Kumparan Logo
Hati-hati keuangan pasca-Lebaran
Hati-hati keuangan pasca-Lebaran

Strategi Bertahan Usai Lebaran: Cermat Atur Duit di Tengah Ketidakpastian Global

kumparanPLUSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kantong kosong salah siapa? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kantong kosong salah siapa? Foto: Shutterstock

Dompet tipis, siasat berlapis. Sebagian orang memilih bijak membelanjakan THR di momen Lebaran kemarin agar anggaran tak habis. Mereka memilih menyisihkannya; menimbang ketidakstabilan ekonomi global akibat eskalasi perang di Timur Tengah.

***

Sarah beruntung. Dia tidak harus mudik sehingga bisa menyisihkan THR-nya untuk dana ‘jaga-jaga’.

Suaminya asli Jawa, sementara Sarah Betawi tulen. Meski keluarga suaminya berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, kebanyakan sudah menetap di Jakarta sehingga kumpul keluarga tak harus ke kampung.

Situasi tersebut disyukuri Sarah, sebab dia tak harus mengeluarkan uang untuk mudik. Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat kerjanya tidak dihabiskan untuk belanja, tapi disimpan sebagai dana penyangga keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi.

Biasanya, pada lebaran-lebaran sebelumnya, Sarah mengalokasikan THR-nya 100% untuk berbagai keperluan dan tetek bengek Lebaran, dari membeli baju baru, hamper, hingga angpau untuk para ponakan.

Namun tahun ini berbeda. Sarah lebih hati-hati membelanjakan THR-nya. Ia sadar perang berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah lambat laun akan mempengaruhi kondisi dapur dan dompet keluarganya.

THR Lebaranmu buat apa? Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sarah dengan sangat bijak mengatur pengeluaran: uang hanya dibelanjakan untuk hal yang benar-benar dianggap penting dan prioritas. Ia bahkan hanya menggunakan 25% uang THR-nya pada Lebaran tahun ini.

“Kalau tahun lalu, pas aku dapat THR dari kantor, itu hampir 100% aku spend untuk keperluan Lebaran. Bener-bener gede-gedean tuh. Ngasih saudara-saudara—semua dikasih. Orang tua dikasih parsel; untuk anak-anaknya kita kasih uang baru, THR,” kata Sarah kepada kumparan, Kamis (27/3).

Sarah dan suaminya sepaham untuk menekan pengeluaran secara efisien agar tak kelabakan bila memburuknya situasi ekonomi tak terhindarkan. Sebagai pekerja swasta, Sarah paham mengenai ancaman lonjakan harga pasca-Lebaran hingga isu-isu kelangkaan minyak alias BBM.

“Aku jadi nyetok bahan-bahan itu sejak awal puasa,” kata dia.

Berbelanja di Pasar Senen. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kewaspadaan serupa dirasakan Nisa (30), seorang pekerja media. Seperti Sarah, ia menekan bujet Lebaran dan mengirit-irit penggunaan THR.

THR hanya ia gunakan untuk membeli tunik, baju koko, dan beberapa keperluan untuk keluarga lansia. Sementara sisa 50%-nya langsung dimasukkan ke pos dana darurat.

kumparan post embed

Untuk menyiasati biaya mudik ke Cilacap dan Tegal, Nisa menggunakan program gratis dari lembaga swasta. Cara ini membantu menekan ongkos yang biasa mencapai Rp 2,5 juta untuk pulang-pergi.

Selama di kampung, Sarah dan Nisa pun tidak mampir ke tempat wisata. Selain untuk menghindari kemacetan, prinsip berhemat di tengah situasi ekonomi yang tak pasti jadi pemicu utama. Mereka mengetatkan ikat pinggang untuk napas yang lebih panjang.

“Pengetatan pengeluaran kami lakukan sejak awal Ramadan di sektor konsumsi pangan. Kami berusaha untuk lebih sering masak daripada beli atau makan di luar,” ujar Nisa.

Siap-Siap Dana Darurat

Dana darurat. Ilustrasi: Shutterstock

Nisa dan Sarah berharap dijauhkan dari kekacauan ekonomi. Sadar bahwa mereka tak punya kendali atas situasi ekonomi makro, yang bisa dilakukan adalah bersiap: membekali diri menghadapi situasi terburuk.

Nisa menyiapkan “penyangga” dengan menabung pendapatan bulanan. Setengah penghasilannya bersama suami dialokasikan untuk dana darurat meski kondisi mereka masih baik-baik saja—kendaraan menyala karena bensin aman, dan harga bahan pokok masih dalam batas wajar.

Namun, Nisa tetap waswas. Ia berkata, “Kekhawatirannya kalau kondisi ekonomi makro yang buruk berdampak ke industri tempat kami kerja. [Kalau itu terjadi], imbasnya akan banyak PHK.”

Ia menyambung, “Kami juga cemas kalau sewaktu-waktu kena PHK dengan alasan efisiensi atau krisis apa pun.”

