
Kapasitas baterai 10-30 kWh akan menerima subsidi sebesar Rp 28 jutaan
Kapasitas baterai di atas 30 kWh akan menerima subsidi Rp 62 jutaan
2. Pikap listrik dengan baterai di atas 30 kWh, diproduksi dan dijual dengan harga kurang dari Rp 821 juta akan menerima subsidi Rp 62 jutaan
3. Motor listrik yang harganya tidak lebih dari Rp 62 jutaan akan mendapat subsidi Rp 7,4 jutaan.
Pabrikan dan importir yang bakal menjual kendaraan listrik harus lapor ke Departemen Cukai di sana, guna memvalidasi struktur harga jual, sehingga memastikan subsidi yang dikucurkan tepat.
Kejar target produksi mobil listrik 2030
Adapun strategi ini merupakan bagian dari visi misi Thailand menjadi pusat produksi mobil dan motor listrik di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah pabrikan pun telah menanamkan investasi untuk sektor kendaraan berbasis baterai termasuk Toyota Motor Corporation, Foxconn Technology Group, dan Great Wall Motor Co.
Thailand menargetkan setengah dari total produksi mobil di sana merupakan kendaraan dalam kategori Zero-Emission Vehicles (ZEV) atau produk-produk yang tidak menghasilkan emisi karbon.
Kemudian puncaknya pada 2035, Thailand diharapkan sudah 100 persen memproduksi kendaraan listrik, sesuai target National Electric Vehicle Policy Committee yang digagas pemerintah Thailand.
Bagaimana Indonesia?
Indonesia meskipun pemerintahnya terus menggelorakan kendaraan listrik, namun pertumbuhan pasarnya belum terlalu signifikan, demikian mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
Data berbicara, pertumbuhan elektrifikasi yang terdiri model hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), dan mobil listrik baterai (BEV) periode Januari hingga Juli 2022 hanya tumbuh 0,5 persen, bila dibanding kurun waktu serupa tahun lalu.
"Target (penjualan mobil listrik) belum dipisahkan antara EV dan lain, tapi kami menuju ke sana, lihat saja angka penjualan dari tahun ke tahun naik, tidak hanya BEV, tapi HEV dan PHEV, pasti naik terus," ungkap Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto saat ditemui kumparan belum lama ini.
Adapun Indonesia sejatinya juga telah mencanangkan target 20 persen dari total unit mobil yang terjual merupakan kendaraan elektrifikasi pada 2025. kemudian pada 2030, targetnya meningkat menjadi 600 ribu unit dari total produksi 3 juta unit.
Soal dorongan penjualan, sebenarnya juga sudah dikucurkan oleh pemerintah kepada pabrikan dan konsumen lewat insentif fiskal seperti pembebasan bea masuk dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM). Di beberapa daerah, kendaraan listrik tidak dikenakan bea balik nama alias nol.
Bank Indonesia juga telah memberi lampu hijau pembelian mobil listrik melalui uang muka 0 persen. PLN juga juga menawarkan diskon pengecasan di malam hari hingga 30 persen.
Sayangnya belum ada subsidi atau potongan harga dari pemerintah lain yang membuat harga mobil listrik semakin menarik. Harganya masih relatif tinggi di atas Rp 600 jutaan. Namun menariknya ada disrupsi dari Wuling yang menghadirkan mobil listrik murah di bawah Rp 300 juta.
