VinFast Sukses Catat Penjualan 100 Ribu Mobil Listrik di Vietnam

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: VinFast
zoom-in-whitePerbesar
Pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: VinFast

Pabrikan mobil asal Vietnam, VinFast, melaporkan penjualan 103.884 mobil listrik (EV) dalam tiga kuartal pertama tahun 2025. Jumlah ini berhasil melampaui penjualan mereka pada tahun sebelumnya.

"Di balik angka lebih dari 100.000 kendaraan terdapat jutaan tindakan kepercayaan dan dukungan dari pelanggan kami," kata Duong Thi Thu Trang, Wakil CEO global bidang penjualan dan pemasaran VinFast, dalam keterangan resminya.

Adapun, model yang paling banyak diniagakan adalah city car VF 3 dan VF 5. Perusahaan mengatakan angka penjualan tersebut menunjukkan bahwa mereka belum terkalahkan di pasar lokal. Mereka menargetkan akan mencapai penjualan yang lebih mengesankan jelang akhir tahun ini.

"Indikator kuat bahwa kendaraan listrik telah menjadi tren mobilitas utama di Vietnam," imbuh perusahaan.

Seremoni penyerahan perdana mobil listrik VinFast VF 3 ke konsumen Indonesia (20/4/2025). Foto: Sena Pratama/kumparan

Penjualan VinFast pada Januari–September 2025 sudah melebihi 87.000 unit mobil setrum yang mereka jual sepanjang tahun 2024, saat pertama kalinya jenama EV menjadi yang terlaris di pasar otomotif Vietnam.

Penjualan tahun 2024 perusahaan juga telah mengungguli Toyota yang mendistribusikan 66.576 unit mobil. Sebagian besar penjualan jenama Jepang ini didominasi mesin pembakaran internal (ICE).

VinFast menyatakan, 28 persen mobil yang terjual tahun lalu ditujukan kepada Green and Smart Mobility (GSM), perusahaan taksi afiliasi yang tergabung dalam Vingroup.

Sementara itu, data dari Asosiasi Produsen Mobil Vietnam (VAMA) memaparkan tren yang sedikit berbeda. VAMA melaporkan peningkatan penjualan sebesar 6 persen year on year (yoy) menjadi 205.125 unit mobil dalam tiga kuartal pertama tahun 2025.

VinFast VF 5 di GJAW 2024. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Transaksi tersebut utamanya didorong oleh permintaan truk dan bus. Namun, penjualan mobil penumpang turun 3 persen menjadi 139.250 unit. Perlu dicatat, angka VAMA ini tidak termasuk penjualan VinFast.

Diketahui VinFast telah menjalin hubungan erat dengan Pemerintah dan mengelola jaringan pengisian daya terbesar di Vietnam, negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat, sebagaimana dilaporkan Nikkei Asia.

Jaringan ini hanya bisa digunakan oleh kendaraan VinFast alias tertutup bagi jenama asing. Langkah tersebut mirip strategi awal yang diterapkan Tesla di Amerika Serikat (AS) sebelum akhirnya membuka akses bagi jenama EV lain untuk mendukung tujuan keberlanjutan yang lebih luas.

Meski sukses di dalam negeri, VinFast belum berhasil menarik banyak pelanggan di AS maupun Eropa. Mereka kembali mengalihkan fokus ke pasar Asia dan sekarang sedang membangun pabrik di India serta Indonesia.

Deretan mobil taksi dari Vietnam, Xanh SM, menggunakan mobil listrik VinFast. Foto: Aditya Niagara/kumparan

GSM sendiri telah meluncurkan layanan taksinya di Indonesia, Filipina, dan Laos. Namun, sulit bagi VinFast untuk meniru keunggulan yang dimilikinya di kampung halaman, misalnya kemampuan menawarkan EV bersamaan dengan pembelian properti dari Vingroup.

Alasannya, Pham Nhat Vuong, seorang konglomerat dan miliarder terkaya Vietnam, juga menjalankan bisnis properti sehingga memberikan VinFast keuntungan unik yang sulit ditiru di pasar luar negeri.

Lebih lanjut, tarif yang diberlakukan pemerintah Vietnam telah membatasi impor mobil. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Hanoi akan mencabut tarif untuk produk asal AS meski hal ini belum dikonfirmasi oleh pihak Vietnam.

Motor listrik buatan pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Pada September tahun 2025, Vietnam mengimpor 136 mobil dari AS yang setara dengan 40 persen dari total impor mobil AS tahun ini. Untuk perbandingan, pada bulan yang sama Vietnam mengimpor 4.095 mobil dari Tiongkok, sementara VinFast menjual 13.914 unit mobil di pasar domestik.

Selain mobil, VinFast juga memproduksi skutik setrum dan sukses meniagakan 70 ribu unit di tahun 2024. Hal ini membuat perusahaan optimis akan pertumbuhan kendaraan roda dua. Pemerintah setempat dikabarkan akan melarang motor bermesin bensin di pusat kota Hanoi pada Juli 2026 mendatang.

Di sisi lain, penjualan VinFast yang terus meningkat tak membuat mereka untung. Perusahaan masih mencatat kerugian hingga kuartal kedua sebesar USD 812 juta (setara Rp 13,4 miliar) karena mempercepat upaya untuk mencapai target pertumbuhan. Tahun lalu, kerugian mereka tercatat sebesar USD 3,2 miliar (sekitar Rp 13 triliun).