Para pekerja mencemaskan badai PHK bila kondisi ekonomi memburuk. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Rasa cemas yang menghantui Nisa dan Sarah dipahami oleh Mike Rini. Perencana keuangan sekaligus founder dan CEO Mitra Rencana Edukasi itu menyebut, ketegangan geopolitik saat ini memang menambah kekhawatiran masyarakat terkait kondisi keuangan mereka. Padahal, sebelum ini pun mereka sudah dibayangi inflasi dan ancaman PHK.

Mike menggambarkan kondisi saat ini sebagai periode financial distress, yakni masa yang membuat orang merasa tak berdaya.

“[Banyak orang] merasa tidak ada jalan keluar karena sudah nggak bisa nabung, [dan akan] makin nggak bisa nabung,” kata Mike.

Kondisi ekonomi yang tak menentu ini kerap memicu fenomena money avoidance. Jadi, alih-alih merencanakan keuangan, sebagian orang justru lari dari kenyataan dan enggan mengevaluasi dompetnya.

Kegawatan bertambah karena uang THR lalu dialihfungsikan sebagai painkiller atau pereda stres yang mendorong masyarakat untuk belanja konsumtif. Inilah yang dihindari Sarah dan Nisa. Mereka menerapkan konsep delayed gratification, yakni menunda kepuasan sesaat demi mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa depan, contohnya keamanan finansial.

Perencanaan keuangan. Ilustrasi: Shutterstock

Poin pertama dalam praktik delayed gratification adalah melihat lagi (revisit) keuangan keluarga. Dalam hal ini, membuat catatan keuangan sangat membantu untuk mengidentifikasi pengeluaran rutin.

Dari pengeluaran yang sudah teridentifikasi itu, kita dapat mengklasifikasikan jenis-jenis pengeluaran dan membuat pos-pos anggaran rumah tangga.

“Dulu, zaman saya [muda], 30% untuk menabung, 10–15 persen untuk asuransi dan cicilan utang, dan sisanya untuk living cost,” kata Mike.

Catatan keuangan menghindarkan seseorang dari praktik money avoidance alias lari dari kenyataan finansial yang tak baik. Mike lantas mencontohkan hasil revisit keuangan yang ia maksud: Jika pengeluaran jajan dikumpulkan dalam sebulan, hasilnya ternyata 10% dari total pengeluaran. Biaya ini bisa dialokasikan ke pos anggaran lain yang lebih urgen, atau bahkan diendapkan (tak dipakai) sebagai dana darurat.

“Intinya kita disiplin mencapai tujuan keuangan, dengan membangun kebiasaan untuk mengutamakan yang prioritas dibanding yang tidak prioritas,” ujar Mike.

Financial planner Mike Rini. Foto: Dok. Lipsus kumparan

Poin kedua dari delayed gratification ialah dengan mendiversifikasi penghasilan sehingga tidak hanya bergantung dari satu sumber. Tujuannya: untuk memperkuat dana darurat dan menghindari ketergantungan pada satu sektor.

Poin ketiga yang tak kalah krusial adalah memastikan asuransi kesehatan, minimal BPJS, aktif. Jangan sampai tabungan yang susah payah dikumpulkan ludes mendadak akibat menanggung biaya sakit mandiri.

Mike menyarankan masyarakat memangkas duit jajan harian—yang biasa habis untuk kopi atau camilan—untuk membayar BPJS Kesehatan.

video youtube embed

Dari sisi sosiologis, sosiolog UGM Derajad Sulistyo mengimbau masyarakat untuk menahan gaya hidup dan perilaku konsumtif.

“Berperilaku hemat sekarang menjadi urgen, dan itu dimulai dari rumah tangga,” tegas Derajad.

Ia menyebut, masyarakat akan berganti ke mode survival pasca-Lebaran, sebab tabungan menipis dan biaya hidup meningkat. Terlebih, perang di Timteng berpotensi memukul industri besar.

“Ketika industri besar kolaps, bisa jadi mereka akan melakukan PHK. Nah, kalau tidak dimonitor dengan baik, PHK itulah yang membahayakan kehidupan masyarakat pasca-Lebaran,” ujar Derajad.

Warga berbelanja di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang. Foto: Aprillio Akbar/ANTARA

Di tengah ketidakpastian ekonomi globat saat ini, Derajad optimistis sebagian besar masyarakat mampu bertahan, terutama mereka yang berkecimpung di sektor ekonomi informal di akar rumput.

Pada level yang lebih dalam, masyarakat ekonomi informal tersebut tidak hanya mentransaksikan uang, tapi juga barang—tradisi yang berlandaskan prinsip barter dan gotong royong.

Interaksi ekonomi informal itu menjadi kekuatan yang tak masuk hitungan resmi negara.

“Yang diakui (dicatat) negara kan yang ekonomi formal, sehingga mungkin di atas kertas perputaran ekonomi kita terlihat melemah, tapi sebenarnya kekuatan ekonomi sosial kita itu kuat,” kata Derajad, yakin.

Jadi, mari berhati-hati atur duit pasca-Lebaran. Ilustrasi: Basith Alif/kumparan