Kumparan Logo

Apa Sebenarnya Objek Hoaks yang Dikatakan Chemtrail Itu?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Contrails atau jejak pesawat di udara Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Contrails atau jejak pesawat di udara Foto: Shutter Stock

Netizen di Instagram dan Twitter beberapa hari terakhir ramai memperbincangkan objek kepulan asap di langit dan menyebutnya sebagai ‘chemtrail’. Akun penyebar hoaks sering menjual narasi bahwa chemtrail ini adalah racun yang disebar untuk membahayakan penduduk di tinggal di bawahnya.

Awan tersebut diketahui adalah asap dari pesawat atau contrail (condensation trail), yang sebenarnya tidak berbahaya, dan sudah banyak dijelaskan. Namun hoaks chemtrail ini terus bersirkulasi di masyarakat sejak lama, dan tidak pernah pupus.

“[contrail] ini merupakan hasil dari pengembunan udara dengan kadar air tinggi yang bergesekan dengan mesin pesawat” ujar Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah mengatakan kepada kumparanSAINS.

“Ada juga yang menyebutnya dengan vapor trails tapi jika bentuknya mulai berpendar atau melebar seperti awan biasa juga disebut dengan aviaticus cloud

Akun Twitter resmi TNI AU sendiri pernah memposting utas meluruskan hoaks chemtrail ini pada Juli 2021 lalu. Akun Twitter resmi TNI AU menjelaskan bahwa asap di ketinggian pesawat akan langsung ‘menggumpal’ karena suhu yang sangat dingin. Penggumpalan ini memiliki istilah kondensasi, di mana uap air yang dikeluarkan mesin pesawat berubah menjadi cair di udara.

X post embed

“Sebagai gambaran, suhu udara pada alt 15.000 kaki udara 0 derajat, setiap naik 2.000 kaki suhunya turun 1 derajat” tulis akun TNI AU. “Sehingga pada alt 35.000 kaki suhu udaranya -10 derajat”

Temperatur ini membuat uap yang dikeluarkan oleh jet pesawat langsung membeku, terlepas memiliki panas hampir 100 derajat Celsius ketika di mesin.

Dengan konsep fisika yang sama, yakni kondensasi, sebenarnya napas yang kita keluarkan juga bisa menjadi gumpalan awan. Namun dibutuhkan temperatur yang sangat dingin, dan tekanan yang juga rendah untuk membentuk awan yang bisa mempertahankan bentuk dalam waktu yang lama.

Thomas Jamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kepada kumparanSAINS menambahkan, “Jejak itu bertahan selama angin di atas belum membuyarkannya”.

Salah satu akun Instagram penyebar teori konspirasi, @t3eeelur memposting gambar dan video contrail ini dua hari lalu (14/2). Terpantau banyak komentar yang mendukung bahwa awan tersebut memang chemtrail yang sengaja dilepas malam hari “agar tidak ketahuan”.

Marsma Indan mengatakan agar masyarakat jangan mudah terjebak hoaks. Masyarakat bisa mengecek pesawat apa yang baru melintas di atas kita dan meninggalkan contrail dengan mengecek aplikasi penerbangan seperti flight radar.

“Saran saya untuk meningkatkan budaya literasi . . . saat ini bisa dengan mudah mengakses aplikasi untuk memonitor penerbangan, bisa juga masyarakat melihat aplikasi tersebut pada saat ada pesawat yang mengeluarkan contrail, untuk mengetahui identitas pesawat dan misi pesawat tersebut” jelas Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah.