Kumparan Logo

Bagaimana Main Game Bisa Pengaruhi Otak Manusia?

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-main game bareng (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
com-main game bareng (Foto: Thinkstock)

Bulan Juni lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan "gaming disorder" atau kecanduan main game sebagai salah satu penyakit. Pengumuman itu membuat para ahli terbagi dua, ada yang mendukung tapi ada juga yang memandang pernyataan itu dengan skeptis.

Sudah bertahun-tahun para peneliti mempelajari efek seseorang bermain game. Mereka berusaha menemukan kapan main game melewati garis batas antara hobi dengan ketagihan. Jadi apa saja yang sudah ditemukan para ahli?

Menurut Dr. Yawen Sun, ahli radiologi diagnostik di Ren Ji Hospital, Shanghai, China, gender seseorang mungkin berpengaruh pada kemungkinan seseorang menjadi ketagihan atau tidak. Ia juga menekankan peran penting kontrol impuls, yang diperlukan untuk menolak godaan, dalam hal tersebut.

"Para pria telah menunjukkan tingkat kontrol impuls yang lebih rendah dibandingkan para perempuan, yang kontrol impulsnya meningkat secara bertahap," ujar Sun sebagaimana dilansir Medical Daily.

com-Main Game Mobile 2 (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
com-Main Game Mobile 2 (Foto: Thinkstock)

Namun demikian, Sun mengatakan bahwa penyebabnya masih belum diketahui dengan jelas, apakah kondisi otak yang rentanlah yang bikin seseorang jadi ketagihan game, atau malah bermain game yang menyebabkan perubahan itu di otak.

Tapi ada sebuah riset dari California State University, AS, yang mendukung anggapan bahwa bermain video game memang menyebabkan otak ketagihan game. Riset itu menemukan bahwa video game dan media sosial membuat bagian otak yang bertugas memberikan penghargaan menjadi aktif.

Semua manusia juga mengalami hal tersebut, tapi mereka yang usianya masih mudah jauh lebih sensitif. Jadi praktik bermain game jika dibiarkan dan tak terkontrol bisa menyebabkan perubahan di otak yang membuat mereka lebih mudah ke jenis ketagihan lain, menurut riset tersebut.

Ilustrasi otak manusia. (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi otak manusia. (Foto: Shutterstock)

Sementara itu, ahli psikologi lain, seperti Dr. Michael Fraser dari New York, AS, berpendapat bahwa pelajar SMA yang menderita depresi, rasa cemas, dan gangguan belajar juga berisiko tinggi terkena ketagihan main game.

Oleh karena itu, ada beberapa ahli yang cenderung mengklasifikasikan bermain game secara berlebihan sebagai suatu mekanisme untuk mengatasi kesulitan mereka menghadapi gangguan kesehatan mental, dan bukan sebagai kelainan.

Selain itu, ada juga ahli yang menggarisbawahi bahwa video game bisa memberikan efek positif bagi otak. Mark Griffiths, profesor studi judi di Nottingham Trent University, Inggris, menjelaskan bahwa kita hanya perlu khawatir terhadap efek negatif video game ketika kita mulai bermain game secara berlebihan.

"Sangat sedikit bukti efek negatif yang serius pada kesehatan dari bermain game secukupnya," tulis dia di The Conversation.

Game Angry Birds 2. (Foto: Angry Birds)
zoom-in-whitePerbesar
Game Angry Birds 2. (Foto: Angry Birds)

Beberapa hasil riset menunjukan, bermain game seperti Angry Birds secukupnya bisa memberikan rasa rileks, meningkatkan mood, dan mengurangi rasa cemas. Bermain game genre penembak, petualangan, dan strategi bisa membantu meningkatkan waktu reaksi, kesadaran spasial, memori, penalaran, serta kemampuan lainnya.

Di samping itu, video game juga bisa dimanfaatkan para pengajar dan murid dalam hal pembelajaran. Contohnya, ada sebuah riset yang mengungkap bahwa game "Crystals of Kaydor" bisa membantu anak-anak menjadi lebih empati dengan orang lain.

Jadi bagaimana menurut kamu sendiri? Apakah bermain video game itu berefek negatif atau positif bagi dirimu?