kumparan
10 Okt 2019 10:40 WIB

3 Ilmuwan Pengembang Baterai Lithium Raih Hadiah Nobel Kimia 2019

Medali hadiah Nobel. Foto: Adam Baker via Flickr.
Hadiah Nobel Kimia 2019 jatuh kepada tiga ilmuwan yang mengembangkan baterai Lithium-ion atau Li-ion. Mereka adalah John B. Goodenough dari University of Texas at Austin, M. Stanley Whittingham dari Binghamton University, dan Akira Yoshino dari Meijo University.
ADVERTISEMENT
Ketiga peneliti itu berhak atas hadiah sebesar 9 juta kronor atau sekitar Rp 12 miliar untuk dibagi bersama. Kabar gembira ini disampaikan oleh Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm pada Rabu (9/10).
Salah satu peneliti, Goodenough, kini menjadi ilmuwan tertua dalam sejarah yang pernah meraih Hadiah Nobel. Ia mendapatkan Hadiah Nobel ini di usia 97 tahun.
Para pengembang baterai lithium-ion memang telah lama digadang-gadang menjadi pemenang Hadiah Nobel. Ini karena baterai ini terbukti sangat penting bagi dunia teknologi sekarang.
"Mereka telah meletakkan dasar bagi masyarakat bebas bahan bakar fosil, dan telah memberikan manfaat besar bagi umat manusia," papar Royal Swedish Academy of Sciences, dilansir The Guardian.
Stanley Whittingham, ilmuwan pengembang baterai lithium-ion yang meraih Hadiah Nobel Kimia 2019. Foto: Sebastian Gollnow/dpa via AP
Baterai lithium-ion jauh lebih ringan dan kokoh dibanding jenis baterai pendahulunya. Baterai ini bisa bertahan lebih lama, dan ditemukan di mana-mana, mulai dari ponsel, laptop, sampai mobil listrik.
ADVERTISEMENT
"Baterai mobil listrik tidak lagi seberat dua ton, tapi hanya 300 kilogram saja," ujar Sara Snogerup Linse, anggota Komite Nobel Kimia, memuji Lithium-ion.
"Kemampuan untuk menyimpan energi dari sumber terbarukan, seperti Matahari dan angin, membuka jalan agar masyarakat bisa mengonsumsi energi bersih," lanjut dia.
Akira Yoshino, ilmuwan pengembang baterai lithium-ion yang meraih Hadiah Nobel Kimia 2019. Foto: AP Photo/Koji Sasahara
Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times awal tahun ini, Goodenough sempat merendah atas temuannya itu. Goodenough mengatakan bahwa ia tidak menyangka temuannya akan berdampak begitu besar pada dunia.
"Ketika kami mengembangkan baterai, itu hanya seperti melakukan sebuah pekerjaan biasa," kata dia.
"Saya sama sekali tidak tahu apa yang akan para insinyur teknik elektro lakukan dengan baterai itu. Saya benar-benar tidak menduga itu digunakan pada ponsel, kamera video, dan lainnya," sambung Goodenough.
John B. Goodenough, ilmuwan pengembang baterai lithium-ion yang meraih Hadiah Nobel Kimia 2019. Foto: AP Photo/Alastair Grant
Lucunya, Goodenough sedang tidur ketika Hadiah Nobel diumumkan. Ia baru mengetahui kemenangannya ketika koleganya, Profesor Maria Helena Braga dari Porto University, datang ke kamarnya untuk memberi tahu kabar bahagia itu.
ADVERTISEMENT
"Hidup itu memang penuh dengan kejutan," ujar Goodenough yang tak menyangka memenangkan Hadiah Nobel di usia lanjutnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan