Kumparan Logo

Alasan Wabah Virus Mematikan Selalu Dimulai dari Asia dan Afrika

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas medis berpakaian hazma merawat pasien di salah satu rumah sakit di Wuhan, China. Foto: China Daily via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Petugas medis berpakaian hazma merawat pasien di salah satu rumah sakit di Wuhan, China. Foto: China Daily via REUTERS

Sudah 80 negara yang dikonfirmasi terkena wabah virus corona. Sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 100 ribu orang di seluruh dunia, dengan 3.491 orang di antaranya meninggal dan 57.462 orang dinyatakan sembuh per Sabtu (7/3).

Meski epidemi telah muncul sepanjang sejarah manusia, disadari atau tidak, dalam 20 tahun terakhir virus corona telah memukul tiga kali penduduk dunia. Dimulai dengan SARS-CoV, MERS-CoV, dan yang terbaru SARS-CoV-2. Yang lebih memprihatinkan, durasi antara ketiganya semakin pendek.

Suresh V Kuchipudi, seorang ahli virus yang juga direktur asosiasi dari Animal Diagnostic Laboratory at Penn State University, telah lama mempelajari virus zoonosis, yakni virus yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Menurutnya, sebagian besar pandemi memiliki setidaknya satu kesamaan: Wabah dimulai dari Asia atau Afrika. Apa alasannya? Suresh menjabarkan menjadi tiga poin penting, yakni urbanisasi, pertanian subsisten dan pasar hewan, serta masalah waktu.

Ledakan populasi dan perubahan wilayah kota

Tingkat urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota yang sangat tinggi menjadi salah satu faktor mengapa banyak penyakit berawal dari Asia dan Afrika. Urbanisasi yang sangat cepat terjadi di seluruh wilayah Asia dan Pasifik.

Petugas mengenakan kostum pelindung di apartemen tertutup setelah 46 penduduk dipastikan terjangkit virus corona, di Daegu, Korea Selatan, Sabtu (7/3). Foto: AFP/YONHAP

Menurut World Bank, hampir 200 juta orang penduduk di Asia Timur melakukan urbanisasi ke perkotaan selama dekade pertama abad ke-21. Ini ibarat manusia sedang membentuk negara dengan jumlah penduduk terpadat di dunia.

Migrasi dengan skala tersebut bisa menimbulkan pembebasan lahan hutan untuk dijadikan permukiman. Memaksa hewan-hewan liar bergerak lebih dekat ke perkotaan, menjadikan manusia dan hewan liar ada dalam satu lingkup yang sama.

Hewan diketahui memiliki beberapa virus berbahaya. Kelelawar, misalnya, yang bisa membawa ratusan virus di dalam tubuhnya. Ia berpotensi menyebarkan virus-virus itu ke hewan lain melalui feses atau liur, dan tentu menularkannya ke manusia.

Pada akhirnya, urbanisasi ekstrem ini menjadi lingkaran setan. Semakin banyak manusia datang ke suatu tempat, semakin tinggi risiko terjadinya deforestasi dan ekspansi. Ini bisa menyebabkan hilangnya habitat para predator alami, termasuk hewan-hewan pemburu tikus.

Hilangnya predator alami membuat populasi tikus akan meledak, menyebabkan ekosistem di daerah tersebut tidak terkendali. Demikian pula yang terjadi pada risiko penyakit zoonosis.

embed from external kumparan

Pertanian subsisten dan pasar hewan

Daerah tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati inang virus telah melahirkan banyak patogen, dan munculnya patogen baru adalah hal yang sangat mungkin terjadi.

Penduduk Asia dan Afrika, banyak yang bergantung penghidupannya pada pertanian dengan jumlah ternak yang sangat terbatas. Pertanian subsisten adalah pertanian swasembada di mana petani hanya fokus pada usaha membudidayakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup untuk mereka sendiri dan keluarga.

Pengendalian penyakit, suplementasi pakan, dan kandang hewan sangat terbatas di Asia dan Afrika. Sapi, ayam, dan babi, yang berisiko menularkan penyakit endemik hidup secara berdampingan dengan rumah penduduk.

Bukan hanya pertanian, pasar-pasar hewan di Asia dan Afrika kerap menampilkan kondisi ramai, di mana hewan yang dijajakan bergumul dengan manusia yang mengerumuninya. Ini juga memainkan peran penting dalam penyebaran patogen berbahaya antarspesies.

Ironisnya, kedua benua ini juga sering menjajakan makanan-makanan ekstrem dari hewan liar. Penduduk Afrika dan Asia kerap memburu hewan liar untuk dijadikan santapan. Selain menjadi sumber penularan penyakit zoonosis, kegiatan ini jelas juga bisa merusak ekosistem.

Petugas kesehatan membawa mayat korban Ebola untuk dimakamkan di pemakaman di Freetown, Sierra Leone, 21 Desember 2014. Foto: Reuters/Baz Ratner

Begitupun dengan obat-obatan yang sering dibuat dari hewan-hewan liar, yang banyak ditemukan di China. Kendati belum ada bukti besar tentang klaim ini, Negeri Tirai Bambu itu telah menjadi konsumen terbesar obat-obatan tradisional.

Harimau, beruang, badak, trenggiling dan spesies hewan lainnya direbus dan tubuhnya dicampur dengan obat. Mereka yakin hewan-hewan tersebut bisa mengobati sejumlah penyakit, seperti radang sendi, epilepsi, hingga disfungsi ereksi. Pemasaran obat tradisional ini diprediksi akan naik, mengingat tren penjualan online semakin melonjak seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi di Asia.

Masalah waktu

Seiring dengan berjalannya waktu, virus terus mengembangkan kemampuan dengan cara bermutasi. Menurut Suresh, munculnya wabah baru di Asia dan Afrika hanya masalah waktu.

Begitu juga dengan pertanyaan kapan COVID-19 berhenti, ini juga masalah waktu. Sulit untuk memprediksi apa penyebab utama wabah bisa terjadi. Namun yang pasti, risiko-risiko ini dapat dikurangi dengan cara meminimalisir ekspansi manusia yang bisa mengganggu ekologis.

“Ada kebutuhan mendesak akan strategi konservasi yang konstruktif untuk mencegah deforestasi dan mengurangi interaksi antara hewan dan manusia. Sistem pengawasan global yang komprehensif untuk memantau munculnya penyakit akan sangat diperlukan dalam membantu kita memerangi epidemi yang mematikan,” papar Suresh, seperti dikutip IFL Science.

embed from external kumparan