Kumparan Logo

Anak Nurul Arifin Meninggal karena Henti Jantung, Ini Gejala dan Penyebabnya

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah keluarga dan kerabat saat melayat di rumah duka Maura Magnalia Widyaratri, anak dari Nurul Arifin, di kediamannya di Puri Cinere, Depok, Selasa, (23/1/2022). Foto: Agus Apriyanto
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah keluarga dan kerabat saat melayat di rumah duka Maura Magnalia Widyaratri, anak dari Nurul Arifin, di kediamannya di Puri Cinere, Depok, Selasa, (23/1/2022). Foto: Agus Apriyanto

Maura Magnalia Madyaratri, anak dari Wakil Ketua Umum Golkar Nurul Arifin, meninggal dunia dalam usia 27 tahun pada Selasa (25/1). Menurut keterangan ayah almarhumah, Mayong Suryo Laksono, putrinya meninggal karena henti jantung.

"Sebab penyakitnya adalah henti jantung," kata Mayong dikutip dari Antara.

Mayong mengatakan, keluarga sempat membawa Maura ke rumah sakit sekitar pukul 05.00 WIB. Namun Maura dinyatakan meninggal pukul 05.37 WIB.

Menurut Mayong, kondisi sang putri memang sudah drop karena kurang istirahat karena mempersiapkan wisuda yang akan dilaksanakan pada Maret mendatang di Sydney University.

"Dia tidak tidur, lagi mengurusi wisudanya dari Sydney University, baru selesai S2," ujar Mayong. "Kemudian dia juga melamar kerja, mungkin karena stres beberapa hari tidak tidur, ya begitulah. Ternyata ada beberapa hal yang tidak bisa dideteksi oleh kita semua.”

Berita duka Maura Magnalia Madyaratri. Foto: Instagram/@na_nurularifin

Lantas, apa penyebab terjadinya henti jantung?

Dijelaskan Mayo Clinic, henti jantung atau cardiac arrest terjadi ketika jantung berhenti memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga menyebabkan gangguan pernapasan dan kehilangan kesadaran diri secara mendadak. Henti jantung tidak sama dengan serangan jantung, yang terjadi ketika aliran darah yang menuju jantung tersumbat.

Tapi perlu diketahui, serangan jantung dapat memicu gangguan yang menyebabkan terjadinya henti jantung. Jika tidak segera ditangani, henti jantung bisa menyebabkan kematian.

Adapun gejala henti jantung di antaranya:

  • Tiba-tiba kolaps

  • Tidak ada denyut di pembuluh nadi

  • Berhenti bernapas

  • Hilang kesadaran

Gejala juga biasanya diawali dengan:

  • Rasa tidak nyaman di dada

  • Sesak napas

  • Kelelahan atau lemas

  • Jantung berdebar cepat

Perlu diingat, henti jantung sering kali muncul secara tiba-tiba alias tanpa peringatan. Ketika tanda-tanda di atas muncul atau seseorang mengalami henti jantung, segera hubungan pelayanan kesehatan terdekat. Kamu juga bisa melakukan pertolongan pertama dengan cara resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

Penyebab Henti Jantung

Penyebab utama henti jantung adalah irama jantung yang tidak normal (aritmia), ini terjadi ketika sistem kelistrikan jantung tidak bekerja dengan benar. Sistem kelistrikan jantung berperan dalam mengontrol laju dan ritme detak jantung.

Jika ada yang tidak beres, jantung bisa berdetak terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak teratur (aritmia). Aritmia seringkali terjadi secara singkat dan tidak berbahaya, tetapi beberapa di antaranya dapat menyebabkan henti jantung.

Ilustrasi seseorang terkena serangan jantung. Foto: Shutterstock

Irama jantung yang paling umum pada saat serangan jantung adalah aritmia di ruang bawah jantung (ventrikel). Impuls listrik yang cepat dan tidak menentu menyebabkan ventrikel bergetar sia-sia alih-alih memompa darah (fibrilasi ventrikel).

Henti jantung dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Namun, aritmia yang mengancam jiwa biasanya berkembang pada seseorang yang telah didiagnosis mengidap penyakit jantung, termasuk penyakit arteri koroner, serangan jantung, kardiomiopati, cacat jantung sejak lahir, penyakit katup jantung, masalah sistem kerja jantung.

Karena henti jantung sangat erat kaitannya dengan penyakit arteri koroner atau jantung koroner, ada baiknya kamu mengetahui faktor-faktor yang bisa memicu penyakit jantung koroner seperti:

  • Merokok

  • Tekanan darah tinggi

  • Kolesterol tinggi

  • Kegemukan atau obesitas

  • Diabetes

  • Gaya hidup tidak sehat